Thursday, January 11, 2018

Pengantin Baru? Ini 5 Permasalahan yang Sering Dialami.


Pasangan mana sih yang tidak ingin bahagia? Setiap pasangan pasti ingin hidup tenang bersama tanpa ada perselisihan sedikitpun, kalau bisa sih sampai ajal menjemput. Namun apa daya jika baru menikah saja pasutri sudah pisah ranjang? Apa kata tetangga atau orang tua melihat pengantin baru yang tiba-tiba pulang ke rumah orang tua masing-masing, padahal baru saja menikah.



Ada beberapa alasan yang menyebabkan perselisihan pengantin baru, bisa masalah pribadi atau ada hubungannya dengan keluarga. Bukankah menikah itu tidak hanya menyatukan dua pribadi yang berbeda, tapi juga dua keluarga. Berikut beberapa alasan yang menyebabkan pengantin baru mengalami perselisihan (mau bilang pertengkaran, terlalu ekstrim).

1. Menikah di Usia Labil

Kedewasaan seseorang tidak ditentukan oleh umur. Ada orang berumur 18 tahun tapi dia sudah dewasa dalam hal pemikiran, namun ada orang yang berumur 30 tahun tapi berfikirnya masih kekanak-kanakan. Nah, jika ada pengantin baru yang menikah di usia muda dan sama-sama kurang dewasa dalam berpikir, siap-siap saja sering terlibat perselisihan. Mengapa? Selain emosi masih labil, pasangan yang belum dewasa dalam berpikir saling mempertahankan egonya.

2. Belum Siap dalam Hal Keuangan

Keuangan adalah hal sensitif untuk dibahas, terutama dalam berumah tangga. Banyak pasangan yang akhirnya kandas di tengah jalan karena terkendala keuangan. Entah kekurangan uang ataupun kelebihan uang, hehehe. Kalau kekurangan uang terus cerai sih banyak ya, emangnya ada pasangan yang kelebihan uang juga broken? Ada dong, itu kelebihan uangnya gak berkah, bisa saja karena suami menikah lagi atau uang didapat dari korupsi. Naudzubillah…

Nah, bagi pengantin baru yang belum siap dalam hal keuangan biasanya akan menghadapi permasalahan dalam babak kehidupan barunya. Apalagi jika pasangan tidak saling memahami dan memiliki gaya hidup mewah, padahal kekurangan. Sang istri ingin dicukupi segala kebutuhannya tanpa memandang pekerjaan suami yang pas-pasan. Jika suami kurang tegas maka perselisihan bisa terjadi dan berakibat perceraian.

3. Banyak Tuntutan

Namanya juga baru menikah, baru saja hidup bersama pasangan. Jika biasanya bangun tidur hanya ada guling, setelah menikah akan ada seseorang yang memelukmu. Jika biasanya kentutmu tak ada yang mendengar, setelah menikah kalian akan berbagi aroma kentut tanpa saling protes.

Lalu, saat harapan tak sesuai dengan kenyataan, apa yang akan terjadi? Harapannya sih suami selalu rapi dan tampan saat ke kondangan, eh malah dandanan kasual dan pakai sandal jepit. Harapannya sih istri selalu tampil wangi dan jelita bak bidadari khayangan, eh di rumah tiap hari pakai “seragam kebesaran” alias daster, dan masih banyak harapan-harapan lain yang jauh dari kenyataan.

Berbagai macam tuntutan inilah yang dapat menyebabkan perselisihan pengantin baru. Meskipun sebelum menikah merasa kayak Masha and Miskha yang saling pengertian (bear selalu paham keinginan Masha, dan sebaliknya) tapi setelah menikah malah sebaliknya.

4. Kurang Dukungan Orang Tua

Sebagai pasangan baru, apalagi jika pasutri tidak saling kenal (tidak melalui masa pacaran), membutuhkan banyak dukungan dalam segala hal. Apabila keluarga dekat tidak mendukung, maka pengantin bru harus berjuang dalam mengarungi rumah tangganya sendirian. Huft.. Padahal awal membangun bahtera rumah tangga itu tidaklah semudah yang dibayangkan.

Oleh karenanya, tak jarang pasangan baru yang kurang dukungan dari orang tua mengalami permasalahan bahkan sampai cerai (naudzubillah), tapi banyak juga sih yang bertahan hingga dapat merebut kembali hati orang tua (rebutan sama siapa coba?). Seiring berjalannya waktu biasanya orang tua rela dan memberikan dukungan penuh, apalagi setelah melihat lucunya cucu-cucu yang lucu dan persis kakek-neneknya.

5. Kejujuran

Jujur adalah sikap tauladan nabi Muhammad SWA, karena tauladan sudah pasti bermanfaat bagi setiap orang yang meneladaninya. Bagi pasutri yang baru menikah, jujur juga wajib dimiliki. Apa pasal? Dalam awal berumah tangga, kejujuran sangat diperlukan apalagi ini adalah pertama kali tinggal bersama seseorang yang dikenal setelah dewasa.

Bahkan meskipun (jika ternyata) pasangan kita adalah seseorang yang telah dikenal sejak kecil, tetap saja dibutuhkan kejujuran dalam membangun rumah tangga yang harmonis.Pasutri yang tidak saling jujur akan menimbulkan perseteruan atau perselisihan yang hebat. Makanya, jujur kepada pasangan sangat penting karena kunci suksesmembangun rumah tangga, salah satunya adalah melalui saling percaya yang dibangun diatas kejujuran.

Cara Menyelesaikannya?




Sebenarnya tidak perlu khawatir jika pengantin baru mengalami beberapa permasalahan yang telah saya sebutkan. Pengantin baru juga manusia yang harus mengalami proses adaptasi karena bertemu dengan orang-orang baru. Apalagi tinggal bersama pasangan baru yang akan hidup selamanya dan berharap hanya maut yang memisahkan. Uhuk 😜

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, saat menghadapi permasalahan rumah tangga ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut.

1. Introspeksi Diri

Hal pertama yang perlu dilakukan jika pengantin baru mengalami permasalahan adalah introspeksi diri. Kenapa? Karena dengan mengoreksi diri sendiri maka orang akan dapat menurunkan egonya. Jika pasangan baru masih berpegang teguh pada pendirian dan egonya maka permasalahan akan sulit diselesaikan. Introspeksi bukan berarti menyalahkan diri sendiri tapi menyadari kekurangan dalam diri, manusia mana sih yang tanpa kekurangan? 

2. Stop Menyelesaikan Masalah Melalui Sosmed

Beberapa waktu lalu, saat orang terdekat saya punya masalah dengan pasangannya, mereka memilih saling diam dan menyelesaikannya melalui dunia maya. Oh My God, saya nggak habis pikir, bisa-bisanya mereka - yang katanya saling mencintai - betah untuk tidak menyapa. Saya aja tinggal berjauhan satu hari rasanya udah tahunan (ceileeee…). 

Lalu apa yang terjadi dengan saudara saya? Mereka pisah ranjang, padahal baru menikah dan belum ada satu tahun. Udah gitu si istri sedang hamil. Astaghfirullah…

Mereka yang lagi problem memilih tinggal di rumah orang tua masing-masing. Saat bertengkar mereka saling caci maki di sosmed (untung gak sampai dishare, hiiiii). Pas saya baca BBM dan WA mereka, ya ampuuun udah kayak perang Irak-Iran aja. Kenapa bisa tambah parah? Karena setiap orang berbeda dalam mengintepretasikan tulisan. Isi tulisannya gak marah-marah, tapi yang baca pas emosi, ya tetep aja tulisannya diartikan sedang marah. 

Alhamdulillah saya berhasil menjadi mediator sehingga mereka bisa baikan lagi.

Sejak saat itu saya selalu was-was, jangan sampai permasalahan rumah tangga (apapun sih sebenarnya, gak cuman masalah RT) diselesaikan melalui sosmed, yakin deh, bukan selesaikan masalah tapi malah memperparah.

3. Segera Lebih Baik

Segera selesaikan masalah sekecil apapun itu. Misalnya suami gak mau makan masakan istri, eh istri ngambek. Terus itu dianggap hal sepele oleh suami dan dibiarkan begitu saja. Stop cuek, selesaikan dulu, minimal suami minta maaf sehingga istri yang capek-capek masak merasa lega hatinya. Coba kalau masalah kecil ini dibiarkan dan berlarut, bisa jadi istri memendam amarahnya dan bagaikan bom waktu akan meledak kapan saja (jika masalah yang lebih besar datang). 

Jadi… jangan pernah menganggap sepele masalah rumah tangga sekecil apapun. Segera selesaikan agar tidak menumpuk masalah baru.

4. Usahakan Orang Tua Tidak Tahu

Jika ada masalah yang dialami pengantin baru, lebih baik jika orang tua tidak mengetahui. Namanya sudah berumah tangga, berarti sudah harus mandiri, malu donk kalau sampai orang tua terlibat. Begitu juga dengan orang tua pasangan, sebisa mungkin untuk menghindari campur tangan rumah tangga anaknya, apalagi sampai ikut-ikutan membuka dan membaca isi hape, bisa berabe. 

Curhat sih boleh, tapi usahakan dulu untuk menyelesaikan berdua dengan pasangan. Jika ternyata kesulitan barulah libatkan orang tua atau saudara dekat. Jadi berusaha dulu ya, jangan dikit-dikit ngadu ke orang tua. Kayak anak kecil ajah, hahaha.

6. Selesaikan dengan Kepala Dingin

Penting sekali menyelesaikan masalah dengan kepala dingin agar tidak timbul masalah baru. Saat terlalu emosi, lebih baik diam dulu dan menjauh dari sumber masalah tapi jangan terlalu lama. Sebagai muslim boleh lah ambil wudhu dan sholat sunah. Barulah jika kepala sudah dingin, hati agak lunak selesaikan masalah dengan hati-hati. Menyelesaikan masalah saat hati dongkol akan menghasilkan keputusan yang membuat Anda menyesal. Percayalah!

7. Perbanyak Istighfar

Kembalikan semua pada Allah SWT, jika permasalahan tak kunjung selesai atau sulit diselesaikan. Hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana dalam membuat keputusan. Mungkin kita menginginkan sesuatu yang terbaik, tapi Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Perbanyak istighfar untuk mengingat Allah. Yakinkah diri bahwa segala yang terjadi adalah kehendakNya dan tak lepas dari skenarioNya.

Itulah lima permasalahan yang biasanya terjadi pada pengantin baru dan tips menyelesaikannya. Semoga bermanfaat. Kalau Anda, pernahkan memiliki permasalahan yang sulit diselesaikan?Biasanya apa yang kalian lakukan? Yuk,sharing dikomentar! Terima kasih
 

 

Wednesday, January 03, 2018

[Resensi] Terpaksa Menikah: Saat Cinta Tak Bisa Dipaksa

Judul : Terpaksa Menikah
Penulis : Siti Fatonah
Penerbit : AE Publishing
Cetakan : Pertama, 2017
Tebal : 299 halaman
ISBN` : 978-602-5468-00-1

Apa jadinya jika menikah karena terpaksa? Siapapun orangnya pasti tidak akan mau, bukan? Begitu juga Dipta yang menikah dengan Deeva hanya karena terpaksa. Artis yang sedang naik daun itu harus menikahi Deeva, cucu dari pemilik manajemen keartisan, lantaran tak ingin reputasinya hancur.

Dalam prolog novel Terpaksa Menikah karya Siti Fatonah, seorang wanita duduk berseberangan dengan lelaki di sebuah meja restoran VIP. Wanita itu meminta sang lelaki untuk menikahinya, jika tidak maka foto mereka berdua yang sedang menghabiskan malam bersama akan tersebar di media dan menghancurkan karir lelaki yang ternyata seorang artis. Caci dan maki keluar dari mulut lelaki sambil emosi tapi tak digubris oleh wanita tersebut. Dengan tenang wanita itu meninggalkan ruangan diikuti tatapan tajam si lelaki.

(Saat membaca prolognya saya penasaran dengan cerita selanjutnya yang membuat saya ingin segera merampungkan novel ini. Lanjut ya...)

Wanita itu bernama Deeva, gadis keturunan konglomerat yang ingin menikahi Dipta, aktor yang sedang naik daun. Berkat bantuan kakak tirinya, Darma, Deeva berhasil menjebak Dipta sehingga lelaki yang membencinya itu bersedia meninggalkan Nadia, kekasihnya. Deeva mengancam akan menyebarkan foto mesranya dengan Dipta ke media sehingga karir artis denan banyak idola itu akan hancur dan menghilangkan kepercayaan orang-orang disekelilingnya (halaman 38).

(Pada bagian ini saya menganggap Deeva cewek yang jahat, memisahkan lelaki dari kekasihnya dengan segala cara. Duh... sempat sebel juga nih. Lanjut ya...)

Dipta akhirnya mampu meyakinkan Nadia bahwa ia masih mencintai kekasihnya itu dan akan meninggalkan Deeva setelah masalahnya terselesaikan. Dipta meyakinkan Nadia untuk tetap disisinya dan menjadi miliknya. Lelaki itu berjanji tak akan mencampakkan Nadia meskipun telah menikah dengan Deeva, gadis yang pernah ia cintai bertahun-tahun silam.

Deeva senang dong bisa mendapatkan Dipta, lelaki yang pernah mengisi hatinya. Tapi tidak dengan lelaki itu yang merasa kebahagiaan bersama kekasihnya telah terenggut. Membuat Dipta semakin membenci Deeva dan melontarkan cacian demi cacian setiap hari padanya. Bahkan Dipta tak segan mencium Nadia di depan Deeva hanya supaya ia cemburu (halaman 66). Huft...

Sebenarnya Deeva tidak ingin memaksa hati Dipta untuk menjadi miliknya, dia hanya ingin merasa nyaman dan butuh penopang hidup kala kenyataan pahit menghampirinya kelak. Beberapa kali Deeva hendak mengakhiri hidup tapi selalu gagal, apalagi setelah menikah ternyata suami sangat tidak menginginkannya. Demikian juga dengan keluarga yang ia harapkan, selalu mengacuhkan dan mencampakkannya.

Tokoh lainnya adalah Agas, lelaki yang pernah dicintai Deeva dan baru pulang dari tugas belajar di luar negeri. Kehadiran Agas membuat hubungan Deeva dan Dipta semakin panas, antara cemburu dan cinta membuat kedua pasangan yang terpaksa menikah itu saling berprasangka. Dipta mengira istri yang akhirnya menumbuhkan benih cinta dihatinya itu selingkuh, lelaki itu cemburu hingga gelap mata dan merusak kehormatan Deeva.

Setelah kedatangan Agas, cerita menjadi seru pemirsa... Tapi saya kok teringat beberapa drama korea yang ceritanya mirip-mirip ini, kalau nggak salah judulnya Doktor. Hehehe. Gak sama persis sih, cuma mirip aja.Udahan ya cerita Deeva, Dipta,dan Agas, biar gak spoiler.

Begitulah Siti Fatonah mengisahkan Deeva dan Dipta, cinta yang awalnya terpaksa menjadi bernih dan berakar di hati. Keikhlasan Deeva telah meluluhkan keangkuhan hati Dipta hingga membuat lelaki itu bertekuk lutut dan mengalami penyesalan. Membaca novel karya penulis asal Subang, Jawa Barat ini membuat pembaca terlarut didalamnya. Cinta tak bisa dipaksakan dan ketulusan cinta dapat meleburkan legamnya hati serta kebencian yang mendalam. Banyak makna yang dapat diambil dari buku setebal 299 ini. Tentang cinta, keluarga, persahabatan, dan persaudaraan.

Sedikit mengecewakan, novel yang telah dibaca di wattpad sebanyak 1,6 juta kali ini berakhir seperti kisah cinta dalam drama-drama korea yang klise dan berakhir bahagia. Novel ini juga tidak cocok dibaca oleh remaja karena banyaknya adegan percintaan yang seharusnya hanya boleh dinikmati oleh orang dewasa. Namun pas sekali jika dibaca oleh pasangan yang sudah menikah sehingga bisa lebih bersyukur bahwa jodoh telah menjadi ketetapanNya.

Melalui bahasa yang mengalir dan mudah dipahami penulis mampu mengaduk emosi pembaca. Sayangnya, terlalu banyak tokoh yang dihadirkan dalam novel ini sehingga membuat karakter setiap tokoh kurang kuat. Tapi penulis berhasil membuat twist ending yang menarik sehingga pembaca lupa dan larut dalam tiap adegan yang menggetarkan hati.

Sunday, December 31, 2017

Untuk Wanita yang Ingin Berhenti Bekerja Suatu Hari Nanti


Hai pembaca setia Catatan Bunda, kali ini saya ingin curhat tentang resign dari pekerjaan seperti yang telah saya tuliskan pada posting sebelumnya. Udah baca belum? Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner. Yup, aku akan resign dan menjadi mompreneur saja di rumah. Bekerja di rumah seperti kebanyakan perempuan zaman now yang bisa bekerja sambil mengurus anak dan pekerjaan domestik.

Tapi ternyata resign tidaklah semudah mengangkat kedua tangan ke udara (hihihi, membalikkan telapak tangan mah udah biasa), anak kecil juga bisa. Resign ternyata juga melibatkan hati dan pikiran, semacam memilih pasangan hidup diantara beberapa calon. Iya lho, saya harus memikirkannya selama satu semester alias enam bulan untuk benar-benar memutuskan resign.

By the way, pasti kalian bertanya-tanya apa sih pekerjaan saya kok mau resign aja heboh banget gini? 😂, mungkin bagi sebagian orang pekerjaan saya remeh tapi lembaga sekolah membutuhkan tenaga seperti saya, Tata Usaha. Pekerjaan yang saya senangi karena memang saya kuliah di bidang itu.

Namun ternyata setelah kenal menulis online, setelah punya blog dan tahu jika blog bisa menghasilkan, saya menemukan sebuah kenyamanan yang tidak bisa diganggu gugat. Saya jadi membanding-bandingkan pekerjaan tata usaha dengan menulis online. Ya, menulis online menghasilkan pemasukan lebih daripada tata usaha.

Biarlah orang berkata saya mata duitan. Nyatanya hidup memang butuh duit, apalagi anak-anak yang tumbuh besar dan kebutuhan bertambah. Suami saya seorang petani jamur dan butuh bantuan saya agar dapur tetap ngebul. Meskipun tetap tugas suami yang harus menghidupi anak istri, tak ada salahnya jika saya juga membantu. Bukankah menikah itu susah senang ditanggung bersama. Asoy…

Alasan Utama Resign

Saat hendak resign saya pernah survey kecil-kecilan di grup Blogger Kekinian tentang alasan resign beberapa anggota. Nanti ya saya posting sendiri hasil surveynya, yang jelas hasil surveynya membuat saya semakin yakin untuk resign.

Alasan utama saya resign sudah saya sebutkan sebelumnya, yaitu ingin bekerja sesuai passion. Menulis adalah passion saya. Kok saya bisa yakin? Iya donk, saya lebih nyaman saat menulis, tidak pernah bosan, mampu berjam-jam menulis bahkan hingga begadang.😃

Apa karena alasan itu saja saya mengikrarkan “menulis” sebagai passion? Ehm, sebenarnya sih saya pernah membandingkannya dengan pekerjaan saya sebagai tata usaha. Bagi saya bekerja sebagai pegawai tata usaha membosankan, yang dilakukan ya itu-itu saja. Memasukkan data siswa, mengisi rapor, membuat daftar hadir, seputar itu. Karena bosan saya otak-atik rumus excel, mencoba membuat daftar gaji dengan aplikasi excel. Alhamdulillah, lancar dan setelah itu daftar gaji tidak ditulis manual.

Lantas apakah membuat daftar gaji (secara otomatis) dapat menghilangkan kebosanan saya? BELUM

Kembali ke alasan utama resign yaitu menulis. Setelah bisa menulis di beberapa media online dan offline, saya pun nekat mengajak beberapa siswa (yang mau) untuk ikut kegiatan jurnalistik. Saya ingin menularkan kemampuan menulis saya kepada siswa-siswa yang tertarik. Namun, hasrat menulis saya belum juga terpuaskan.

Semangat menulis yang menggebu-gebu membuat saya semakin semangat mencoba hal-hal baru. Seperti training menuli online, challenge menulis, dan menjadi kontributor dalam media online. Semangat saya terlalu berkobar sehingga sulit dipadamkan. Selain pengalaman menulis yang saya dapatkan, juga penghasilan tambahan yang ternyata membuat saya ketagihan.


Alasan Lainnya, Apa?

Alasan lainnya adalah ingin semakin dekat dengan anak-anak. Meskipun sebenarnya saya sudah dekat sih dengan mereka. Sudah baca postingan saya tentang Tiga Kata Ajaib yang Bisa Membuat Dekat dengan Anak?

Semakin dekat maksudnya saya bisa lebih sering bermain bersama mereka. Saya nggak ingin menyesal karena kekurangan waktu untuk membersamai tumbuh kembangnya. Terutama anak kedua yang saat ini benar-benar membutuhkan kasih sayang ibunya. Berbeda dengan kakaknya, si adik lebih nempel sama ayah. Apa-apa ayah, bobok minta gendong ayah, kemanapun ayah pergi dia ikut.

Saya nggak ingin putri kedua saya tumbuh sebagai gadis yang kekurangan kasih sayang ibunya. Meskipun saya pernah membaca jika anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan nggak “nakal”, tetap saja saya lebih percaya jika kasih sayang ibu tiada duanya.

Intinya, saya ingin membesarkan anak berdua dengan suami. Saya ingin, tidak hanya kepada ayahnya, anak-anak “kemanthil”, tapi juga kepada saya. Saya tidak ingin anak-anak menganggap saya hanya sibuk mencari uang dan akhirnya mereka mencari perhatian (caper) kepada orang di luar rumah, bahaya kan?

Itulah mengapa lebih baik saya bekerja dirumah saja menjadi mompreneur yang siap dengan segala resiko dan tantangannya.

Resign Itu Rasanya…

Susah dijelaskan dengan kata-kata. Berat tapi tak ada pilihan lain selain saya harus resign. Teman-teman kerja saya sudah seperti saudara, sulit sebenarnya meninggalkan mereka. Untuk itulah saya nggak akan langsung menghilang dari peredaran tapi sesekali datang ke madrasah (ex.kantor saya). Dengan begitu, saya nggak langsung putus hubungan dengan teman-teman yang sudah saya anggap seperti kakak dan adik sendiri.

Tak hanya khawatir akan berpisah dengan teman-teman. Kekhawatiran saya yang lain adalah bisakah saya hidup tanpa gaji bulanan? Setelah saya tanya teman-teman yang pernah resign ternyata itu lumrah dialami oleh pekerja pada awal resign. Jika biasanya saya bisa mengandalkan gaji bulanan, setelah resign saya belum tentu mendapatkan uang tiap bulan.

Hush, jangan negative thinking donk! Kalau mikir gitu berarti nggak percaya sama yang kasih rezeki ya?

Bukan begitu, bukan saya nggak percaya jika rezeki sudah ada yang ngatur. Saya sangat percaya hal itu, bahkan porsi rezeki sudah ada yang menentukan. Tapi keluar dari zona nyaman memang tidak mudah, jika biasanya berada dikantor saat pagi hingga siang, setelah resign saya harus berada di rumah setiap saat dan setiap hari.🙈

Untung ada Komunitas

Bingung? Tentu saja. Takut? Sedikit.😓. Lantas apakah saya tetap akan resign? Pasti. Saya juga sudah membuat surat pengunduran diri dan mulai berhenti bekerja pada tanggal 8 Januari 2017. Lalu bagaimana cara saya memantapkan hati dan niat?

Seperti biasa, saya curhat ke komunitas blogger dan mendapatkan berbagai macam solusi yang saya rangkum sebagai berikut.

1. Persiapkan Diri Jauh-jauh Hari

Alhamdulillah, saya memang telah mempersiapkan resign sekitar satu semester. Awalnya memang maju mundur cantik, tapi sekarang saya sudah mantap tap tap. Saya juga telah melakukan analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, dan threats). Mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk resign sangat bermanfaat agar tidak merugikan kedua belah pihak, saya (sebagai pekerja) dan sekolah (tempat saya bekerja). Saya bisa persiapkan diri dan sekolah bisa segera mencari pengganti.

2. Sisihkan Dana minimal 5x Gaji

Setelah resign, sudah pasti tak akan ada gaji rutin tiap bulan sehingga saya harus mempersiapkan dana untuk hidup setelah resign. Jadi sebelum resign saya menyisihkan uang untuk dana talangan meskipun saya yakin nggak akan kekurangan, kan suami saya gajian tiap hari (jualan sayur). Dana yang saya sisihkan untuk keperluan penting jika saya sudah resign.

3. Pamit Secara Baik-baik

Apapun alasan yang saya kemukakan saat akan resign, etika dan tata cara yang baik juga saya gunakan. Meskipun insyaalah saya ingin bermitra dengan suami untuk menjadi wirausaha, saya ingin memberikan kesan yang positif kepada teman-teman kerja. Saya mengenal mereka dan datang untuk bekerja secara baik-baik, tentu saja saat keluar dari pekerjaan dengan cara yang baik pula.

4. Pastikan Kegiatan Setelah Resign

Tentu saja saya sudah mempersiapkan kegiatan yang akan saya lakukan setelah resign. Ada toko alat tulis yang telah saya bangun sejak tiga tiga tahun yang lalu, meskipun belum berkembang tapi lumayanlaah. Lalu, kemampuan menulis artikel secara online baik menulis di blog, media offline atau online yang sedang saya asah dan akan terus saya latih. Juga jaringan menulis online atau komunitas blogger yang telah saya ikuti selama satu tahun belakang. Berharap dengan kegiatan tersebut saya tidak nganggur setelah resign dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Amiin.

5. Mengubah Gaya Hidup

Mengubah gaya hidup adalah rencana pertama yang mampir di otak saat saya memutuskan resign. Mengapa? Karena setelah resign otomatis pengeluaran harus ditekan biar nggak kebablasan, hehehe. Saat masih bekerja saya biasa mengandalkan gaji bulanan, bisa membuat list barang-barang belanjaan setelah terima gaji.


Setelah resign saya tidak bisa seenaknya membuat list belanjaan setiap bulan, saya harus lebih selektif dan bijaks saat belanja. Begitu juga dengan traveling dan kuliner yang nggak bisa se “enak udel” (baca: sembarangan) harus lebih selektif dan yang pasti NABUNG dulu. Hihihi. Iya, kan setelah resign pendapatan belum pasti seperti saat bekerja di sekolah. Meskipun insyaallah akan ada pemasukan jika mau berusaha (nulis, misalnya, dan dikirim ke media).

Itu dia lima solusi yang saya dapatkan setelah saya curhat di komunitas blogger perihal rencana resign saya. Beruntung sekali bergabung dengan komunitas blogger yang dengan senang hati memberikan solusi dan inspirasi bagi setiap permasalahan anggotanya. 😄. Makasih saya ucapkan untuk teman-teman di Blogger Kekinian dan Malang Citizen, You are my best friend forever after (ih,kayak judul movie,hihihi)

Tuesday, December 26, 2017

Ibu, Pendidik Terbaik dan Inspirasi Hidupku

Setiap kali berbicara tentang ibu, bulir bening selalu keluar dari sudut mata. Entah kenapa, hati selalu bergetar jika nama ibu dikumandangkan. Teramat besar jasa beliau membesarkanku, rela memberikan kasih sayangnya tanpa mengharapkan balasan.

Dulu, saat aku masih belum menikah, tak ada rasa apa-apa saat nama ibu disebut. Tapi setelah seorang anak terlahir dari rahimku, aku pun tahu rasanya. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan ibu jika anak-anak membangkang. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan ibu saat mengantarkan anak-anaknya ke tempat tidur dan menemaninya hingga terlelap. Aku juga bisa merasakan apa yang dirasakan ibu saat anak-anak sakit sehingga aku harus terjaga semalam.

Baca Juga: Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner

Ibu tak pernah mengeluhkan berbagai kenakalanku saat kecil, tapi beliau selalu membicarakan betapa aku pandai membaca sejak berumur tiga tahun. Sebelum masuk ke taman kanak-kanak aku sudah pandai merangkai huruf dan itu membuat ibu bangga, beliau pun menceritakannya kepada setiap orang yang ditemui.
Ibu, Pendidik Terbaik dan Inspirasi Hidupku
Ibu (yang sedang berdiri), saya, dan kedua cucu ibu di tempat rekreasi
Ibu dengan bangga membiarkanku membaca setiap spanduk yang berjajar di pinggir jalan, seolah olah ingin berkata kepada dunia “inilah putriku yang sudah pandai membaca sebelum ia sekolah”. Aku pun senang bisa membuat ibu tersenyum bangga.

Ibu, Pendidik Tersabar di Dunia

Pernyataan “Ibu adalah madrasah pertama anak” adalah benar adanya. Melalui ibu, pendidikan anak pertama kali diterima. Akan menjadi baik atau buruk di luar rumah adalah cerminan dari pendidikan seorang ibu di rumah. Meskipun mungkin tak dapat digeneralisasikan, itulah kenyataannya.

Berdasarkan informasi yang aku baca, tokoh dunia yang sukses juga memiliki ibu yang mendidiknya dengan baik. Sebut saja Bill Gates, orang terkaya di dunia yang ternyata memiliki ibu yang mengajarkan kepedulian dan kegiatan sosial kepada Bill Gates.

Begitulah ibuku, beliau adalah guru yang paling sabar dalam hidupku. Beliau tidak pernah memarahiku dan telah mengajarkan ilmu kehidupan dengan telaten. Ibu selalu memotivasiku untuk menjadi lebih baik dari kedua orang tuaku. Ibu rela disebut ibu yang irit hanya supaya anak gadisnya ini bisa menempuh pendidikan hingga sarjana. Padahal saat itu perekonomian keluarga kami sedang kritis.

Baca juga: Tiga Kata Ajaib yang Membuatku Dekat dengan Anak

Keluhan ibu hanya terdengar bagai bisikan angin, nyaris lirih. Lebih riuh daripada tangisan anak-anaknya yang sibuk meneriakkan namanya saat mencari kaos kaki yang hilang. Ibu mengeluh saat harus membayar uang sekolah anak-anaknya, itu wajar karena ibu tidak bekerja dan hanya mengandalkan pemberian gaji bapak. Tapi entah mengapa keluhan ibu bagaikan cambuk semangat yang membuatku semakin melesat menempuh pendidikan tinggi dan lulus sebagai sarjana dengan predikat cumlaude.

Ibu Menginspirasi Tiada Henti

Sejak kecil aku memang bercita-cita menjadi guru dan sebelum lulus kuliah aku benar-benar bisa mewujudkannya meskipun mengajar di madrasah swasta kecil. Namun, cita-citaku berubah sejak empatiku muncul melihat perjuangan ibu membesarkan kelima anaknya. Sejak aku juga telah memikirkan masa depanku yang akan menikah dengan siapa, cita-citaku berubah menjadi perempuan yang tegar dan sabar seperti ibuku.
Ibu, Pendidik Terbaik dan Inspirasi Hidupku
Saya dan Ibu
Sejak kecil, hingga aku dewasa ibu selalu menginspirasi. Tak perlu banyak bicara untuk memberitahukan berbagai macam kebaikan yang harus dilakukan anak-anaknya. Ibu lebih memilih memberikan contoh dan itu menginspirasiku. Seperti saat teman-temanku atau teman-teman adikku menginap di rumah, ibu memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Ibu lebih suka jika teman-teman anaknya menginap di rumah daripada kami yang harus menginap di rumah teman.

Baca juga: Kartini Masa Kini yang Menginspirasi 

Ibu baik kepada setiap orang tanpa pilih kasih, mengajarkan kepada anak-anaknya arti kasih sayang yang tulus. Mencintai sesama akan membuat kita juga dicintai orang lain. Kata ibu, jika kita berbuat baik maka orang lain juga baik pada kita. 

Dedikasiku Untuk Ibu

Saat ini aku memang belum sekaya Bill Gates. Aku juga belum setenar Mark Zuckerberg. Tapi alhamdulillah aku telah mampu menjadi ibu yang mandiri dan memiliki keluarga yang bahagia. Semua itu karena ibu yang telah mendidikku dengan sabar, telaten, dan menjadi inspirasi tiada henti.

Semua karena ibu yang tiada henti memberikan kasih sayang dan perhatiannya bahkan hingga aku telah memiliki dua putri yang manis. Meskipun tinggal berjauhan, ibu selalu ada dihatiku. Ibu selalu menanyakan kabarku bahkan saat aku lupa menelepon beliau.

Sekarang aku tahu rasanya menjadi ibu, aku bisa merasakan pengorbanan beliau membesarkan kelima anaknya. Alhamdulillah, karena kegigihan ibu aku bisa menjadi blogger yang bercita-cita menginspiratif pembaca melalui tulisanku. Aku ingin dikenang sebagai seorang yang berguna dan meninggalkan jejak yang bermanfaat jika telah tiada nanti.

Cita-citaku masih ingin menjadi ibu yang sabar dan menginspirasi, seperti ibuku. Tapi tak hanya itu, aku juga bercita-cita membawa ibu ke Baitullah, setidaknya itu juga cita-cita ibu yang ingin kukabulkan. Semoga. Amiin.

Itulah ceritaku tentang Ibu dalam rangka mengikuti kompetisi blog saliha.id. Kalian juga bisa lho ikutan kompetisinya. Cuss klik gambar berikut ya guys!
Ibu, Pendidik Terbaik dan Inspirasi Hidupku

Monday, December 25, 2017

How To Make A Great Video With A Smartphone With Malang Citizen

How to make a great video with a smartphone – Hai guys, tumben-tumbenan ya saya nulis judulnya bahasa Inggris? Hihihi. Itu karena tema ICB#2 yang diadakan Malang Citizen juga pakai English. Yup, Internal Capacity Building ke 2 yang tentunya bertujuan meningkatkan kapasitas anggota komunitas blogger ini diadakan di Ngalup.co Malang, sekitar Bulan September 2017 lalu.

How To Make A Great Video With A Smartphone, judulnya bikin penasaran, apalagi setelah melihat pematerinya yang sangat kompeten di bidangnya, Sandy Iswahyudi. Pemuda tampan dan gagah berani yang videonya sudah sering jebol ke Net.CJ, hanya dengan menggunakan smartphone, keren kan?

Menurut Sandy, untuk membuat video ciamik ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu nilai, bergerak, dan nikmati. Setelah beberapa menit menyusun materi secara mendadak (keren nih, kalau nggak ahli mana bisa bikin materi mendadak) akhirnya Sandy menjelaskan ketiga poin penting dan saya memperhatikan dengan seksama.

Soalnya saya penasaran banget cara bikin video bisa sampai ditayangkan di Net.CJ, penasaran cara bikinnya atau feenya? Hihihi… Dua-duanya deh #maruk

Nilai adalah hal pertama yang wajib kita perhatikan saat membuat video dan ini penting. Tentukan dulu nilai yang ingin disampaikan saat akan membuat video sehingga videomu tak sia-sia. Misalnya apa alasanmu bikin video? Menghasilkan uang? Atau sekedar berbagi pengalaman? Nilai yang kurang kuat dapat menyebabkan serangan jantung, eh, ketidakkonsistenan dalam membuat video. Kamu akan cepat bosan bahkan dengan mudah meninggalkan video yang belum selesai dibuat.

Duh, pantesan video yang saya susun bagus-bagus nggak rampung-rampung, itu karena saya belum punya nilai yang pasti, untuk apa saya membuat video? Sandy konsisten sekali membuat video karena dia ingin bisa membagikan setiap pengalaman kepada orang lain, mantap!

Hal kedua yang harus diperhatikan adalah bergerak. Maksudnya apa nih? Bergerak alias action, jangan pengen dan pengen aja bikin video. “Eh, aku kok pengen ya bikin video tentang kehidupan sehari-hari, pasti seru nih!” Ya udah, take action aja, langsung bergerak dan bikin videonya. Jangan pengen-pengen thok!

“Tapi aku malu, mukaku kan gak camera face,” sambil nangis di pojokan *lebay
Haish… banyak kok vloger yang mukanya pas-pasan tapi pede banget tampil di depan kamera. Menurut Sandy, untuk bisa tampil di depan kamera memang harus dibiasakan. Nah, bergerak dulu, jangan terlalu mikir dan akhirnya malah baper, ujung-ujungnya karya nol alias nggak ada yang dihasilkan.
sumber: ranselperi.com

Ingat, setiap karya pertama kita adalah sampah. Wajar jika dibilang jelek, namanya juga sampah. Wajar juga jika nggak ada yang mau nonton, mana ada orang yang mau nonton. Jangan baper juga jika video pertamamu hanya ditonton oleh 9 orang, huhuhu…. Teruslah berkarya dan buktikan kamu bisa! GANBATTE!!

Poin berikutnya adalah nikmati. Ya, nikmati setiap proses pembuatan video yang akan menuntun kita menjadi video creator yang professional. Nikmati setiap jatuh bangun membuat video, perjuangan apa saja yang kamu lakukan, bahkan mungkin harus menahan malu saat membuatnya karena dilihat banyak orang.

Menikmati proses bisa membuat kita bertahan dalam segala rintangan yang muncul saat membuat video ciamik. Kalau prosesnya aja kamu nggak bisa menikmati, maka jangan harap video kamu akan semakin bagus, yang ada malah sebel karena videonya gitu-gitu aja.

Selanjutnya praktik membuat video yang langsung dibimbing oleh ahlinya. Yeay!! Suka banget pada bagian ini karena jadi tahu step by step pembuatan video yang keren. Meskipun pada akhirnya tetap saja video bikinan saya jauh dari kata “bagus”.

Pertama, Sandy meminta kita mengunduh Power Director dan menginstalnya di smartphone. Kebetulan saya sudah punya dan tinggal pakai saja dan saya sudah sedikit familiar dengan aplikasi ini. Cuma ada beberapa hal yang baru saya tahu setelah ikut ICB #2 Malang Citizen ini. Misalnya saja cara membuat video slow motion, dan membuat animasi judul dengan aplikasi Legend (bisa diunduh di playstore).

Selanjutnya, Sandy membimbing kami step by step cara membuat video mulai dari mengumpulkan bahan, mengunduh backsound music, hingga membuat video agar tampil keren dan maksimal dengan durasi video 1 menit. Viola!! Video saya belum jadi hingga akhir acara, 😂😂, saya pun memintanya sebagai PR.

Namun begitu acara How To Make A Great Video berlangsung sukses dan lancar, saya pun akhirnya bisa membuat video yang saya unggah di youtube serta ditonton oleh lebih dari 100 orang, hahaha. Namanya juga masih belajar, masih mending kan daripada hanya 9 orang?

Ngalup Coworking Space

Jujur aja saya baru tahu tempat ini, Ngalup Coworking Space. Wadah untuk berkumpul, sharing ide, meeting, event komunitas hingga office space yang ada di Kota Malang. Oiya, kalian sudah tahu kan coworking space? Tenang, saya juga baru tahu dan akan membagikannya dengan kalian.

Dilansir dari ipapa.co.id, coworking space berasal dari kata coworking yang artinya berkolaborasi, coworking space berarti tempat untuk untuk bekerja dengan cara bersama atau berkolaborasi dengan individu yang berlatar belakang pekerjaan serta perusahaan yang berbeda.

Kembali ke Ngalup Coworking Space, saya penasaran dengan icon cakar singa dengan tiga titik yang terkoneksi yang digunakan sebagai logo. Ternyata nama dan ikon tersebut tidak dibuat sembarangan. Ngalup diambil dari bahasa Jawa walikan khas Malang yang berarti “pulang”, ikon cakar singa  membawa nilai coworking space itu yakni collective, connectivity, & collaboration.
sumber: ngalup.co


Konsep Ngalam Coworking Space dibuat dengan desain yang menarik, unik, cozy, kekinian, dan ditunjang dengan suasana yang bisa membangkitkan kreativitas. Kayaknya biar lebih santai dalam berinteraksi dan juga bekerja dengan team, semangat dan produktif kali ya? Benar-benar cocok deh digunakan sebagai kantor para pelaku start up yang memang butuh mobilitas pegawai.

Jadi gini lho… Misalnya ada seseorang yang butuh tempat buat meeting sementara, atau diskusi bareng teman, pokoknya butuh tempat sementara tapi fasilitas memadai, cocok deh pakai Ngalam Coworking Space. Butuh wifi? Ada. Pantry? Siap. Kamar mandi dan musholla juga ada. Nah… serasa berada di rumah sendiri deh.
sumber: ngalup.co

Berada di Jl. Sudimoro , Perum d'WIGA Regency, Ngalup Coworking space jauh dari kebisingan, lagi-lagi saya bilang cocok banget buat rapat atau diskusi. Terdiri dari dua lantai, lantai bawah untuk event space dengan kapasitas 100 orang untuk menggelar presentasi atau sminar, sedangkan lantai atas digunakan untuk ruang kerja serta ruang rapat.

Dari data internal Ngalup, yang dilansir dari dailysocial.id, kurang lebih ada 50 komunitas dan startup yang rutin mengadakan kegiatan tempat tersebut. Beberapa di antaranya ada Yukbisnis, Masyarakat Tanpa Riba, Hipwee, IMA, Akademi Berbagai, AIESEC, 1000 Startup Digital, Pahlawan Digital, Gapura Digital, dan FB Dev Circle.

Wednesday, December 20, 2017

Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner


Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner - Tak terasa ya Dear, kita sudah di penghujung tahun. Kayaknya baru kemarin deh saya memajang kalender 2017 di dinding kamar, soalnya masih tampak bagus sih, hihihi. Ngomongin akhir tahun nih, sudah punya planning apa untuk menyambut tahun baru? Saya sih nggak pernah merayakan tahun baru jadi nggak punya rencana apa-apa, biasanya saya dan suami nonton film di tv (sering diputar film baru sih, 😂😂).

Karena sudah berada di Bulan Desember, akhir tahun nih, kalian sudah bikin resolusi untuk tahun 2018? Apa? Belum? 😁😁 saya juga baru aja mau bikin. Setelah saya ingat-ingat tahun 2016 akhir saya belum bikin resolusi apapun, pantesan hidup saya seperti tak terarah dan sesuai banget dengan quotes ini!
Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner

😂😂😂 Jangan ngakak ya kalau kamu yang baca tulisan saya juga mengalami hal yang sama. Parah! Saya sih nggak mau bikin resolusi tahunan asal-asalan dan hanya nyontek sana-sini tapi hasilnya nihil. Ya udah, akhirnya saya nggak bikin resolusi. #alasan

Kilas Balik Tahun 2017

Okey, tahun ini saya bertekad membuat resolusi untuk tahun depan yang dasyat, luar biasa, spektakuler, dan fantastis. Hohoho! Tapi sebelum itu saya ingin kilas balik dulu pencapaian saya di tahun 2017, tahun yang membawa saya menemukan passion yang telah saya cari sekian lamanya. Menulis.

Akhir tahun 2016, saya bergabung dengan grup kece, IIDN (Ibu Ibu Doyan Nulis) di facebook. Grup yang mayoritas anggotanya ibu-ibu ini memberikan booster semangat untuk bisa menulis. Bagaimana tidak, saya yang minder karena baru bisa menulis jadi semangat dan pe-de abis setelah membaca karya ibu-ibu lainya. Keren banget deh pokoknya grup ini.

Lalu, saya iseng mengikuti lomba yang diadakan Indsript Creative (info lomba saya tahu dari grup IIDN) yaitu lomba menulis Bangga Menjadi Ibu. Alhamdulillah meskipun tidak juara, saya menjadi salah satu dari 99 peserta yang naskahnya dibukukan ke dalam antologi Bangga Menjadi Ibu. Inilah tulisan pertama saya yang dibukukan dan saya pun makin semangat.

Selanjutnya saya tergiur dengan training online yang diadakan Indscript Creative, training pertama yang saya ikuti kala itu adalah jebol media yang dimentori langsung oleh Indari Mastuti. Berawal dari training ini saya mencoba kirim tulisan ke Harian Surya (karena hanya Harian Surya yang saya baca setiap hari di kantor, jadi memutuskan kirim ke Koran ini, hehe) berupa liputan dan dimuat di bagian Citizen Reporter.
Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner
beberapa karya saya di Harian Surya yang ternyata menjadi portofolio sehingga saya bisa menjadi mentor dalam training online di Joeragan Artikel
Saat pertama kali tulisan saya dimuat di media cetak dan dibaca orang, rasanya luar biasa banget dan nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya pun ketagihan mengirimkan liputan ke Harian Surya dan semangat menulis saya semakin melambung. Hingga tersadar jika ternyata tulisan saya yang dimuat di media massa adalah portofolio yang mengantarkan saya menjadi mentor training liputan di Joeragan Artikel, agensi kepenulisan online.

Tak hanya itu, sejak antologi pertama saya, Bangga Menjadi Ibu diterbitkan oleh Bitread Publishing, saya juga sedang membangun sebuah blog personal yang sekarang sudah berumur satu tahun. Saya tak menyangka jika melalui blog tersebut bisa berpenghasilan. Meskipun niatan awal hanya ingin berbagi informasi melalui blog, jika ternyata bisa menghasilkan rupiah, why not?

Namun begitu, menulis tak hanya mengalihkan penatnya pikiran karena berbagai masalah yang mendera, tapi juga bisa membantu menyetabilkan ekonomi keluarga, 😍😍. Semakin hari saya pun semakin menikmati aktivitas bermain kata di depan layar laptop. Meskipun job menulis bertumpuk-tumpuk, harus lembur dan begadang, saya sangat menikmati setiap detik prosesnya.

Saya simpulkan jika menulis adalah passion saya, pekerjaan yang tidak pernah membuat saya bosan, pusing, ataupun lelah. Menulis malah membuat saya bahagia.

Resolusiku 2018, Berawal dari Passion

Setelah tahu bahwa menulis adalah passion, maka saya putuskan untuk menekuni bidang ini. Ternyata kata-kata “fokus pada satu hal akan membawa hasil yang besar” benar adanya. Jika ditekuni, menulis bisa menghasilkan rupiah yang bisa kita gunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan tidak hanya rupiah, dollar juga bisa kita dapatkan saat kita fokus menulis.

Lalu, bagaimana menulis bisa menghasilkan uang? Beberapa orang menanyakan hal itu saat saya bercerita bahwa menulis adalah hobi yang dapat menghasilkan uang. Banyak lho, apalagi jika kita sudah punya branding. Kalau saya mah belum punya branding, tapi Alhamdulillah saya tergabung ke dalam beberapa grup tentang menulis seperti IIDN, Blogger Perempuan, Emak-emak Blogger, Komunitas Blogger Malang Citizen, dan juga grup alumni Joeragan Artikel.

Baca Juga: Meraup Dolar bersama @Joeragan Artikel

Melalui grup kepenulisan tersebut saya bisa mengumpulkan recehan untuk modal usaha, selain suntikan semangat tiada henti. Berawal dari passion inilah saya ingin membuat resolusi untuk tahun 2018 yaitu menjadi Mompreneur yang Visoner.

Apa itu Mompreneur Visioner?

Mompreneur berasal dari kata Mommy (ibu) dan Enterpreneur (wirausaha) yang berarti ibu yang menjalankan bisnis atau berwirausaha namun tetap menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga. Visioner berarti selalu berfikir ke depan. Jadi, saya ingin di tahun 2018 nanti saya bisa menjalankan bisnis tanpa harus meninggalkan tugas utama saya sebagai ibu rumah tangga dan berfikir ke depan.
Apa sih yang harus dipikirkan? Apakah memikirkan sesuatu di depan saya? Hehehe… Bukan! Sebagai mompreneur yang visioner saya harus memiliki visi dan misi yang jelas. Visioner berarti memiliki pandangan ke depan akan segala tantangan dan resiko yang akan hadir dalam berwirausaha.

Sudah Mantapkah Saya Menjadi Mompreneur?

Profesi saya sekarang adalah pegawai tata usaha di sebuah madrasah swasta. Hampir enam tahun saya menggeluti bidang tata usaha untuk mengaplikasikan ilmu dari bangku kuliah, as you know, saya adalah sarjana administrasi pendidikan (tata usaha sekolah). Selama enam tahun itu pula saya pergi pagi hingga siang dan meninggalkan anak-anak dalam pengasuhan suami. Kebetulan suami saya seorang petani jamur tiram atau wirausahawan.

Lalu jika ditanya apakah saya yakin akan meninggalkan pekerjaan saat ini dan menjalani hari-hari sebagai mompreneur? Yes, sangat yakin! Saya yakin bisa keluar dari zona nyaman dan fokus menjadi mompreneur meskipun beberapa hal berikut ini harus saya hadapi, yaitu berkorban energi, pikiran, kesabaran, dan waktu untuk mengelola usaha yang saya jalani. Meskipun sebenarnya pengorbanan tersebut sudah ada ketika saya bekerja di kantor namun saat menjadi mompreneur bisa jadi pengorbanan harus lebih ekstra, apalagi usaha baru saja berjalan.

Kesibukan bertambah karena selain harus mengurus anak juga mengelola bisnis. Jika saat bekerja saya hanya fokus kepada pekerjaan di kantor, ketika memutuskan menjadi mompreneur bukan tidak mungkin kesibukan akan bentrok antara mengurus anak dan bisnis.

Saya Ingin Menjadi Mompreneur Karena…

Saya pernah melakukan beberapa survey alasan orang-orang resign dari pekerjaan, diantaranya karena ribut sama bos, tidak cocok dengan teman kantor, ataupun bosan. Tapi tidak dengan saya yang menganggap orang-orang di tempat kerja sebagai keluarga. Kami sudah dekat satu sama lain, tertawa dan menangis bersama, pokoknya berat sekali jika harus berpisah dengan mereka.

Saya punya alasan lain yang membuat hati saya mantap untuk menjadi mompreneur, apa sajakah itu?

Ingin Lebih Dekat dengan Anak dan Suami

Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner
Bisa selalu bersama anak & suami adalah dambaan saya

Alasan pertama ini banyak diutarakan oleh ibu-ibu karena sejatinya seorang ibu pasti ingin dekat dengan keluarga. Namun alasan tertentu kadang mengharuskan seorang ibu harus bekerja di luar rumah bahkan jauh dari keluarga untuk sekedar bertahan hidup, agar bisa membantu ekonomi keluarga. Ah, intinya kalau jadi mompreneur tuh enaknya bisa dekat dengan anak karena setiap hari bisa bertemu mereka di sela-sela mengelola bisnis.

Bekerja Sesuai Passion

Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya jika menulis adalah passion saya. Bekerja sesuai passion itu sangat menyenangkan, ada yang mau menyangkal? Passion itu yang seperti apa sih? Ya sesuatu yang jika dikerjakan tidak pernah membuatmu mengeluh, kamu melakukannya dengan senang hati, dan yang pasti melakukan passion itu bisa bikin hati bahagia.

Setelah sadar jika menulis bisa menghasilkan uang, kenapa tidak menjadikan passion tersebut sebagai profesi? Saya pun memutuskan menjadi mompreneur di bidang kepenulisan. Misalnya dengan memonitize blog, menjadi mentor dalam training kepenulisan online yang telah saya lakukan beberapa kali di agen kepenulisan Joeragan Artikel, ataupun menjadi kontributor dalam beberapa media online.

Membantu Menopang Ekonomi Keluarga

Bagi saya menikah itu merasakan susah dan senang bersama suami meskipun tanggung jawab sepenuhnya ada ditangan suami. Bisa menghasilkan uang sendiri bukan berarti saya tidak boleh merengek minta uang belanja pada suami. Bisa mencari uang sendiri saya anggap sebagai karunia dan berkah dari Allah SWT sehingga saya bisa menyisihkan uang untuk menabung.

Bisa menabung bukan berarti saya tidak butuh suami toh? Saya akan tetap membutuhkannya, tapi alhamdulillah kami bisa berjalan bersama menapaki lika-liku mahligai pernikahan dengan saling menopang. Bukankah menikah berarti saling melengkapi? So, dengan menjadi mompreneur saya bisa membantu suami agar kehidupan kami tetap bisa berjalan sesuai takdirNya. Amiin

Mandiri Secara Finansial

Mandiri secara finansial berarti saya mampu berpenghasilan sendiri sehingga tidak bergantung pada suami dalam keinginan membeli peralatan rumah tangga atau suatu barang tertentu. “Tidak bergantung” bukan berarti saya tidak membutuhkannya. Namun, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi suatu hari nanti, meskipun dalam setiap sujud kita pasti berdoa agar selalu sehat.

Alangkah baiknya jika mempersiakan diri sebelum sesuatu buruk terjadi? Naudzubillah ya...
Terlepas dari segala kemungkinan-kemungkinan yang ada di pikiran, mandiri secara finansial termasuk bonus yang akan saya dapatkan jika menjadi mompreneur. Bonus rezeki lebih yang saya dapatkan ketika bisa membersamai tumbuh kembang anak sambil mengelola bisnis.

Bebas Berlibur Kapan Saja 

Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner
bahagia itu bisa berlibur kapan saja bersama anak dan suami tercinta

Coba ngacung! Siapa yang nggak pengen bisa berlibur sesuka hati? Hahaha. Kayaknya tangan saya yang ngacung paling tinggi deh. Pasalnya selama ini saya harus menahan diri untuk nggak bisa traveling sesuka hati, kalau nggak liburan yang nggak bisa traveling. So, menjadi mompreneur sukses adalah target saya di tahun 2018 agar bisa berlibur sesuka hati bersama my little family, tentunya dengan planning yang matang ya.

Persiapan Menjadi Mompreneur yang Visioner

Setelah dipikir-pikir menjadi mompreneur tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi saya tetap yakin untuk resign dari pekerjaan kantor dan menjadi mompreneur, untuk itu saya menyiapkan beberapa strategi atau planning yang akan saya terapkan untuk menjadi mompreneur yang visioner.

Manajemen Waktu

Memperbaiki manajemen waktu adalah target utama yang akan saya kelola dengan baik. Kenapa? Setelah saya evaluasi, manajemen waktu saya sangat buruk. Saya akan merombak secara besar-besaran aktivitas saya di rumah dengan memaksimalkan manajemen waktu, yakni membuat to do list, disiplin dan konsisten, membuat prioritas pekerjaan, mengupdate waktu pekerjaan, dan lebih fleksibel dalam melakukan segala aktivitas.

Manajemen Keuangan

Selain manajemen waktu, hal yang paling krusial untuk beralih profesi sebagai mompreneur adalah manajemen keuangan. Bagaimana tidak? Jika uang kas usaha selalu bobol untuk konsumsi harian, masih mungkinkah usaha yang dijalankan bisa berhasil? Nah, hal inilah yang akan menjadi perhatian nomor dua setelah manajemen waktu. Saya harus bisa memisahkan uang usaha dengan konsumsi rumah tangga agar usaha yang dijalankan bisa menghasilkan untung maksimal.

Komunikasi

Berikutnya adalah menjalin komunikasi yang baik dengan suami dan keluarga lain. Bukan berarti komunikasi selama ini kurang baik, tapi untuk resign dari pekerjaan saya harus dapat meyakinkan suami bahwa saya mampu menjadi mompreneur. Saya juga harus bisa meyakinkan kedua mertua (yang tinggal bersama kami) jika resign dari kantor adalah sebuah pilihan yang harus saya jalani
demi menjadi mompreneur.

Baca juga: Berbicara Tanpa Berpikir

Bisa jadi mereka menentang keputusan saya, terlebih orang tua kandung yang telah membesarkan dan menyekolahkan saya hingga sarjana. Namun, dengan tekad dan niat yang kuat, serta komunikasi yang baik insyaallah saya dapat meyakinkan mereka semua. Amiin

Memilih Usaha Sesuai Passion

Tentu saja persiapan matang sudah saya lakukan untuk resign dari pekerjaan saat ini, pegawai tata usaha. Jujur saja, saya berani memikirkan resign karena saya sudah mempunyai persiapan tentang apa yang akan saya lakukan setelahnya. Saya punya toko alat tulis yang telah berjalan selama 3 tahun dan melalui freelance writing saya juga dapat menghasilkan uang. Dengan memiliki usaha sesuai passion, saya bisa lebih mudah menjadi mompreneur karena dapat mengelolanya dengan senang hati sembari membersamai tumbuh kemb  ang anak-anak.

Baca juga: Ngeblog Bikin Hidup Lebih Hidup

Selalu Menjaga Semangat kerja

Menjaga semangat kerja memang tidak mudah tapi tetap harus diusahakan apalagi jika menjadi mompreneur. Tidak seperti bekerja di kantor yang bisa bertemu orang berbeda setiap hari, bekerja di rumah tentu saja akan mendatangkan kebosanan. Namun, hal tersebut bukanlah masalah besar, saya akan berusaha mengatasinya dengan berjalan-jalan santai di sekitar rumah bersama anak-anak, berkunjung ke rumah teman atau saudara, atau traveling murah ke tempat yang dapat kami jangkau dengan mudah. Insyaallah kebosanan akan sirna.

Selain itu, semangat kerja akan selalu hadir jika tubuh dan stamina juga kuat. Maka saya selalu menjaga kesehatan dengan memberikan asupan bergizi untuk tubuh, seperti rutin mengonsumsi buah dan sayur, serta selalu minum air putih lebih dari cukup. Tak lupa olahraga teratur bersama anak-anak dan suami, bukan cuma saya lho yang harus sehat melainkan seluruh anggota keluarga.



Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner
menjadi mentor sebuah training membutuhkan stamina yang prima agar bisa konsentrasi, untung ada Theragran-M


Saking senangnya menulis, jika kebetulan banyak job (amiin)  terkadang saya malas ke pasar untuk membeli buah-buahan. Nah, agar tubuh tak kekurangan vitamin dan mineral saya selalu sedia Theragran-M. Saya mengenal Theragran-M setahun yang lalu dan bersyukur sekali, ternyata multivitamin-mineral ini cocok untuk seseorang yang membutuhkan dukungan daya tahan tubuh maksimal.

Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner
kandungan vitamin dan mineral pada Theragran-M dapat membantu memelihara daya tahan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan setelah sakit


Penurunan daya tahan tubuh bisa menyebabkan berbagai penyakit, maka biasanya saya mengonsumsi Theragran-M yang telah diresepkan oleh para dokter sejak tahun 1976 ini. Dibuat oleh PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk., tablet salut gula ini halal kok, buktinya ada logo halal MUI di pojok kanan atas kemasan. Satu strip berisi 4 tablet, produk ini dapat diminum 1 tablet sehari setelah makan atau sesuai anjuran dokter.
Tubuh sehat awal dari mencapai kesuksesan, ingin jadi mompreneur visioner ya harus selalu sehat. Jika perlu konsumsi Thragran-M Multivitamin dan Mineral saat membutuhkan stamina yang oke.

Itulah resolusiku tahun 2018, menjadi mompreneur yang visioner. Sekarang sih saya masih tahap persiapan untuk resign dan berharap tahun 2018 akhir nanti saya telah menjadi mompreneur sukses. Amiin. Tunggu kisah saya setelah resign dan beberapa perjalanan saya menjadi mompreneur ya!
Kalau kamu? Apa resolusimu di tahun 2018? Yuk, sharing di kolom komentar! Terima Kasih.

Sunday, December 17, 2017

Lima Tempat Wisata Park Theme yang Bisa kamu Kunjungi Saat Liburan Ke Malang


Lima Tempat Wisata Park Theme - Malang adalah salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki banyak tempat wisata. Tak heran jika saat liburan tiba Malang akan penuh sesak oleh kendaraan besar dari luar kota menuju tempat wisata yang tersebar di kota bunga ini. Baik di Kabupaten atau Kota Malang, kamu akan menjumpai pesona dan panorama alam yang memanjakan mata, Guys.

Saking banyaknya tempat wisata di Malang, satu atau dua hari saja tidak akan cukup kamu habiskan untuk menikmati potensi wisata yang ada di kota pelajar ini. Bermacam-macam wahana wisata dapat kamu kunjungi, mulai dari taman kota, pantai, waterpark, hingga tempat wisata dengan park theme-nya. Ini dia, Guys, 5 tempat wisata park theme di Malang yang bisa kamu kunjungi saat liburan nanti.

Jatim Park 1

 
Lima Tempat Wisata Park Theme yang Bisa kamu Kunjungi Saat Liburan Ke Malang
atraksi 360 derajad pendulum di Jatim Park 1(sumber: https://jtp.id)

Terletak di Batu, Kota Apel yang terkenal kesejukannya, Jatim Park 1 adalah salah satu dari park theme yang ada di Malang. Berkonsep eduwisata, Jatim Park 1 menyuguhkan wahana edukasi dan wisata yang dilengkapi dengan Science Stadium yang berisi galeri belajar serta alat peraga ilmu terapan. Pastinya cocok sekali untuk mengajak anak-anak ke tempat ini untuk berlibur sekaligus mengenalkan ilmu pengetahuan. Tak hanya itu, Jatim Park 1 juga menyediakan aneka wahana yang dapat dinikmati bersama anggota keluarga.

Hanya dengan membayar satu kali tiket terusan, kamu dapat menikmati lebih dari 50 wahana di tempat ini. Beberapa wahana yang dapat kamu coba, antara lain superman coaster, sky ride, 3600 pendulum, waterboom, galeri etnik, science center, volcano coaster, dan masih banyak lagi.

Museum Satwa dan Secreet Zoo

 
Lima Tempat Wisata Park Theme yang Bisa kamu Kunjungi Saat Liburan Ke Malang
Serunya bermain di Batu Secret Zoo

Museum Satwa dan Secret Zoo adalah wahana wisata di Jatim Park 2. Terletak di Jl. Oro-oro Ombo No. 9 Kota Batu-Malang Museum Satwa dan Jatim Park 2 menawarkan wisata yang mengedepankan tentang alam dan satwa liar. Salah satu tempat rekreasi dan taman belajar ini selalu ramai, tidak hanya saat weekend saja tapi juga weekday (hari-hari biasa). Berbeda dengan Jatim Park 1 yang dikhususkan memberikan pembelajaran kepada anak-anak, Museum Satwa dan Secret Zoo memiliki koleksi binatang yang lebih banyak

Baca juga: Ada Apa di Eco Green Park?

Dibuka sejak pukul 10.00 WIB hingga 18.00 WIB, kamu dapat menikmati berbagai bentuk replika dan hewan yang diawetkan dari segala penjuru dunia, termasuk replika tulang dinosaurus seperti di film terkenal Jurasic Park. Sedangkan di Secret Zoo kamu bisa belajar tentang berbagai macam hewan dari dalam dan luar negeri. Selain itu ada juga permainan anak yang atraktif untuk dinikmati sembari belajar satwa.

Eco Green Park

Lima Tempat Wisata Park Theme yang Bisa kamu Kunjungi Saat Liburan Ke Malang
foto bersama burung di Eco Green Park

Mengusung tema Green Eart, Eco Green Park hadir untuk memberikan pengetahuan alam yang dikemas secara apik untuk dinikmati pengunjung. Ternyata, Eco Green Park adalah bagian dari Jatim park 2 yang letaknya berdekatan dengan Museum Satwa dan Secreet Zoo. Di Eco Green Park, Anda akan menjumpai berbagai macam serangga dan unggas dari mancanegara, juga berbagai wahana yang mengusung tema budaya, alam, lingkungan, dan seni yang mendidik, menarik, dan inspiratif. Ada pula patung-patung seni yang terbuat dari barang daur ulang seperti robot transformer dari onderdil mobil, gajah dari monitor computer/tv bekas, kerbau dari potongan kayu bekas, hingga robot dari hape bekas

Predator Fun Park

Lima Tempat Wisata Park Theme yang Bisa kamu Kunjungi Saat Liburan Ke Malang
gerbang depan Predator Fun Park

Predator Fun Park adalah taman wisata yang menyuguhkan hewan predator, berupa buaya dan ikan buas dikemas secara unik dan tak kalah menarik dibandingkan wahana wisata lainnya di Kota Batu. Di tempat wisata ini kamu akan disuguhi berbagai replika buaya dan ikan buas lainnya. Tak hanya itu, buaya dan ikan buas asli juga dapat kamu nikmati lho, Guys! Kamu juga bisa memberi mereka makan dan juga berfoto bersama ikan yang kamu dapat saat memancing. Menarik sekali, bukan?

Ada juga area untuk bersenang-senang, seperti playground, rumah sesat, area trampoline, family fun house, waterpark, rumah disko, berburu salamander, dan rumah hantu (eit, rumah hantunya seram lhoo, saya gak berani masuk, hihii). Setiap permainan dapat mengasah motorik anak dan kerjasama antar anggota keluarga.

Jatim Park 3

Tempat wisata baru bernuansa theme park di Kota Batu Malang yang bisa kamu kunjungi adalah Jatim Park 3.Sebagai salah satu bagian dari Jatim Park Grup, tempat wisata berkonsep Dino Mall ini menyuguhkan wahana wisata yang berbeda dengan Jatim Park 1 dan 2, meskipun ada beberapa persamaan yang dimiliki ketiganya. Dibangun di atas lahan seluas 6 hektar, Jatim Park 3 juga akan menghadirkan Dino Down Town, The Legend Star, Music Gallery, Hi-Tech Multimedia, dan Invinity.

Eh, ternyata saya lahir dari telur Dino, wkwkwk (Dino Park di Jatim Park 3)

Baca juga: Awas! Ada Dino Park di Jatim Park 3

Di Jatim Park 3 kamu juga bisa naik kereta berkapasitas 50 orang untuk mengunjungi lima zaman dinosaurus, wow, menarik sekali, bukan? Tidak jauh berbeda dengan Jatim Park lainnya, tujuan utama wahana wisata yang ada adalah untuk edukasi dan entertainmen yang bermanfaat sebagai tempat belajar yang menyenangkan.

Itulah lima tempat wisata park theme di Malang yang bisa kamu kunjungi selain tempat wisata lainnya. Tunggu apa lagi? Segera susun rencana untuk mengunjungi kelimat tempat tersebut pada liburan panjangmu.