Saturday, October 21, 2017

Temukan Nuansa Romantis di Sudut-sudut Kota Pahlawan Ini

Romantis memang bukan kata yang akan langsung tebersit di benak orang-orang saat mendengar Surabaya. Kota ini justru lebih identik dengan kesan gagah dan sangar. Selain jejak sejarah yang membuatnya mendapat julukan Kota Pahlawan, karakter masyarakatnya yang keras pun menjadi faktor yang tak kalah penting.

Akan tetapi, metropolitan di bagian timur Pulau Jawa ini juga dapat menciptakan nuansa romantis yang tak terlupakan. Jika Anda berencana untuk merayakan anniversary pernikahan atau mengingat kembali momen indah berdua bersama pasangan di Surabaya, beberapa tempat di bawah ini bisa jadi alternatifnya.

1.    Twin Lagoon Pakuwon City

Sumber: phinemo

Tak hanya romantis, tempat ini juga kerap menjadi spot favorit untuk berburu foto apik. Tidak jarang, sesi foto pre-wedding pun banyak dilakukan di sini.

Baca juga: Taman Pintar Yogyakarta, Kawasan Wisata Ramah Keluarga

Daya tarik tempat ini adalah taman asri dan danau dengan cukup banyak angsa di atasnya. Selain itu, bangunan berupa pilar-pilar tinggi dan berjejer melengkung yang menyerupai bangunan Yunani kuno tidak kalah menarik. Anda dapat sekadar berjalan-jalan santai di sini bersama pasangan saat pagi atau sore hari.

2.    Kenjeran Park

Jika Anda dan pasangan gemar bertualang dan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki keunikan tersendiri, Kenjeran Park adalah pilihan yang sayang untuk dilewatkan. Selain pantai, ada banyak objek wisata dengan budaya Tionghoa menarik di sini.

KenPark merupakan kawasan yang cukup luas. Di sini, Anda dapat menyaksikan Patung Budha Empat Wajah yang mirip patung Budha serupa di Thailand, mengunjungi Pagoda Tian Ti yang menyerupai bangunan serupa di Beijing, bermain di waterpark, wisata kuliner di Pecinan Kya-Kya, dan lain-lain.

3.    Surabaya North Quay

Surabaya North Quay merupakan tempat wisata sekaligus menongkrong baru favorit masyarakat Surabaya. Lokasinya berada di kawasan Tanjung Perak, tepatnya di lantai dua dan tiga gedung Gapura Surya Nusantara (GSN).

Dari sini, Anda akan dikelilingi oleh pemandangan laut yang indah. Tak heran, SNQ banyak dikunjungi terutama saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat hingga malam. Pada saat-saat tertentu, ketika ada kapal pesiar mewah yang bersandar, Anda pun bisa menyempatkan diri untuk masuk ke dalamnya—meski dalam waktu yang sangat terbatas.

4.    Restoran 1914

Tidak dapat dimungkiri, kegiatan yang paling identik dengan hal romantis adalah makan malam. Dengan suasana yang tidak terlalu ramai, sedikit remang-remang, dan masakan yang lezat tentu akan membuat obrolan dan canda Anda bersama pasangan menjadi semakin berkesan.

Restoran 1914 di Jalan Darmokali awalnya merupakan Pusat Kebudayaan Perancis. Suasana Eropa juga terasa masih cukup kental, mengingat bangunan ini adalah cagar budaya peninggalan sejarah. Kini, Anda dapat menemukan restoran bergaya Amerika, Mexico, dan Jepang serta beberapa bar di sini.

5.    Sky 36

Satu lagi tempat makan yang romantis di Surabaya adalah Sky 36. Berada di tempat teratas Apartemen 36 di Jalan Sumatra, rooftop restaurant ini menyajikan pemandangan kota yang sangat indah.

Bila cuaca cerah, pilihlah lokasi outdoor. Anda dapat menghabiskan waktu bersama pasangan saat senja dengan langit keemasan atau malam hari dengan permainan lampu kota yang melawan kegelapan. Bila tak ingin repot memilih sajian yang didominasi menu western, Anda dapat cukup memilih paket yang cukup variatif untuk berdua.

Baca juga: Diskon 80% Airy ROoms, Staycation Pertamaku


Itulah lima rekomendasi tempat romantis di Kota Pahlawan yang dapat Anda kunjungi bersama pasangan. Untuk urusan penginapan, Airy Rooms-lah rekomendasinya. Beragam hotel murah di Surabaya dengan lokasi strategis bisa Anda dapatkan hanya melalui sentuhan ujung jari pada gadget.

Anda dapat memilih hotel murah di Surabaya di situs resminya atau mobile apps Airy Rooms untuk platform Android dan iOS. Selain lebih cepat dan praktis, pembayarannya pun fleksibel: kartu kredit, bank transfer, atau di gerai Indomaret yang berada di mana-mana. Mudah, bukan?

Friday, October 20, 2017

Cetak Foto Jaman Dulu Vs Jaman Now

Hai teman-teman, adakah pembaca postingan saya ini yang pernah memegang klise atau negatif film? Itu lho, yang dulu kalau mau cetak foto dibawa ke tukang foto. Nah, jika kalian berasal dari generasi tahun 1990an, pasti pada tahu klise. Iya, benda yang berwarna hitam atau coklat tua yang bisa kita bawa ke outlet untuk cetak foto. Bahasa kerennya negative film.
sumber: http://kumpul-bacaan.blogspot.co.id
Dulu saat masih SD saya memiliki sebuah kamera manual bermerk Kodak. Tidak seperti sekarang dimana foto yang salah bisa dihapus, kalau pakai Kodak foto yang kita ambil nggak bisa dihapus. Seru deh pokoknya. Apalagi foto jaman dulu tuh kurang ekspresif karena nggak bisa melihat muka sendiri saat foto, takut salah ekspresi mending biasa aja. Hahaha.
Hasil cetak foto analog. Tidak seperti kids jaman now yang masih bayi sudah pandai berekspresi, anak jaman dulu ekspresinya datar saat difoto. Ya, takut salah kan nggak bisa diulang, hehehe
Seingat saya, harus beli film satu roll dulu isi 36 asa 200. Maksudnya isi 36, kita bisa foto hingga 36 kali dan harus mencetak semua menjadi sebuah foto yang dapat dinikmati hasilnya. Beranjak dewasa teknologi semakin maju, saat kuliah saya baru bisa merasakan foto bersama teman di dalam Photo Box di sebuah Mall. Maklum, saya berasal dari keluarga ekolem (ekonomi lemah) sehingga terlalu lambat menyadari keberadaan teknologi. Photo Box adalah barang mewah bagi saya, sekali foto harus membayar Rp. 15.000. Tapi keseruan foto bareng teman kuliah membuat uang segitu tiada berarti meskipun saya harus menahan lapar karena itu adalah uang jajan saya.
Roll Film isi 36 asa 100 (sumber: pixabay)
Barulah di tahun 2009 saya mengenal foto digital yang bisa dihapus jika kita salah action. Tidak seperti kamera analog (manual), kita bisa memilih foto mana saja yang akan kita cetak jika menggunakan kamera digital. Setelah saya simpulkan, berikut perbedaan cetak foto jaman dulu vs jaman now.
  1. Jaman dulu kita harus mencetak semua isi film, kalau isinya 36 ya harus dicetak semua. Kalau tidak salah harganya sekitar Rp. 36.000 (lupa-lupa ingat). Sedangkan jaman now , kita bisa memilih foto terbaik yang ingin kita cetak.
  2. Jaman dulu kita harus menunggu sekitar 3-4 hari untuk melihat hasil foto yang kita cetak. Jadi balik dua kali deh ke outlet fotonya. Pertama menyerahkan roll film lalu 3 hari kemudian balik lagi untuk mengambil hasilnya. Sedangkan jaman now, kita bisa menunggu petugas mencetak foto yang kita inginkan, sret sret sret, jadi deh.
  3. Jaman dulu masih ada foto yang “kebakar” alias nggak jadi. Entah terhalang jari kita yang nyangkut di kamera atau kamera goyang terkena angin, hihihi. Sedangkan jaman now nggak ada istilahnya foto “kebakar” karena kita dapat memilih foto terbaik untuk hasil yang memuaskan.

Photobook

Jaman sudah semakin canggih, begitu juga dalam dunia fotografi. Tidak hanya peralatan pengambilan gambarnya yang semakin berkembang, hasil cetak foto juga berevolusi. Semakin bervariasi. Salah satunya adalah photobook. Apaan tuh? Sini saya bisikin!

Photobook adalah album foto yang didesain dengan layout bertema tertentu seperti wedding, baby born, wisuda, dan lainnya. Biasanya dicetak menggunakan teknologi tinggi dengan kualitas lebih baik dari cetak foto biasa. Tak hanya itu, pembuatan photobook bahkan bisa dilakukan secara online tanpa kita harus keluar rumah. Enak banget!!

Salah satu jasa pembuatan photobook online adalah Idphotobook yang memiliki tagline “Cetak Foto HP jadi Majalah Berkelas”. Idphotobook dapat mencetak album berkualitas menggunakan hard board berlapis lean master Grade A dimana tiap halaman berisi Mate Paper High Quality 150 gram. Terbukti Tahan Lama dan Tahan Air, wah wah… harus coba nih!

Ada 10 keuntungan yang bisa didapatkan jika order di Idphotobook, apa saja?
  1. Diskon langsung 20% All Size. Nggak pakai syarat lagi, aseeek!
  2. Free ongkir Jawa-Bali
  3. Diskon ongkir seluruh Indonesia
  4. Tanpa antre langsung proses
  5. Self Service! Gak ada cerita slow respon
  6. Super Fast! Semua jelas, gak perlu lagi tanya-tanya
  7. Proses pembuatan lebih kilat
  8. Gak perlu nunggu CS memproses orderan
  9. Dijamin lebih cepat sampai rumah
  10. Bergaransi! Rusak, cacat produksi, hasil tidak sesuai harapan, kami cetak lagi GRATIS!

Tema Bervariasi, Kamu Pilih Mana?

Kerennya lagi, Idphotobook menyediakan banyak tema yang bisa kamu pilih untuk photobookmu. Apa aja temanya, ini dia!

Travelling

 
Untuk kamu yang ingin menceritakan serunya liburan bersama teman atau keluarga dalam photobook dengan pilihan tema menarik (sumber: Idphotobook)

Anniversary
Ingin mengabadikan setiap tahap perjalanan cinta bersama pasanganmu dalam photobook yang romantis dan penuh kenangan? Pilih tema anniversary aja! (sumber: Idphotobook)
Tema Anak - Anak
Untuk anak-anak juga ada, kamu dapat menyimpan memori lucu dan menggemaskan anak-anak dalam photobook unyu dan penuh warna (sumber: Idphotobook)
Wedding
Merayakan momen indah pernikahan dengan photobook kenangan penuh cinta, kenapa engga?(sumber: Idphotobook)
Artis

Artis juga punya photobook. Pengen? Yuk, miliki photobook keren yang sama dengan yang dimiliki oleh public figure dan artis terkenal.(sumber: Idphotobook)

Foto Kamu di Smartphone?

Jangan khawatir, Idphotobook tersedia di play store kok.Tinggal download aja dan pilih foto favoritmu untuk kemudian dibuatkan photobooknya oleh Idphotobook. Gampil banget! Lalu pilih deh ukuran dan harga yang sesuai.
  • Mini 32 (125K) Ukuran 15,7cm x 11,8cm | 32 Halaman | Isi 38 foto 
  • Medium 24 (185K) Landscape | Ukuran 21,5cm x 15,7cm | 24 Halaman | Isi 49 Foto
  • Medium 32 (250K)  Landscape | Ukuran 21,5cm x 15,7cm | 32 Halaman | Isi 61 Foto
  • Square 32 (275K) Square (Persegi) | Ukuran 20cm x 20cm | 32 Halaman | Isi 61 Foto
  •  Large 32 (350K) Ukuran 20cm x 30cm | 32 Halaman | Isi 75 Foto
  • Couple 24 (300K) Berisi Medium 24 (2 buah) | Ukuran 21,5cm x 15,7cm
    @24 Halaman x 2 = 48 halaman | Isi @49 Foto x 2 = 98 foto
Yup, tunggu apalagi? Yuk segera Cetak Foto Online Mudah Dengan Idphotobook

http://blog.idphotobook.com/kompetisi-blog-idphotobook/
Add caption


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh Id Photobook 
"Cetak Foto di Id Photobook, Proses Paling Gampang Hasil Memuaskan"


Sumber:
1. Idphotobook.com 
2. blog.idphotobook.com



Seberapa Pentingkah Literasi Sekolah?


Penting nggak sih literasi untuk sebuah sekolah? Mungkin Anda merasa tidak asing dengan kata literasi, tapi tahukah Anda apa itu literasi? Hal itulah yang ingin disampaikan kepada peserta yang hadir dalam talkshow parenting dalam gelaran acara Festival Bonorowo Menulis di Lapangan Bangoan, Tulungagung (7/10).

Baca juga: Drama yang Mewarnai Perjalanan Festival Bonorowo Menulis

Menurut Budi Harsono, Kepala SMPN 2 Ngunut Tulungagung, kegiatan literasi sebenarnya telah berlangsung di sekolah. Tapi hampir sebagian besar guru tidak paham tentang literasi meskipun Mendikbud telah mencanangkan program literasi sekolah beberapa waktu yang lalu, melalui gerakan membaca lima belas menit non buku pelajaran sebelum pembelajaran dimulai . Beberapa orang (juga guru) berpikir bahwa literasi hanya membaca padahal literasi adalah seperangkat kemampuan memahami bacaan dan menuangkannya dalam tulisan.

Pak Budi Harsono (yang paling tinggi)
Banyak juga yang mengira jika literasi hanyalah pekerjaan guru Bahasa Indonesia. Sekali lagi Pak Budi, yang juga pegiat literasi, mengatakan jika literasi adalah tugas semua guru mata pelajaran. Makanya salah kaprah ini menyebabkan literasi di sekolah terhambat dan membuat siswa seolah “jalan di tempat” dalam hal membaca dan menulis.

Baca juga: Festival Bonorowo Menulis, Wisata Literasi Tulungagung

Coba amati! Sebenarnya banyak lho kegiatan literasi yang sudah dilakukan di sekolah. Hanya saja lemahnya dokumentasi membuat setiap kegiatan hilang tanpa jejak. Alangkah baiknya jika setiap hasil tulisan siswa dibukukan dan diletakkan di perpustakaan sehingga banyak yang membacanya, dengan begitu siswa akan bangga dan gemar menulis.
Stan SMPN 2 Ngunut di Festival Bonorowo Menulis 2017

Tulisan apa yang bisa dibukukan? Banyak! Setiap kegiatan siswa bisa ditulis dan dibukukan untuk memotivasinya bahwa menulis itu mudah, bisa dicetak, dan dibaca banyak orang (red:teman-temannya). Upaya lain bisa bekerja sama dengan guru mata pelajaran lain, misalnya seni rupa, siswa bisa menuliskan cerita tentang cara membuat benda-benda seni. Siswa juga bisa memuat geguritan dalam mata pelajaran Bahasa Jawa, intinya siswa menuliskan setiap kegiatannya dan dibukukan.

“Apapun Bisa Ditulis”

Sebagai upaya nyata mengembangkan literasi sekolah, Pak Budi membuat buku berjudul “Apapun Bisa Ditulis” yang isinya dokumentasi peristiwa yang dialami siswa. Mulai dari kegiatan siswa di kelas, lomba-lomba yang diikuti siswa, atau permasalahan siswa di sekolah. Teknisnya, kepala sekolah meminta siswa menuliskan setiap kegiatan yang dilakukan. Hasilnya dikoreksi guru Bahasa Indonesia dan kemudian dibukukan. Siswa bangga karyanya berada dalam sebuah buku dan dibaca guru dan teman-temannya. Menarik, bukan?

Talkshow Parenting di FestivalBonorowo Menulis
Kegiatan mendokumentasikan kegiatan siswa juga menginspirasi kepala sekolah ini untuk membuat weblog yang isinya curhatan siswa-siswanya. Tak hanya itu, beliau juga mengunggah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) miliknya di blog pribadi yang membuat blognya mendapatkan 2,5 juta pengunjung hanya dalam waktu beberapa bulan. Padahal blognya tidak terawat. Mungkin karena RPP selalu dicari calon guru untuk mencari inspirasi, kemudian Pak Budi mengarahkan mahasiswa yang beliau kenal untuk mengakses blognya saat mencari RPP. Modus yang keren ya?

Facebook, Berteman atau Memantau Siswa?

Ada cerita lucu dari kepala sekolah yang berkarakter kalem ini, tentang beliau yang bergabung di facebook hanya untuk berteman dekat dengan siswanya. Awalnya beliau menugaskan siswanya untuk berselfi di tempat wisata Tulungagung lalu mengunggahnya di facebok dengan men-tag Pak Budi. Secara otomatis kan harus berteman dulu, nah akhirnya sang kepala sekolah yang ramah tersebut berteman dengan semua siswanya.

Suatu ketika saat musim ujian, Pak Budi melihat beberapa siswa sedang online di facebook. Beliau mengirimkan inbox, “lho kok tidak belajar?” Seketika itu juga siswa offline dari facebook. 😁😁 Saya kok jadi bayangin wajah siswanya yang kaget dan setengah sebal (😠). Jadi mengontrol siswa bisa melalui facebook ya, hehehe. Jaman sudah canggih, guru harus bisa mengimbangi siswa dan nggak boleh kalah canggih. Setuju?
Penyerahan vandel sebagai kenang-kenangan

Melalui blog dan facebook, kepala sekolah ini juga mengaku membagikan kisah siswanya yang bermasalah dan bagaimana beliau menanganinya. Ternyata dibalik kenakalan siswa, ada bantuan yang mereka butuhkan. Hal ini yang sepertinya belum diketahui oleh semua guru, kebanyakan mengira bahwa siswa nakal karena kurang bisa diatur, bebal, dan perlu dihukum. Padahal lebih dari itu, mereka bingung bagaimana menyelesaikan masalah sehingga berbuat ulah.

Baca juga: Jangan Jadi Orang Tua Gaptek, Yuk Pakai Kakatu!

Pada akhirnya, Pak Budi Harsono memberikan saran agar facebook dimanfaatkan untuk menuangkan ide selain untuk curhat. Alih-alih berkeluh kesah, coba untuk menulis minimal lima kalimat setiap hari sehingga terbiasa menuliskan ide. Berlatih menulis memang harus dipaksa dan bisa diterapkan pada siswa di sekolah.

Lalu, seberapa pentingkah literasi sekolah? Sangat penting sekali karena pendidikan tak lepas dari kegiatan baca tulis. Untuk bisa menulis harus mau membaca, sehingga literasi sekolah perlu dikembangkan untuk meningkatkan kemajuan generasi anak bangsa. Meskipun keberadaan teknologi semakin maju, kegiatan membaca dan menulis tak akan pernah lepas dari keseharian.

Bagaimana? Apakah Anda setuju? Kira-kira apakah yang telah Anda lakukan untuk menggelorakan semangat literasi?



Wednesday, October 18, 2017

Jangan Jadi Orang Tua Gaptek,Yuk Pakai Kakatu!

Jangan Jadi Orang Tua Gaptek,Yuk Pakai Kakatu!- Hai pembaca setia Catatan Bunda, dipostingan saya sebelumnya tentang Festival Bonorowo Menulis, saya menyebutkan bahwa salah satu acaranya adalah talkshow yang menarik. Saya juga berjanji akan menuliskannya pada postingan terpisah. Nah, berikut ini adalah tulisan saya tentang talkshow parenting tentang Kakatu School.

Baca juga: Festival Bonorowo Menulis, Wisata Literasi Tulungagung

Apakah Anda memiliki anak? Lalu apakah mereka mengenal gawai (gadged)? Jika jawabannya iya, sulitkah mengajaknya sholat saat mereka sedang asyik dengan gawai? Mungkin beberapa dari Anda menjawab tidak, tapi tidak sedikit pula yang merasakan sulit melepaskan anak dari gawai. Apalagi jika anak telah bermain gawai cukup lama.

Nah, berbicara masalah gawai. Eh bentar, Anda sudah kenal gawai? Hehehe, gawai adalah kata baku dari gadged. Nggak apa kan ya sekali-sekali nulis pakai bahasa baku meskipun campuran, biar terbiasa.

Balik lagi ke gawai yang saat ini telah menjadi salah satu sumber literasi, apalagi bagi anak usia sekolah dasar hingga tingkat lanjut. Siswa sudah tidak asing lagi dengan keberadaan gawai, mereka bebas menggunakan gawai dengan alasan mencari materi tambahan sebagai tugas sekolah.

Tapi tahukah Anda, jika internet yang menjadi “nyawa” dalam gawai yang bisa merusak generasi bangsa? Mengapa saya sebut nyawa? Karena anak-anak tertarik dengan gawai jika ada internetnya. Coba kalau gawai (smartphone, PC, atau tablet) nggak nyambung dengan internet? Masih maukah anak-anak kita menyentuhnya? Sayangnya internet sehat sudah mulai dikotori oleh hal-hal negatif yang justru membawa generasi sekarang menuju kehancuran.

Baca juga: Drama yang Mewarnai Perjalanan ke Festival Bonorowo Menulis

Berawal dari keprihatinan akan semakin hilangnya internet sehat dalam kehidupan anak-anak. Muhammad Nur Awaludin yang biasa disapa Kak Mumu, bersama timnya membuat sebuah aplikasi bernama Kakatu. Sudah pada tahu belum aplikasi Kakatu School?

Aplikasi buatan Kak Mumu ini ingin fokus menyelesaikan permasalahan di era digital atau internet. Seperti kecanduan game, kecanduan handphone, kecanduan pornografi, atau penggunaan internet yang tidak produktif. Mengapa? Kebanyakan anak pakai internet untuk nonton youtube atau main game (ini juga yang terjadi pada anak bungsu saya). Padahal, bisa kan internet digunakan secara kreatif? Itulah yang ingin coba diselesaikan oleh tim Kakatu.
sumber: kakatu.school
Tahun 2014, Kak Mumu sempat membuat Kakatu Parental Control untuk keluarga tapi masih belum terlalu menyelesaikan masalah. Anda bisa coba searching di Play Store, masih bisa diunduh kok. Saya coba dan lumayan bisa mengontrol anak balita. Di awal 2017, pemuda Bandung ini berinovasi  membuat Kakatu School, aplikasi yang diperuntukkan bagi sekolah sebagai alat bantu mengontrol dan mengedukasi penggunaan smartphone anak.


Mengapa harus diedukasi? Karena salah satu upaya nyata untuk mengatasi kecanduan game atau pornografi adalah dengan melakukan edukasi atau pemahaman. Tapi edukasi yang bagaimana? Ya harus tepat sasaran.

Baca juga: Baca Buku bisa Dapat Uang

Jadi, Kakatu School dapat membantu menganalisis perilaku berinternet siswa. Sudah sehat atau belum? Contohnya saat Anda ke dokter, kan Anda nggak tahu sakit apa? Lalu diagnosis dokter mengatakan Anda sakit flu sehingga diberi obat flu. Sama halnya ketika sedang berinternet, apakah anak menggunakan internet secara sehat? Nah, si anak ternyata sakit karena berinternet di tengah malam. Aplikasi Kakatu memberitahukannya ke sekolah sehingga bisa dilakukan tindakan pencegahan atau penanganann dari guru BK atau guru yang ditunjuk sesuai laporan dari Kakatu.

Kakatu sebagai aplikasi akan membantu mengedukasi secara lebih tepat sasaran.  Misalnya anak SD suka main game GTA, padahal gamenya banyak adegan kekerasan dan pembunuhan cocoknya untuk 18 tahun ke atas, Kakatu akan memberikan edukasi yang tepat sasaran. Kakatu akan menjelaskan pengertian GTA, dampaknya, dan cara pencegahannya.


sumber:  kakatu.school
Oiya, pada tahu nggak sih kenapa anak SD udah banyak yang nonton pornografi? Bagi mereka nonton porno itu menyenangkan, bukan sesuatu hal yang berdosa, atau bahkan bisa merusak otak. Mereka belum paham kalau pornografi bisa merusak otak dan menjadikan otak nggak ada bedanya dengan binatang. Masalahnya mereka belum paham. Oleh karenanya harus diberi pemahaman yang tepat sasaran.

Pada akhirnya, Kakatu ingin membentuk sekolah yang ramah digital dengan teknologi yang ramah dan sehat. Mengapa sekolah yang ramah digital? Karena saat ini sulit melepaskan handphone dari anak untuk kemudian diajak belajar atau mengerjakan PR. Harapannya anak bisa menyelesaikannya dengan internet, baik PR maupun mencari sumber belajar.

Bagaimana Awalnya Ide Pembuatan Kakatu?

Tahun 2016, Yayasan kita dan buah hati, salah satu lembaga parenting, mengadakan riset kepada 2064 siswa SD kelas 4,5,6 tentang apa yang mereka lakukan di internet. 21% untuk belajar (seperti tutorial di youtube atau pembelajaran), 20 % bermain game, 16% untuk sosmed, 14 % nonton youtube. Kesimpulannya penggunaan internet untuk hiburan lebih banyak daripada belajar. Surprisenya di tahun 2016, 97% anak SD sudah mengakses pornografi. What?!
Foto bersama Kak Mumu (kiri) dan Pak Budi Harsono (kanan) di Festival Bonorowo Menulis
Beberapa waktu lalu Kakatu pernah road show ke beberapa kota dari Sabang sampai Merauke tentang pornografi . Hasilnya, di beberapa SMP hampir semua siswa sudah pernah nonton pornografi sedangkan di SD, hanya 3-4 orang saja yang belum pernah nonton pornografi. Jadi meskipun kebaikannya tak dapat dipungkiri, internet juga mengenalkan hal negatif kepada siswa. Hal itu karena belum disosialisasikan ke arah hal positif. So, melalui Kakatu School anak bisa diarahkan pada internet positif.

Sebetulnya banyak yang bisa dilakukan di internet, hanya kurang diedukasikan aja ke anak-anak. Misalnya aja di tingkat SMP pelajaran TIK yang ada materi tentang internetnya. Padahal pelajaran tentang internet sangatlah penting, eh malah dihapus. Internet itu bagai dua mata pisau. Ditangan orang yang baik, pisau bisa digunakan untuk merampok bahkan membunuh, sedangkan di tangan orang baik pisau bisa digunakan untuk memotong, memasak, dan  hal bermanfaat lainnya.

Begitu juga internet, jika ditangan orang jahat akan digunakan untuk cybercrime, nonton video porno, atau merusak generasi muda. Sedangkan ditangan orang baik atau kreatif nih internet bisa menghasilkan banyak uang bahkan menginspirasi orang. Jadi masalahnya bukan internet, bukan smartphone yang mahal, atau internetnya yang kurang kencang. Masalah utamanya adalah pola pikir yang harus diupgrade.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Kak Mumu yang pernah kecanduan game dan kehilangan orang tuanya ini, membuat aplikasi Kakatu School yang dapat membatasi kecanduan gawai pada anak.

Kurikulum Digital 

 

Kak Mumu dan timnya ingin membentuk kurikulum era digital melalui keberadaan Kakatu School. Sehingga akan ada kriteria sekolah ramah digital dan menghasilkan peraturan baru.

Saat ini, umumnya kan pihak sekolah saja yang fokus mengedukasi anak tapi sedangkan orang tua masih lepas tangan. Di sekolah dilarang pakai smartphone, di rumah orang tua kendor dan anak bebas memakai smartphone sesuka hati. Setali tiga uang donk, membuang-buang waktu saja. Nah saat menggunakan Kakatu, tak kan nada lagi orang tua yang nggak percaya saat mendapat laporan dari sekolah tentang perilaku digital anaknya.

Dibutuhkan kerjasama antara orang tua dan sekolah dalam mengenalkan internet positif kepada anak. Bahkan Kakatu punya tagline “Kolaborasi Selamatkan Generasi” lho. Makanya di aplikasi Kakatu School ada tiga satuan yaitu guru, orang tua, dan siswa. Orang tua akan mendapatkan laporan tentang perilaku anak saat menggunakan internet sehingga bisa memantau anak dan melakukan penanganan yang tepat.

Ingat Pak… Bu… Anak yang kecanduan pornografi adalah anak yang kesepian dan bosan. Yuk, selalu temani anak dan pantau kegiatan internetnya melalui Kakatu School tanpa harus mengganggu privasinya. Tidak perlu melarang anak-anak bermain game asalkan dapat dikontrol dan ada batasannya.

Marilah ikhtiar bersama, Anda yang membaca postingan saya pasti ada yang menjadi kakak maka beritahukan kepada adiknya, jika Anda orang tua maka beritahukan kepada anaknya. Jika Anda guru maka berikan edukasi kepada siswa. Jangan biarkan anak-anak atau orang terdekat kita kesepian dan bosan sehingga menjadikan game dan pornografi sebagai pelarian.



Bagaimana? Tertarik dengan Kakatu School? Langsung aja klik websitenya di kakatu.school


Monday, October 16, 2017

Festival Bonorowo Menulis 2017, Wisata Literasi Tulungagung


Festival Bonorowo Menulis 2017, Wisata Literasi Tulungagung - Tak hanya sebuah ungkapan atau pendapat saya semata, Festival Bonorowo Menulis (FBM) memang benar-benar menggelorakan semangat pejuang literasi yang hadir. Bukan cuma saya saja sih, delapan siswa yang saya ajak hadir juga ketularan semangat. Mereka menjadi semangat membaca dan ingin segera menulis, luar biasa banget deh pokoknya. Postingan kali ini saya ingin mereview FBM 2017 dari segi partisipan.

Baca juga: Drama yang Mewarnai Perjalanan ke Festival Bonorowo Menulis

Mengangkat tema Menulis dan Membaca Tulungagung di Era Digital untuk meningkatkan jati diri dan martabat bangsa, FBM 2017 ingin mempertemukan para penulis lokal, komunitas kepenulisan, dan  jurnalis serta mempublikasikan karya-karya literasi Tulungagung ke dalam buku dan media daring. Keren ya!! Siapa lagi coba yang akan memperjuangkan literasi kalau bukan kita yang peduli pada masa depan anak bangsa?
Suasana pembukaan Festival Bonorowo Menulis II yang dihadiri perwakilan pelajar Tulungagung dan Kepala Balai Bahasa Jawa Timur
Berlangsung di Lapangan Desa Bangoan, Tulungagung, FBM 2017 dibuka oleh Drs. Abdul Khak, M.Hum, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur pada Jum'at, 6 Oktober 2017. Sebenarnya pihak panitia mengundang Kemdikbud, tapi karena berhalangan diutuslah Kepala Balai Bahasa Jawa Timur untuk hadir. Selain itu acara pembukaan juga dihadiri oleh pelajar, tokoh masyarakat, sastrawan, dan pendidik Tulungagung. Acara pembukaan diawali dengan tarian Reog Kendang untuk menyambut kedatangan rombongan dari Balai Bahasa Jawa Timur, dilanjutkan penampilan adik-adik SD dan SMP yang mewakili pelajar Tulungagung menyanyikan Mars Titerasi dan Tarian Buku Bonorowo.

Baca juga: Baca Buku dapat Uang di Festival Bonorowo Menulis


Bunda Tjut Zakiyah Anshori, ketua FBM 2017 berharap melalui kegiatan ini dapat menyebarkan gairah berliterasi ke seluruh lapisan masyarakat, usia, dan profesi sehingga literasi menjadi bagian yang menyenangkan dalam kehidupan bersama. Pendiri Sanggar Kepenulisan Pena Ananda di Desa Bangoan ini juga berhasil merangkul pegiat literasi dari luar kota sebagai relawan tamu yang ikut serta memeriahkan kegiatan, seperti Reading Volunteer Indonesia atau komunitas relawan baca yang anggotanya berasal dari berbagai kota diantaranya Yogyakarta, Bandung, Pemalang, Jakarta, dan Banyuwangi. Selain 26 relawan tamu tersebut, pelaksanaan  FBM 2017 juga dibantu oleh 70 relawan yang berasal dari mahasiswa dan pelajar setempat untuk menjadi panitia, 25 relawan sebagai narasumber workshop, dan sekitar 300 relawan pengisi panggung dalam gebyar seni literasi.

Wisata Literasi

Salah satu alasan yang menarik minat saya untuk menghadiri FBM 2017 adalah akan ada wisata literasi yang menyajikan pendidikan sekaligus hiburan bagi seluruh lapisan masyarakat yang hadir, oleh karenanya kegiatan ini tidak hanya menyajikan materi kepenulisan dalam bentuk workshop seperti penulisan cerpen, puisi, geguritan, membuat scrap book, tapi juga panggung hiburan yang diisi oleh berbagai macam kesenian mulai dari band dan tarian kontemporer, pembacaan puisi, dan teater sederhana.

Wisata Literasi di Festival Bonorowo Menulis 2017

Kebetulan sekali, saya butuh materi juga untuk siswa saya yang beru belajar nulis. Sejak awal saya mendaftarkan siswa-siswa saya untuk mengikuti workshop menulis cerpen, membuat puisi, photostory, dan menggambar komik. Tapi sayang sekali karena ada beberapa workshop yang gagal kami ikuti. Pertama, workshop menulis cerpen dan photostory yang ditiadakan karena pemateri tidak bisa hadir. Kedua, workshop membuat komik juga tidak bisa kami ikuti karena ada miskomunikasi dengan panitia. Tapi tak mengapa, alhamdulillah anak-anak masih bisa mengikuti workshop scrapbook.

Tak hanya itu, festival ini juga dimeriahkan oleh stan pameran dari komunitas dan lembaga yang menggelar dokumentasi dan informasi kegiatan dalam rangka mengkomunikasikannya sebagai gerakan literasi bersama, yaitu stan SMPN 2 Ngunut yang memajang hasil karya tulis guru dan siswanya. Kebetulan saya sempat mampir ke stan SMPN 2 Ngunut dan sempat ternganga melihat hasil buku karya Kepala Sekolahnya, Pak Budi Harsono. Beliau mengumpulkan hasil curhatan anak-anak dan mencetaknya menjadi sebuah buku. Subhanallah, luar biasa ya πŸ˜ƒ.

Bagi-bagi Buku Gratis

Oleh-oleh dari Reading Volunteer

Ada juga stan pustaka Bonorowo yang berisi informasi karya-karya penulis Tulungagung terbitan tahun 2016-2017, dan juga stan relawan dari luar kota seperti Reading Volunteer (Revolt) dan penerbit Sembilan mutiara. Anak-anak senang sekali dapat buku gratis dari stan Revolt. Ceritanya nih, pengunjung stan yang menginginkan buku gratis bisa menuliskan sebuah pesan damai yang nantinya diselipkan ke dalam sebuah buku. Jadi siapapun yang mendapatkan buku gratis akan membaca pesan damai dari orang lain. Oiya, saya dapat buku yang ada pesan damainya dari Bapak Kepala Balai Pustaka lho, keren nggak tuh? 😝 Tapi saya tahunya pas udah balik ke Malang 😎
Pesan damai dari Bapak Abdul Khak, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur
Revolt juga memberikan pengalaman yang berharga bagi saya dan ke delapan siswa yang saya ajak melalui kegiatan book sharing. Kami diharuskan membaca buku yang kemudian kami sharing atau bacakan kepada orang lain. Saya memilih buku Jus Sayur da Buah untuk kemudian saya baca dan bagikan isinya kepada seseorang di sekitar stan Revolt. Tanggapannya? Luar biasa sekali, mereka senang bisa mendengarkan saya bercerita tentang buah dan sayur yang ternyata belum banyak mereka ketahui. Sedangkan siswa-siswa saya memilih membacakan dongeng untuk adik-adik di sekitar lapangan.

Oiya, masih adalagi bagi-bagi buku gratis dari Pak Tosa, pemilik penerbitan Sembilan Mutiara. Selain menjadi seorang penulis, Pak Tosa juga pengajar di salah satu SMP swasta di Trenggalek. Pengalaman beliau mendirikan taman bacaan, merangkul penulis lokal trenggalek, hingga mendirikan penerbitan buku, sungguh luar biasa. Banyak ilmu yang saya dapatkan dari beliau. Tak lupa Pak Tosa juga memberikan buku gratis kepada kami. Terima kasih Pak Tosa.

Sekeping Asa dari FBM 2017

Setelah kembali ke Malang saya mendapatkan pesan WA dari Bunda Tjut Zakiyyah seperti berikut.
Sahabat pegiat dan pendukung gerakan literasi seNusantara.
Alhamdulillaah, berkat dukungan, bantuan, doa, dari sahabat semua, FESTIVAL BONOROWO MENULIS II terselenggara dengan sukses. Lapangan Desa Bangoan di tanggal 6-8 Oktober terdapat jejak ribuan warga yg berpesta literasi dgn suka cita. Mulai dari anak-anak usia dini hingga para orang tua, mulai dari rakyat jelata, pemerintah desa, hingga pejabat. Mulai yang asli dari Desa Bangoan hingga dari pelosok Nusantara yg tergabung sebagai Reading Volunteer Indonesia.
Semuanya dengan KERELAWANAN, mulai dari panitia penyelenggara, hingga moderator, MC, narasumber, dan naralatih.

FBM II bukan pekerjaan satu hingga dua jenis saja, selesai satu hari saja, cukup dengan saweran para relawannya saja, atau sudah tersedia dana sejumlah RP... dan tinggal menyelenggarakan ibarat proyek-proyek lazimnya. Bukan!!! Bahkan persiapannya butuh berbulan-bulan, bukan hanya kesabaran yg diuji, tapi juga kepercayaan, keyakinan, dan kesolidan tim. Maka FBM II benar-benar bisa menjadi kaca benggala bagi kita semua, konseptor (pemikir), pelaku, pendukung, dan penikmat.

Tak ada yang ingin dicapai oleh FBM II, kecuali:
Menyebarnya semangat gairah berliterasi ke seluruh lapisan masyarakat, lapisan usia, lapisan profesi, hgg literasi menjadi bagian yg menyenangkan dlm kehidupan bersama.

Kegiatan-kegiatan di FBM II menjadi inspirasi semua kelompok/institusi warga untuk diaplikasikan, direplikasikan, disebarluaskan kembali, melalui kelompok/institusinya;

Masing-masing stakeholder bersedia mengambil peran hingga dapat bercermin diri apakah peran dukungan untuk budaya literasi telah dijalankan dengan maksimal.

Kembalinya tradisi saweran, gotong royong, kepedulian sebagai akar budaya manusia yg berbudi pekerti luhur sbgmn warisan nenek moyang yg telah membuktikannya dalam memerdekaan kedaulatan bangsa.

Untuk semua dukungan dan partisipasinya kami sampaikan terimakasih. Atas segala kekhilafan kami pun minta maaf yg sebesar-besarnya.

Salam literasi. πŸ’ͺ

Terimakasih telah menyebarluaskan siaran ini. Komentar, usulan, saran, kritik, penuh tanggung jawab dan konstruktif, kami tunggu di 08994211089 (WA Official)

Mari kita bersama-sama berdoa, semoga kelak stakeholder pengambil kebijakan dapat memberikan dukungan dalam bentuk regulasi yang membuka kesempatan kepada semua pihak untuk berpartisipasi dalam kegiatan literasi. Terutama lembaga pendidikan formal maupun non formal untuk bersama-sama membuat peta kekuatan dan peta potensi agar dapat menemukan interseksi sebagai komitmen dalam gerakan literasi. Amiin
 

Friday, October 13, 2017

Baca Buku Bisa Dapat Uang di Perpustakaan Keliling


Baca Buku Bisa Dapat Uang di Perpustakaan Keliling

Baca Buku Bisa Dapat Uang di Perpustakaan Keliling - Hai guys, masih berkaitan dengan Festival Bonorowo Menulis 2017 di Desa Bangoan, Tulungagung. Kali ini saya ingin bercerita tentang Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) dan Moneygram. Lalu apa hubungannya YPPI, Moneygram, dan festival menulis? Oke deh, simak terus tulisan saya ya guys πŸ˜ƒ.

Adalah Mas Agus, yang saya temui waktu itu, sedang mengajak anak kecil disekitar mobil perpustakaan keliling untuk bermain lego. Beliau berasal dari Ngawi dan bekerja di YPPI pusat di Jakarta, tapi beliau ditugaskan untuk mendampingi anak-anak di Tulungagung untuk menikmati buku dari perpustakaan keliling milik YPPI.

YPPI adalah lembaga yang bergerak di bidang literasi dan salah satu program yang dimiliki adalah perpustakaan keliling di beberapa daerah untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses sumber ilmu. YPPI juga menerima berbagai buku bacaan untuk disalurkan ke berbagai kalangan. Seperti TBM, Perpustakaan Desa, Perpustakaan Daerah maupun komunitas yang membutuhkan di berbagai daerah. Tak hanya itu, sebagai bentuk tanggung jawab sosial, lembaga yang berkeyakinan "untuk literasi kami mengabdi" ini juga melakukan hibah buku dan membuat event 1000 kilometer 1000 eksemplar buku pada penumpang kereta tujuan Banyuwangi - Jakarta sebagai upaya persuasif agar masyarakat menjadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan. Wow banget ya! 😍

Baca Buku Bisa Dapat Uang di Perpustakaan Keliling


Itu tentang YPPI. Lha kalau Moneygram apaan? Pastinya berhubungan dengan money alias uang. Sama dengan kalian guys, saya juga penasaran saat membaca banner Moneygram, tapi himbauannya tentang membaca. Saya kira mobil perpustakaan keliling ini milik Moneygram. Akhirnya saya bincang santai dengan Mas Agus yang menjelaskan tentang hubungan keduanya.

Moneygram adalah jasa pengiriman uang dimana kamu bisa mengirim/atau menerima uang dari dan/atau ke orang lain di luar negeri, dimana prosesnya cepat bahkan dalam hitungan jam atau menits saja. Semacam Western Union lah ya, jadi kalau mau ambil uang yang dikirimkan oleh saudara kita dari luar negeri maka kita dapat pergi ke kantor pos atau bank yang memfasilitasi.

Baca Buku Bisa Dapat Uang di Perpustakaan Keliling


Nah, YPPI mengajukan proposan ke Moneygram untuk membuat perpustakaan keliling. Awal pengajuan, masih diberi buku untuk disebarkan ke sekolah-sekolah. Lalu pengajuan selanjutnya barulah Moneygram menyetujui mobil keliling , dengan syarat perpustakaan keliling berada di tempat yang penduduknya banyak keluar negeri. Kebetulan di Tulungagung banyak warga yang menjadi TKW atau TKI, jadi perpustakaan keliling tersebut dioperasikan di Tulungagung. Kenapa? Agar ada timbal balik yang bisa didapatkan, kalau YPPI bisa menggelorakan literasi, Moneygram bisa menjaring masa menggunakan jasa penukaran uangnya 😍.

Lalu bagaimana baca buku bisa dapat uang di perpustakaan keliling? Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. 😌 Anak-anak baca buku, orang tuanya bisa memanfaatkan Moneygram untuk mendapatkan uang yang dikirim dari luar negeri 😍.

Baca Buku Bisa Dapat Uang di Perpustakaan Keliling



Di Festival Bonorowo Menulis II, 6-8 Oktober 2017 lalu, mobil pustaka milik YPPI yang bekerja sama dengan Moneygram ikut memeriahkan acara dengan standby di lapangan Bangoan sampai malam. Pantesan bannernya ada Moneygramnya yak? πŸ˜‰ Nah udah tahu kan ya hubungan ketiganya apa?😊

Menurut Mas Agus, selain untuk menjaring massa agar menggunakan jasa Moneygram, tujuan lain ditempatkannya mobil perpustakaan keliling di Tulungagung adalah untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari gadged 😁. Tahu sendiri kan jaman now gadged udah kayak permen aja, laris manis. Apalagi yang emaknya pada jadi TKW, anak-anak diasuh oleh ibu angkat, ayah, atau neneknya. Anak-anak ini akan mendapatkan kiriman uang secara rutin, biasanya mereka minta apa aja juga dikasih, salah satunya beli gadged. Bayangkan aja jika anak-anak sudah pegang gadged, apa iya masih gemar membaca buku?

Baca juga: Gadged (Aman) untuk Anak

Bersyukur sekali ada YPPI yang masih memiliki kepedulian terhadap kecerdasan anak bangsa. Berbicara tentang literasi berarti bicara juga tentang masa depan generasi bangsa 😁. Kalian bisa bayangin nggak seandainya anak-anak sama sekali ogah baca buku, bahkan pegang aja rasanya malas. Duh, mau jadi apa bangsa ini padahal buku adalah jendela dunia. Meskipun kecanggihan gadged saat ini juga bisa menuntun kita menjelajahi dunia. Tapi kan beda ya baca buku dengan main gadged. Iya kalau gadgednya cuman buat baca sesuatu yang bermanfaat, buku elektronik  lha kids jaman now kan hampir semua pakai gadged untuk game dan nonton youtube aja 😴. 

Mas Agus juga menyampaikan jika antusias anak-anak terhadap mobil perpustakaan keliling ini sungguh luar biasa. Biasanya siswa-siswa SD kalau istirahat banyak bermain dan jajan, setelah ada mobil ini mereka lebih memilih membaca buku. Sebelumnya Mas Agus meminta ijin ke UPT setempat untuk kemudian diantar ke SD tujuan, setelah itu kepala sekolah dan guru-guru mengintruksikan siswanya untuk membaca atau meminjam buku. Selain buku ada beberapa permainan, untuk menarik minat anak-anak juga. Misal mereka bosan membaca buku maka bisa bermain.

Mobil perpustakaan keliling beroperasi dua kali dalam sehari, saat pagi di SD dan jika sore di desa (tempat umum yang biasanya didatangi banyak orang). Lalu siangnya ngapain? Istirahat laah... karena kebetulan tenaganya cuma dua orang dalam satu mobil perpustakaan keliling 😌. Mobil ini jumlahnya masih satu dan beroperasi di tiga kecamatan, setiap kecamatan mendapatkan kesempatan dua hari dalam seminggu. Oiya, tidak hanya anak-anak yang bisa menggunakan fasilitas pustaka keliling ini, orang tua juga diperkenankan membaca tau meminjam buku setelah mendapatkan kartu anggota.
Baca Buku Bisa Dapat Uang di Perpustakaan Keliling
Siswa mengerubuti mobil perpustakaan keliling
Kendala yang dihadapi mobil pustaka keliling ini hanya sulitnya mengumpulkan foto diri untuk kartu anggota. Padahal peminjaman dan pengembalian buku telah dikelola dengan menggunakan aplikasi di PC, tapi kenapa ya tidak difoto dengan smartphone aja terus dimasukin ke PC? Saya lupa nanya 😎. Koleksi yang masih minim, sekitar 1000 buku untuk tiga kecamatan tidak menyurutkan semangat petugas untuk mengajak anak-anak membaca buku.
Baca Buku Bisa Dapat Uang di Perpustakaan Keliling
anak-anak bermain huruf, selain bisa membaca

Gimana ya kalau ada buku yang rusak? Siapa yang akan memperbaiki?

Pertanyaan yang selalu ada di benak saya ketika berkutik dengan perpustakaan karena kan yang baca dan pinjam buku banyak orang sehingga rawan mengalami kerusakan. Untuk buku-buku perpustakaan keliling ini ada dana operasionalnya, jadi misalnya ada buku yang rusak dan butuh perawatan maka akan diperbaiki sesuai dengan alokasi dana yang telah diberikan oleh Moneygram. Pihak YPPI juga harus membuat laporan sebulan sekali yang disampaikan ke Moneygram.

Sejauh ini tanggapan warga desa senang sekali dengan adanya perpustakaan keliling yang masih tetap berada di bawah pengawasan perpustakaan daerah ini. Sebenarnya di Tulungagung juga ada perpustakaan umum tapi belum menjangkau kecamatan yg ada di pelosok. Perpustakaan keliling dari desa juga kurang rutin, mungkin karena jangkauan terlalu jauh.

Semoga YPPI mendapatkan mobil perpustakaan keliling lagi ya, sehingga akan ada banyak buku yang menjangkau pelosok. Harapannya anak-anak bisa kembali akrab dengan buku dan terlepas dari gadged. Amiin. 😍

Wednesday, October 11, 2017

Drama yang Mewarnai Perjalanan Menuju Festival Bonorowo Menulis

Membaca adalah lentera bangsa
Membaca adalah lentera dunia
Membaca membuka cakrawala
Membaca untuk Indonesia
Dengan membaca kita berbudaya
Dengan membaca kita berdaya guna
Dengan membaca kita menjadi bisa
Dengan membaca kita berkarya

Lagu mars literasi menyambut kedatangan saya dan anak-anak (murid saya) di Sanggar Pena Ananda. Udara panas membuat kami menghabiskan segelas teh hangat yang disajikan, setelah hampir tiga jam menunggu jemputan dari panitia di stasiun Tulungagung.Yap, Kamis (6/10) lalu kami datang ke Desa Bangoan, Tulungagung untuk menghadiri Festival Bonorowo Menulis II yang diadakan oleh Pena Ananda. Perjalanan ke Tulungagung kami lalui dengan banyak drama 😝

Drama1: Penantian di Stasiun  

sebelum berangkat mendapat pengarahan dari Kepala Madrasah

Sebenarnya tak hanya ketika tiba di stasiun Tulungagung saja kami harus menunggu berjam-jam, pada saat berangkat pun kami harus menunggu kereta tiba sekitar satu setengah jam 😎 Pasalnya saya mengajak anak-anak berangkat lebih awal karena takut macet dan ketinggalan kereta. Saya masih trauma karena pernah terlambat datang ke stasiun saat hendak pulang selepas menghadiri Kopdar Cipoer bareng Gus Ipul di Surabaya, dan saya nggak mau hal itu terulang kembali karena keberuntungan belum tentu datang dua kali kan? 😊 Menunggu lama di stasiun itu... ternyata membosankan, apalagi jika bersebelahan dengan Roti Boy (Stasiun Tulungagung) yang harumnya membuat cacing di perut ikut berdansa. Belum lagi anak-anak yang pakai drama merengek segala, membuat hati saya luluh, akhirnya saya pun mengajak mereka selfi 😁.

Baca juga: Sudahkah Anak Kita Berliterasi Kritis?


Kamis, 5 Oktober 2017 kami bertolak dari wajak dengan menyewa angkot hijau jurusan Wajak-Malang, kenapa harus menyewa? Karena menyewa lebih murah daripada harus naik angkot secara ecer πŸ˜‰ Nah, meskipun saya tahu Kereta Penataran akan datang jam 10.20 di Stasiun Kota Lama Malang, saya tetap berangkat pukul 7.30 dari Wajak. Padahal perjalanan hanya satu setengah jam πŸ˜”. Ealah, ternyata saat itu jalanan tidak terlalu padat dan pukul 09.00 kami sudah sampai di Stasiun Kota Lama. Ulala.. itu berarti kami harus menunggu 😏. Drama lagi deh 😡
Selfi untuk sedikit mengusir kebosanan
Sekitar pukul 13.00 kami tiba di Stasiun Tulungagung, saya segera menghubungi Mbak Rini salah satu panitia yang telah berkomunikasi dengan saya sejak saya ingin hadir di Festival Bonorowo Menulis πŸ˜€. Namun, balasan WA dari Mbak Rini membuat wajah anak-anak tak secerah saat mereka datang, karena ternyata kami harus menunggu hingga pukul 15.30 πŸ˜…. Untuk mengurangi kebosanan kami sholat dhuhur di mushola stasiun, makan siang nasi bekal, dan berfoto ria. Oiya, anak-anak sempat dimarahi petugas karena selfi dan wefie di dekat rel kereta (ya iyalah, lha wong sudah ada garis kuningnya, artinya gak boleh masuk, masih aja menerobos 😩dasar anak-anak). Saya sebagai pendamping agak malu juga sih tapi tak saya hiraukan. Untung saya bisa cuek bebek menghadapi segala permasalahan. Udah kebal sama hal begituan (red: malu dengan tingkah anak-anak) 😈.

tingkah polah anak-anak saat bosan menunggu di stasiun Tulungagung

Lelah kami berangsur-angsur hilang hingga datanglah petugas stasiun yang menegur kami dan bertanya, "Ibu baru datang ya?" dan saya jawab dengan jujur, "sebenarnya sudah tadi pak, tapi maaf bolehkah kami menunggu hingga pukul 15.30 di musholla?" Namun bapak petugas berwajah ramah itu mengarahkan kami ke ruang tunggu stasiun yang ada di depan dan alhamdulillah ruang tunggu sedang sepi dan kami bisa duduk dan mencharge smartphone dengan bebas πŸ˜€πŸ˜πŸ˜ƒ.

Drama2: Tak Ada Homestay, Sanggar pun jadi 😍

Tetiba di Sanggar Pena Ananda kami disambut gembira oleh Bunda Tjut Zakiya yang saat itu sedang melatih anak-anak menyanyikan mars literasi. Katanya sih saat itu akan ada tamu dari Kementrian Kesehatan (acara FBM bersamaan dengan pencanangan desa sehat) yang juga meminta anak-anak tampil. Tapi ternyata tamu "istimewa" tersebut datang Ba'da Maghrib, itu pun cuma sebentar karena anak-anak yang rencananya akan tampil sudah pulang semua 😎. Semacam interview singkat gitu deh, bahkan saya nggak sempat menanyakan nama beliau 😝.

tamu dari Kementrian Kesehatan yang hadir Ba'da Isya

Drama kedua pun dimulai, Anak-anak terus bertanya, "kami akan tinggal dimana?" Karena hingga adzan maghrib terdengar, kami masih belum bisa memastikan diri akan tinggal dimana. Sedangkan Bunda Tjut mengatakan boleh tinggal di sanggar jika memang belum ada kabar tentang homestay dari kepala desa 😑 Keluh kesah anak-anak membuat saya iba, belum lagi keluhan mereka tentang udara yang panas sekali. Mirip Surabaya deh pokoknya. Tapi alhamdulillah keramahan Bunda Tjut dan seluruh makhluk yang berada di sana membuat anak-anak kemudian enggan meninggalkan tempat itu πŸ˜„πŸ˜ Terima kasih Bunda Tjut, Mbak Nikita, Mas Zaki (anak laki-laki Bunda, semoga tidak salah nama πŸ˜‰).

Drama3: Bertemu Kakak Cantik hingga Berbagi Cerita

Pembukaan FBM yang dibuka dengan nyanyian dan tarian mars literasi dari adik-adik SD dan SMP

Pemukulan gong tanda dibukanya FBM 2017

Jum'at, 7 Oktober 2017 kami menghadiri pembukaan Festival Bonorowo Menulis yang rencananya akan dihadiri oleh Kemendibud tapi ternyata beliau berhalangan hadir dan diwakili oleh Drs. Abdul Khak, M.Hum, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur. Setelah pembukaan saya mengantar anak-anak mengikuti workshop di sekolah dasar yang tak jauh dari sanggar tempat kami tinggal. Workshop pertama yang diikuti anak-anak adalah membuat puisi dan membuat naskah drama. Setiap workshop membayar kontribusi sebesar Rp. 15.000 dengan fasilitas snack dan sertifikat.
Anak-anak saat mengikuti workshop
Malam harinya, kami nggak tahu kalau ternyata ada panggung hiburan. Untung saja kami nggak bisa berdiam diri di sanggar dan jalan-jalan ke lapangan Bangoan. Surprise banget pas tahu ada pagelaran musik kontemporer dari pelajar Tulungagung. Kami terkesima dengan macam-macam alat musik tradisional yang mereka mainkan, dan yang paling membuat kami terpesona adalah mereka masih berstatus pelajar tapi lihai memainkan gamelan, angklung, drum, dan tabuh. Vokalisnya juga cantik dan suaranya aduhai, lihai menyanyikan tembang jawa πŸ˜‰.

Sabtu pagi, saya mendampingi anak-anak bermain tebak novel bersama kakak-kakak cantik dari Revolt (Reading Volunteer Indonesia). Pada kesempatan ini anak-anak belajar berbicara di depan umum sembari mengarang sebuah cerita, seolah-olah mereka hendak membuat sebuah novel yang kemudian dikomentari oleh teman-teman yang lain. Setelah dhuhur, anak-anak menghadiri workshop pembuatan scrapbook di tempat yang sama sedangkan saya menghadiri talkshow parenting di Lapangan Bangoan (panggung utama). Apa dan bagaimana isi talkshownya? Nanti deh saya tulis dalam postingan tersendiri. Pokoknya talkshownya bagus dan menarik deh, saya betah dan nggak terasa melaluinya hingga tiga jam.

kegiatan kami selain workshop, happy... happy πŸ˜πŸ˜‹

Malam Minggu, kami bersama tim Revolt bermain game tentang book sharing. Siapa sih Revolt ini? Hehehe, nanti juga saya tulis pada postingan terpisah yes πŸ˜ƒ. Atau googling aja Revolt Indonesia pasti deh ada. Jadi malam itu Tim Revolt mengajarkan kepada kami pentingnya berbagi ilmu, termasuk apa yang telah kita baca. Berbagi tidak harus dengan materi, buku yang telah kita baca juga bisa kita bagikan isinya kepada orang lain. Setelah saya dan anak-anak mempraktikkannya, ternyata book sharing itu sungguh luar biasa manfaatnya. Anak-anak yang berbagi cerita kepada adik-adik di sekitar panggung merasa senang dan ketagihan. Sedangkan saya yang bisa berbagi cerita isi buku kepada penjual jus juga merasa senang luar biasa, selain itu saya jadi punya teman baru 😁😍.

Drama4: Berpamitan dan Kehilangan Sepatu πŸ˜₯

Minggu pagi kami harus kembali pulang ke Kota Malang tercinta. Seperti biasa sebelum pergi pastinya kami berpamitan kepada orang-orang yang pernah kami temui, terutama pemilik rumah. Siapa lagi kalau bukan Bundo tercintah, Bunda Tjut Zakiyah yang imut dan luar biasa. Tangisan bombay pun terjadi saat satu per satu dari kami memeluk Bunda untuk berpamitan. Sampai ada satu anak saya (Nayla) yang nangis gak bisa berhenti πŸ˜₯. Meskipun hanya tiga hari tapi Bunda memperlakukan kami seperti anak sendiri. Meskipun sibuk menghandle acara tapi Bunda masih sempat mengingatkan kami untuk makan. Sekali lagi terima kasih ya Bunda 😍

Take a pict dulu dengan Bunda Tjut sebelum berpisah, sayangnya waktu tangisan bombay gak kefoto, sibuk nangis 😎

Tak hanya itu, kami juga berpamitan dengan Pak Tosa pemilik Sembilan Mutiara Publishing dari Trenggalek. Beliau juga pejuang literasi yang semangat juangnya luar biasa. Alhamdulillah banyak ilmu yang dishare oleh Pak Tosa, mulai dari pendirian taman bacaan hingga komunitas penulisan yang beliau gawangi dan juga penerbit Sembilan Mutiara yang Pak Tosa kelola. Kami juga mendapatkan buku dari Pak Tosa. Terima kasih Pak, jasamu tiada taraaa (*pakai lagu himne guru*) 

Setelah berpamitan, kami pergi ke stasiun diantarkan oleh adik ipar Bunda Tjut. Alhamdulillah kami tidak perlu menunggu lama untuk kereta yang satu ini. Kami pun tiba dengan selamat di Malang pada jam yang tepat. Tapi sayang, sepatu Anggi (salah satu siswa saya) tertinggal di kereta karena terjatuh di kolong kursi 😐. Semoga Anggi segera mendapat pengganti ya. Oiya, jam tangan Niroh juga hilang saat menginap di sanggar. Sebenarnya ada seorang anak yang mengaku membawa jam itu, dikira punya temannya. Tapi ternyata nggak dibalikin. Huft. Kasihan Niroh, semoga dia juga segera mendapatkan ganti yang lebih baik. Amiin.
Keseruan di perjalanan 😏

Begitulah kira-kira kisah perjalanan kami mengikuti Festival Bonorowo Menulis 2017 di Desa Bangoan, Tulungagung. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca. Semoga bermanfaat bagi kalian semua. Amiin. Eh, kalau bermanfaat boleh lho dishare. 😍