Rabu, Maret 22, 2017

Menjadi Wanita yang #MemesonaItu adalah Anugerah


Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
D'Masiv-Jangan Menyerah

Tahu kan lirik lagu D’masiv berjudul “Jangan Menyerah.” Saya suka lagu ini, seakan selalu memberikan dorongan positif kepada setiap pendengar. Begitu juga saya yang hampir selalu merasa tidak sempurna dengan keadaan. Saya yang tidak pernah langsing, tidak punya banyak uang, tidak jenius, dan masih banyak lagi kekurangan yang saya miliki.

Tapi setiap kali mendengar lagu “Jangan Menyerah” saya merasa lebih beruntung daripada orang lain yang mungkin lebih menderita dari saya. Saya menyadari jika bisa menyukuri apa yang ada maka hidup adalah anugerah. Tetap menjalani hidup ini dengan melakukan yang terbaik.

Seiring berjalannya waktu saya menikah dengan seseorang yang membuat saya semakin bersemangat menjalani hidup. Tak ada lagi keputusasaan dan merasa sempurna. Kami memang tidak sempurna, tapi kami berusaha saling melengkapi untuk menjadi sempurna. #MemesonaItu saat suami dapat menerima diriku apa adanya. Oleh karenanya, setelah menikah saya dapat menyimpulkan arti kata memesona sebagai berikut.

#MemesonaItu, The Real Mom



Menjadi ibu adalah anugerah setiap wanita. Siapa sih yang tidak ingin dikarunia anak dalam pernikahannya? Meskipun ada juga wanita yang terpaksa membuang anaknya, saya yakin bukan karena tidak ingin menjadi ibu melainkan belum siap.

Bagi saya menjadi “the real mom” dimulai dari saat wanita mengandung, melahirkan, dan mendampingi tumbuh kembangnya. Bukan berarti wanita karir belum benar-benar menjadi seorang ibu, karena saya juga bekerja di luar dan harus merelakan si kecil bersama ayahnya di rumah. Bukankah wanita karir juga mengandung, melahirkan, dan menyusui anaknya? Hanya saja waktu mereka membersamai anak-anak terkadang minim.

#MemesonaItu saat seorang wanita bisa menjadi “the real mom” dan bukan ibu abal-abal. Mengapa saya katakan abal-abal Karena banyak sekali wanita yang telah melahirkan anaknya namun tidak memperlakukan mereka sebagai seorang anak. Kurang memberikan kasih sayang sepenuh hati, asal dikasih makan, dikasih uang, kebutuhan anak terpenuhi, ya sudah. Jika begitu seorang ibu tak ada bedanya dengan pelayan atau pembantu.

The real mom akan dapat memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada anak-anaknya. Tidak setengah setengah bahkan rela memberikan nyawa, jika perlu. Namun tetap dalam porsi yang benar, tidak kurang dan tidak lebih. Dengan begitu seorang ibu benar-benar menjadi ibu yang sesungguhnya. Memesona sekali bukan?

#MemesonaItu, Bisa Menjadi Kekasih yang Dirindukan



Hal kedua yang membuat saya selalu memesona adalah bisa menjadi kekasih yang selalu dirindukan suami dan anak-anak. Tidak peduli sesibuk apapun hari-hari saya, suami dan anak-anak selalu merindukan kehadiranku. Sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang putri, saya selalu berusaha untuk menghadirkan quality time di dalam keluarga kecilku.  

Terbukti suami dan anak-anak selalu merindukan masakan saya yang tidak mewah seperti masakan restoran namun berbumbu cinta dan kasih yang melimpah. Mereka selalu merindukan omelan dan ocehan saya, sepi katanya jika saya menjadi pendiam bahkan satu hari saja. Itulah mengapa #memesonaitu, bisa menjadi kekasih yang selalu dirindukan di dalam keluarga kecilku.

#MemesonaItu, Bisa Berdampingan dengan Ibu Mertua

Menikah bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga dua keluarga. Setelah menikah, seorang wanita tidak hanya harus beradaptasi dengan suami baru, tapi juga keluarga dan mertua. Banyak yang mengatakan lidah mertua itu tajam, hingga ada tanaman bernama lidah mertua (bentuk ujungnya runcing). Ah, tidak juga. Tergantung sikap dan pola pikir masing-masing.

Bagi saya, ibu mertua adalah ibu yang melahirkan suami, berarti ibu saya juga. Berbeda dengan ibu kandung, yang telah kukenal sejak kecil. Ibu mertua baru bisa kukenal setelah saya hidup bersama suami, sebagai istri tentunya. Seperti halnya menghadapi suami baru yang terkadang berbeda pemikiran dengan saya. Menghadapi mertua juga sama. Harus lebih dalam menjajagi setiap hal bersama beliau, yang pada akhirnya saya dan ibu mertua bisa berdampingan.

Berdampingan dengan ibu mertua berarti bisa hidup bersama, saling menyayangi dan mengerti, tanpa ada perselisihan sedikitpun merupakan hal yang memesona. Saat mendengar kisah teman-teman dan orang lain tentang perselisihan dengan mertuanya, saya merasa sangat beruntung karena belum pernah sekalipun mengalaminya.

#Memesonaitu, Pandai Mensyukuri Kenyataan

Untuk apa hidup jika tak pandai bersyukur? Begitu pikir saya. Berwajah cantik, tapi tidak bersyukur juga percuma. Punya suami kaya, tapi tidak mensyukuri juga sia-sia. Masih mending yang punya wajah pas-pasan atau memiliki suami tidak berduit tapi bisa mensyukuri keadaan, hidup lebih enjoy.

Bagi saya #memesonaitu jika kita bisa menyukuri setiap detik waktu yang kita lalui. Kanyataan hidup yang harus kita hadapi. Entah baik ataupun buruk, itu kan penilaian kita. Kalau menurut Tuhan itu yang terbaik, bagaimana? Diberi hidup adalah suatu anugerah, jangan disia-siakan. 

Yap, begitulah #memesonaitu menurutku, kalau kamu? Yuk, tulis #memesonaitu versi dirimu, klik banner berikut ya!
 pancarkan pesonamu

Senin, Maret 20, 2017

Menikmati Minuman Tradisional di Kendi Bistro


Jika mendengar kata minuman tradisional, kira-kira apa yang Anda pikirkan? Ya, ada bandrek, bajigur, wedang ronde, es dawet, skoteng, dan masih banyak lagi.

Pernahkah terpikirkan jika minuman tradisional juga dapat kita nikmati di restoran?

Sebelum datang ke Kendi Indonesian Bistro, tak pernah terpikir sekalipun jika ternyata minuman tradisional seperti yang saya sebutkan dapat dinikmati di restoran, tentunya dengan konsep mewah. Restoran gitu loh!!

Agak surprise juga pas tahu kalau restoran ini juga menyediakan menu jamu dan aneka wedang. Saya yang terlalu "katrok" alias kampungan ataukah memang saat ini masa sedang berputar kembali ke masa lampau, namun dengan konsep modern? 😏

Baca juga: Menikmati Sensasi Keju Luar Biasa di Cheeseburry

Di tengah maraknya restoran berkonsep western, Kendi Indonesian Bistro, sesuai namanya menghadirkan menu masakan Indonesia. Dalam bahasa perancis, bistro berarti restoran kecil. Tapi, dari segi tempat Kendi Indonesian Bistro bukan sebuah restoran yang kecil loh sodara-sodara. Dari luar aja tampak imut, tapi kalau sudah masuk, hehm... bawaannya pengen ngajak emak, bapak, kakak, adek, nenek, dan tetangga juga kalau mau. Abisnya, Kendi Bistro nih nyaman banget.


Terdiri dari tiga lantai dengan konsep yang berbeda, menambah kenyamanan pengunjung. Bagi Anda yang ingin menikmati makanan dan minuman tradisional, stay di lantai satu aja. Sedangkan yang ingin tempat yang lebih cozy bisa ke lantai tiga yang tersedia bar dan area smooking.

Sabtu, Maret 18, 2017

Tips Ajak Anak Ke Dokter Gigi Tanpa Takut


Anak Anda takut pergi ke dokter gigi?

Memang, beberapa anak takut pergi ke dokter gigi. Entah apa yang mereka bayangkan tentang dokter gigi, mungkin melihat banyaknya peralatan, kursi yang besar, atau apa yang akan dilakukan pada giginya nanti? Macam-macam masalah dapat menyerang gigi anak-anak, seperti gigi berlubang, gigi sundul, gusi bengkak, maupun gigi berkerak dan menghitam. Berikut ini tips yang dapat dilakukan untuk mengajak anak ke dokter gigi tanpa takut.

1. Bermain Peran Dokter Gigi

Mengenalkan sosok dokter gigi kepada anak sangatlah penting. Jika perlu kenalkan melalui sebuah permainan yang menyenangkan sehingga tidak ada ketakutan pada anak. Jangan sampai anak merasa bahwa dokter gigi adalah orang yang kejam karena harus mencabut gigi anak-anak atau orang lain.

Bermain peran sebagai dokter adalah cara yang ampuh untuk menghilangkan ketakutannya. Anda bisa berperan sebagai dokter gigi dan anak-anak sebagai pasien. Hilangkan stigma bahwa dokter gigi itu menyeramkan. Lakukan peran bahwa dokter gigi itu menyenangkan karena bisa membersihkan gigi dengan alat yang canggih.

Baca juga: Gigi Susuku Kesundulan


2. Hindari Sugesti Negatif

Berhati-hatilah ketika anak-anak tidak mau menyikat gigi, lalu Anda bilang "nanti diperiksa ke dokter gigi lho, sakit lho, nyeri lho", secara tidak langsung Anda telah memberikan sugesti negatif tentang dokter gigi. Coba deh bilang, "besok kita periksa jumlah gigi kakak ke dokter gigi yuk! Pasti dokter gigi suka lihat senyum kakak yang manis" pasti si kecil meng-iyakan dan memberikan kesan bahwa dokter gigi itu baik dan tidak menakutkan


3. Stop Janji Manis

Alih-alih memberikan janji manis berupa permen, mainan, atau barang kesukaan anak saat ia mau pergi ke dokter gigi, coba berikan pujian misalnya dengan mengatakan "wow, kakak hebat dan berani ya!" atau "pintarnya anak Bunda, bersikap baik pada bu dokter".

Namun, tak ada salahnya sesekali memberikan hadiah sebagai kejutan untuk menyenangkan hati anak serta meningkatkan semangatnya.

Jumat, Maret 17, 2017

Gigi Susuku Kesundulan


Pernahkah Om dan Tante atau teman-teman sekalian cabut gigi? 

Kata Bunda, biasanya anak lima tahun paling takut pergi ke dokter gigi meskipun hanya diperiksa, apalagi untuk cabut gigi. Tapi tidak denganku, kata Bunda aku anak yang pemberani dan hebat. Buktinya aku berani mencabutkan gigi susuku ke dokter. Hebat bukan?

Hai, namaku Dzakiyyah Nayla Khansa, biasa dipanggil Sasa. Kemarin aku pergi ke dokter gigi yang kedua kalinya. Saat pertama, aku pergi mencabutkan gigi susuku yang sudah goyang tapi tak kunjung tanggal. Bahkan saat gigi dewasa sudah muncul, gigi susuku masih bertahan dan hanya bergoyang-goyang saja saat kupegang.

Baca Juga: UGD Drama Korea VS UGD Versi Saya

Kata Bunda, jika gigi susu tak juga tanggal, maka tak akan ada tempat untuk gigi dewasa alias kesundulan. Jika dibiarkan gigiku bisa jelek alias tidak teratur. Iiih, aku gak mau jadi jelek lalu kuajak Bunda ke dokter gigi untuk mencabut gigi susu. Bunda senang bukan main karena tidak perlu membujukku untuk mencabutkan gigi, malah aku yang minta. Hehehe.

Kali ini aku akan menceritakan kisahku saat kedua kali aku mencabut gigi.

Aku dan Bunda berangkat jam 08.45, sesampai di puskesmas Bunda memencet nomor antrian yang tampak keren bagiku karena setelah dipencet mesin itu mengeluarkan dua lembar kertas. Kuperhatikan Bunda menaruh kertas bertuliskan nomor antrian ke dalam sebuah kotak kecil di depan loket antrian. Baru kutahu jika kami harus menunggu nomor antrian itu diambil untuk kemudian kami dipanggil melalui sebuah sound otomatis.
mesin nomor antrian dan aku yang sedang memegang nomornya

Kukira, setelah mendapatkan nomor antrian itu aku akan segera masuk menemui dokter gigi, eh ternyata masih harus menunggu lamaaaaa sekali. Rasanya lebih lama daripada harus menunggu iklan saat aku nonton upin ipin. Untuk menghilangkan rasa bosanku, Bunda menyarankan untuk jalan-jalan dan melihat-lihat sekitar puskesmas. Tiba-tiba saja pandanganku menuju sebuah papan berkaca yang membuatku penasaran. Isinya tentang kayu dan akar-akaran yang pernah kulihat didapur saat bersama Bunda, tapi tampak dikeringkan. Lucu dan unik.

Kusingkirkan rasa bosan dengan membaca semua tulisan di mading ini

Rasa bosanku sedikit berkurang, tapi nomor antrianku belum juga dipanggil. Padahal kata Bunda sudah satu jam lebih kami menunggu. Kira-kira dokter giginya siapa ya? Apakah sama dengan dokter yang telah mencabut gigi susu saat pertama kali tanggal?
Tak sabar ingin segera masuk, sesekali kuintip ruangan klinik gigi

Sesekali aku mengintip ruang klinik gigi, samar-samar kulihat dokter berbincang-bincang dengan pasiennya. Lalu, kapan giliranku? "sabaar, bentar lagi dipanggil" Bunda menenangkan padahal rasanya Bunda bilang gitu setiap kali kubertanya. hehehe

Jumat, Maret 10, 2017

5 Larangan pada Ibu Hamil (versi ibu), Bukan Sekedar Mitos



Ibu-ibu pernah baper gara-gara mitos kehamilan? Kalau bapak-bapak mungkin pernah galau juga gegara istri percaya banget dengan mitos seputar kehamilan?

Mitos, wacana tentang sesuatu yang diyakini, kadang-kadang emang bikin baper atau sebel. Keberadaan mitos biasanya erat kaitannya dengan adat istiadat yang bersifat tradisional. Tapi keberadaannya juga tidak bisa disisihkan begitu saja, tidak semudah menutup buku, banyak hal yang harus dilalui untuk merubahnya. Salah satunya mitos tentang ibu hamil yang beredar di masyarakat tertentu.

Mitos tentang ibu hamil yang berkembang dan dipercaya ini bisa mempengaruhi kualitas kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandung lho, Bu. Apalagi jika ibu hamil sangat percaya pada mitos yang belum tentu kebenarnnya. Belum lagi berbagai keluhan yang harus diatasi seperti mual dan muntah. 

Padahal, kesehatan ibu akan sangat berpengaruh pada kesehatan janin dan bayi yang akan dilahirkan. Jika ibu sehat, janin yang dikandung sehat, dan bayi yang dilahirkan juga sehat. Bayi yang terlahir sehat akan menentukan kualitas kehidupan anak hingga dewasa kelak.

Kembali kepada mitos, beberapa ibu hamil mungkin percaya dan jadi baper, namun ada juga yang tidak meyakini dan menganggap mitos pada ibu hamil bagaikan sebuah dongeng belaka. Ada banyak sekali mitos tentang ibu hamil, setiap daerah juga pasti berbeda. Berikut lima larangan pada ibu hamil (versi ibu). Namun benarkah hanya sekedar mitos?

1. Duduk di Depan Pintu

Ketika hamil, ibu selalu mengingatkan saya untuk tidak duduk di depan pintu yang sedang terbuka. Saya tanya kenapa? Kata ibu nanti pas waktunya melahirkan bayinya susah keluar. Oh ya? Dengan wajah penuh tahi lalat, #eh penuh tanda tanya saya berpikir. Masa iya sih?

Secara logika sih ada benarnya juga. Coba bayangkan, ibu hamil dengan perut buncitnya duduk di depan pintu yang sedang terbuka. Bisa-bisa kalau ada orang lewat, saking bulatnya tuh perut dikira bola, hahaha. Syukur-syukur gak sampai ditendang.

Memang tidak ada hubungannya duduk di depan pintu dengan ibu yang susah melahirkan. Tapi jika dipikir, supaya orang yang lewat tidak terhalang dan perut bulat selamat dari tendangan kaki nyasar #ihserem

2. Membuka Ikatan dengan Gunting atau Pisau

Ingat, jangan pernah membuka ikatan sesuatu dengan gunting. Ibu menjelaskan dengan penuh wibawa. Berharap, anaknya yang sedang hamil, yaitu saya menuruti larangannya. Lagi-lagi saya bertanya, dan ibu menjawab jika itu akan mempersulit kelahiran. Kalau ingin lahiran lancar, turutin aja! Nah loe, gemetar deh. Hehehe.

Apa hubungannya membuka ikatan pakai gunting dengan melahirkan normal. Meskipun begitu aku menurutinya saja, maklum hamil anak pertama aku jadi was-was dan ingin lahiran normal. Setiap kali hendak membuka simpul pada plastik, saya buka dengan sabar. Meskipun jari sampai lecet, saya tetap berusaha. Gunting sengaja saya jauhkan dari dapur dan saya simpan di almari.

Lha, kalau di dapur selalu ada pisau. Sering tergoda untuk menggunakannya jika tidak berhasil membuka ikatan suatu pembungkus. Tapi teringat pesan ibu. Kupanggil dong suami untuk membantu membuka dengan pisau atau gunting, yang penting bukan saya.

Tak terasa, selama hamil saya berhasil mematuhi perintah ibu. Benar saja, saya melahirkan normal dan berusaha sekuat tenaga dan sabar saat melahirkan. Barulah saya sadar jika pesan ibu untuk tidak mengunakan gunting untuk membuka pembungkus adalah untuk melatihku bersabar.

Tidak kalah pentingnya adalah keinginan kuat yang ditanamkan ibu, “jika ingin melahirkan normal, jangan ini dan itu”. Jadi jangan berprasangka buruk dulu saat ada pesan aneh ketika teman-teman hamil. Pasti ada hikmahnya.

3. Makan di Kamar Tidur

Sempat takut juga ketika ibu melarangku makan di dalam kamar tidur, alasannya karena dapat mengakibatkan sang ibu ketiduran saat melahirkan. Percaya gak ya?

Mari berpikir lagi, untuk apa juga makan di dalam kamar? Toh sudah ada meja makan, entah di dapur atau ruang makan. Ya, siapa tahu aja ibu hamil ingin ngemil sambil rebahan di tempat tidur. Memang ibu hamil suka aneh-aneh, dan kalau gak diturutin bisa ngambek seminggu, #eh, hehehe.

Sebaiknya ibu hamil menghindari makan di tempat tidur, selain untuk menjaga kebersihan tempat tidur juga tidak baik dari segi kesehatan. Apalagi jika dilakukan sambil berbaring, bisa mengganggu pencernaan.

Jadi, tidak ada salahnya menganggap mitos sebagai hal yang positif. Tidak harus percaya, hanya mengunakannya jika ternyata ada dampak positifnya, why not?


4. Membunuh Hewan dengan Sengaja

Mitos yang satu ini tidak hanya membuat ibu hamil baper, tapi juga suami jadi galau. Pasalnya, tidak hanya ibu hamil yang dilarang membunuh hewan tapi juga sang suami. Semua jenis hewan, jika perlu semut dan kecoa juga. Kalau nyamuk? Bisa bentol-bentol dong kalau gak dibasmi, hehehe.

Mengapa? Konon bayi yang dilahirkan akan memilii tanda atau karma dari hewan yang dibunuh.
Untuk mitos membunuh hewan, ibu saya punya pengalaman yang kata beliau nyata, sehingga ibu selalu mengingatkan saya untuk membunuh hewan, apapun itu, selama hamil.

Ceritanya nih, kakak saya punya jari kaki tanpa kuku yang melengkung mirip kepiting (istilah jawanya “kuther”). Singkat cerita, saat hamil ibu hendak memasak kepiting dan memotong kaki kepiting. Ibu kasihan melihat kepiting yang mau dimasak tersebut. Eh, kakak saya lahir tanpa kuku di jari kakinya dan mirip kepiting. Astaghfirullah T_T

Lalu saya tanya ibu, saat beliau mengandung kakak, apakah asupan gizi dan vitamin terpenuhi? Jawaban ibu membuat saya tersenyum dalam hati, karena ternyata ibu memang tidak mendapatkan tambahan vitamin padahal beliau hidup kekurangan dan makan seadanya. Bisa jadi bayi kakak saat di dalam kandungan kekurangan gizi sehingga pertumbuhan bagian tubuhnya tidak normal.

Namun begitu, saya tetap hati-hati saat dengan tidak membunuh hewan secara sembarangan. Bukankah hewan juga ciptaanNya yang ingin hidup, sama seperti kita. Kecuali yang berbahaya saya usahakan untuk tidak membunuhnya. Saya juga lebih memilih memasak ikan yang sudah mati daripada harus menjadi pembunuh, hehehe. Tapi sejauh saya hamil, tidak ada pengaruh apa-apa kepada bayi saya meskipun pernah membunuh hewan, seperti kecoa, semut, nyamuk, lipan, dan ayam.

Satu hal yang bisa kita pelajari adalah mitos “jangan membunuh hewan” saat hamil adalah mengajarkan kepada ibu hamil untuk menyayangi makhluk hidup, termasuk binatang. Jikalau ada bayi yang terlahir cacat, bisa jadi kurangnya asupan gizi yang menyebabkan pertumbuhan organ saat di dalam kandungan kurang sempurna. Dan yang pasti semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendaknya, seorang ibu hendaknya bersabar, mungkin itu sebuah cobaan.

5. Mengejek, Memaki, atau Mengumpat

Siapa sih yang tidak sakit hati saat diejek atau dimaki? Ibu hamil dilarang mengejek orang cacat (fisik ataupun mental). Kata ibu saya, kelak bayi yang dilahirkannya akan memiliki kelainan atau cacat yang serupa dengan orang yang ditertawakannya/diejek. Selain itu juga tidak boleh memaki atau mengumpat orang lain, siapapun mereka. Mengapa? Masih kata ibu saya, dikhawatirkan mereka yang dimaki akan mendoakan hal buruk kepada kita. Naudzubillah!

Kalau pantangan yang satu ini bukannya tidak harus dipercaya, tapi memang harus dipatuhi. Sebetulnya, meskipun mitos ini tidak beredar, siapapun tidak boleh mengejek, memaki, ataupun mengumpat. Coba kalau Anda yang diejek, mau? Kalau Anda yang dimaki, bersedia?

Rabu, Maret 08, 2017

Mual dan Muntah Selama Enam Bulan Saat Hamil?


Saya seorang ibu dari anak berusia tiga tahun ketika memutuskan untuk hamil lagi. Saya dan suami telah berembug kiranya si sulung telah siap untuk diberi seorang adik untuk menemaninya bermain. Lagipula putriku bukan anak yang manja dan tampak tertarik pada anak kecil.

Akhirnya saya hamil anak kedua, bahagia tak terkira sebab tak jauh dari perencanaan bisa hamil. Tak seperti kehamilan anak pertama, saat hamil kedua ini banyak keluhan yang kurasakan. Mual dan muntah hebat mulai usia kandungan 3 hingga 6 bulan. Rasa takut pun muncul tatkala setiap makanan yang masuk selalu kumuntahkan, mencium aroma masakan saya muntah, badan lemas dan tak bersemangat.

Sebagai ibu, tentunya saya mendambakan bayi yang sehat. Rasa takut muncul saat kubaca bahwa usia kehamilan trimester pertama sangat rawan sehingga ibu hamil tidak boleh sakit. Bagaimana jika bayiku kurang nutrisi karena kurangnya asupan makanan dari ibunya?

Kok bisa khawatir gitu? Padahal udah pernah hamil kan?

Iya sih, tapi yang kedua ini beda dengan hamil anak pertama. Pas hamil anak pertama doyan banget makan. Apapun bisa masuk, istilah jawanya “Ngebo” alias kayak kebo, makan dan tidur aja. Hahaha.

Mitos Seputar Mual danMuntah yang Tidak Terjadi pada Saya

Mual dan Muntah Tak Dapat Dihindari Ibu Hamil
Saat belum menikah, seringkali saya mendengar kabar jika ibu hamil tidak bisa menghindari mual dan muntah. Ah, itu sih cuma mitos. Buktinya saat hamil anak pertama saya tidak mual dan muntah sama sekali. Bahkan karena gak tahu kalau hamil, saya ikut donor darah yang menyebabkan kurang darah. Untung begitu telat datang bulan, langsung periksa ke dokter dan tahu kalau hamil.

Bayi Kurang Gizi Jika Ibu Hamil Sering Muntah
Logis juga ya jika setiap makanan dimuntahkan, maka gizi tidak bisa diserap buah hati di kandungan. Tapi alhamdulillah meskipun mual dan muntah selama enam bulan, bayiku lahir dengan selamat tak kurang suatu apapun. Saya pikir, mual dan muntah malah bisa melindungi bayi saat pembentukan organ berlangsung.
Aira, anak kedua saya lahir dengan selamat dan sehat

Mual dan Muntah pada Ibu Hamil karena Stress
Bisa jadi mual pada ibu hamil dikarenakan oleh tingkat stress yang terlalu tinggi. Terlepas dari penyebabnya, stress bisa meningkatkan produksi asam lambung dan membuat ibu mual. Namun, saya tidak stress dan mual masih tetap terasa. Sehingga saya simpulkan, tingkat stress tidak terlalu berpengaruh pada mual dan muntah.

Mual dan muntah yang saya rasakan bisa jadi berbeda dengan ibu hamil lainnya. Karena setiap orang berbeda-beda keluhan saat hamil. Jadi, jika saya bisa menghindari mitos seputar mual dan muntah, belum tentu orang lain bisa. Namun, ada lima tips yang dapat kubagikan kepada setiap ibu hamil, untuk mengatasi rasa mual dan muntah yang berlebih.

1. Bermalas-malasan sejenak
Semua wanita yang pernah mual saat hamil, biasanya akan merasakan ingin muntah saat bangun tidur dan harus segera beranjak dari kasur. Uuhh, pusing dan mual kan? Kalau udah begitu jadi malas beraktivitas.

Nah, untuk mengatasinya, saya bermalas-malasan dulu di tempat tidur. Tidak segera beranjak dari kasur. Biasanya saya juga menyiapkan air putih hangat dan cemilan buah disamping tempat tidur. Berjaga-jaga jika bangun tidur dan mual menyergapku.

Jika mual sudah mereda, barulah saya beranjak dari tempat tidur untuk beraktivitas. Memang tidak mudah ya bunda, apalagi saat hamil memiliki anak berusia tiga tahun. Bisa dibayangkan betapa repotnya. Iya kalau pak suami cool and calm kayak suamiku, kalau enggak? #ecieeh…

2. Ngemil Buah
Selalu bawa buah ke kantor
Wanita mana yang tidak suka ngemil? Hampir semua wanita suka cemilan. Tapi saat hamil dan sering muntah, coba angkat tangan, siapa yang masih suka ngemil? Naaah… pada ngilang deh, hihihi.

Tenang ibu-ibu, saya punya solusinya. Dulu, saat mual pas hamil muda saya suka bawa buah ke kantor. Buah kaya vitamin dan mineral, so pasti aman untuk ibu hamil. Karena kaya vitamin, kuusahakan makan buah setiap hari sebagai pengganti asupan vitamin dari makanan yang seringkali kumuntahkan. Apalagi jika buahnya dalam kondisi dingin, beuh, seger banget. Tapi saya suka bawa buah yang berair dan sedikit beraroma.


Jangan takut dibilang pelit saat harus membawa buah yang terbatas dan gak bisa mengajak teman kantor untuk menikmatinya bersama. Sabar. Mereka pasti tahu kalau ibu hamil butuh banyak vitamin. Misalnya stok buah di rumah banyak, saya bawa semua untuk dinikmati bersama teman-teman di kantor. Kebersamaan itu indah kok.

3. Makan Sesuka Hati
Bukan berarti apa aja yang kuinginkan akan kumakan, karena belum tentu yang masuk ke mulut  bisa bertahan lama di perut. Maksudku makan sesuka hati adalah menyesuaikan hati aja. Saat ingin makan di warung, ya saya pergi ke warung. Tanpa berpikir sedikitpun apakah makanan mengandung MSG ataukah dimasak secara higienis. Hanya satu yang kupikirkan, makanan tersebut masuk ke perut dengan selamat.

Bahkan pernah selama hampir 3 bulan saya makan rujak uleg setiap malam, ketika sejak pagi sampai sore hampir semua makanan kumuntahkan. Gak perih tiap malam makan rujak? Gak diare karena kebanyakan petis? Enggak tuh, emang benar kata orang, hamil itu penuh keajaiban. Heuu…

Ada yang menyarankan untuk makan sedikit tapi sering.  Tapi tetap saja makanan yang sedikit akan kumuntahkan jika perut menolak, entahlah, saya juga gak tahu penyebabnya. Ada juga yang bilang hindari makanan berlemak, ah teori, buktinya saya suka makan gule atau sayur lodeh, asal hatiku senang dan ingin. Pokoknya makan sesuka hati, maka akan sukses tertelan dan bertahan lama di perut.

4. Konsumsi Vitamin
Kalau ini wajib ya, Bu! Sejak merasakan mual dan muntah saya segera periksa ke bidan dan mendapat vitamin B6. Saya gak ingin terjadi apa-apa dengan bayi yang kukandung. Meskipun mual dan muntah setiap hari, vitamin juga tak pernah absen dari jadwalnya. Setiap pagi dan malam. Selain vitamin B6 dari bidan, saya juga mengonsumsi omega squa karena benar-benar takut ada apa-apa. Ternyata nih, setelah minum vitamin mual bisa berkurang. Kira-kira hal itu juga berlaku pada ibu hamil lain apa tidak? Entahlah, saya belum survey. Heuu…
Bersyukur aira tumbuh dengan sehat dan ceria
5. Hindari Stress, Stay Rileks
Stress ternyata bisa mempengaruhi psikologis ibu hamil lho. Gak percaya? Buktikan deh, tapi hamil dulu ya! Hehehe. Lalu bagaimana biar ibu hamil tidak terlalu stress, terutama menghadapi perubahan saat hamil muda? Berikut tips yang pernah kulakukan.

Istirahat cukup selalu kulakkan setiap hari, saya tidak pernah memforsir kegiatan sehari-hari hingga akhirnya membuat stress.

Selalu berpikiran positif juga dapat mengurangi stress. Pikiran negatif akan menambah beban hidup dan ion negatif yang muncul bakalan membuat stress, jadii… saat hamil kuusahakan untuk selalu berpikiran positif.

Melakukan hal yang menyenangkan sangat penting untuk ibu hamil, selain menghilangkan stress juga untuk menghibur bayi yang ada di dalam kandungan. Jangan dikira jika ibu sedih maka bayi bisa bahagia. Oleh karenanya, ibu hamil harus selalu bahagia dengan melakukan hal yang menyenangkan. Sehingga bayi juga ikut senang.

Rasanya seperti ada connector antara pikiran ibu hamil dan bayi di kandungan. Saat saya sedih, sang bayi gelisah dan saat hatiku senang dia bergerak dengan tenang. Oh iya, melakukan hal yang menyenangkan dapat berupa hobi, kalau saya sih suka nonton drama korea yang lucu-lucu, traveling bersama anak dan suami, juga mendengarkan musik klasik.



Jadi, sehat tidaknya bayi dalam kandungan, ibu lah yang dapat menjaganya, siapa lagi?

Menjaga bayi agar tetap sehat sejak dalam kandungan adalah sebuah investasi yang tak ternilai demi kebahagiaan anak di masa yang akan datang.

Minggu, Maret 05, 2017

UGD Versi Drama Korea VS UGD Versi Saya


 “Pasien perlu dirawat berdasarkan seberapa banyak mereka membutuhkan perhatian, tidak dalam urutan kapan mereka muncul”

Ucapan Kim Shabu dalam serial drama Romantic Doctor ini membuat saya semakin gak bisa tidur karena penasaran pada akhir cerita.

Drama korea gak sekedar sukses bikin saya begadang, tapi juga berpikir tentang banyak hal. Ceritanya selalu mengandung makna yang dalam, itu jika kita mau berpikir. Banyak ide segar yang kemudian muncul saat nonton drama korea. 

Barusan saja drama korea Goblin tamat dan meninggalkan kesan begitu mendalam, tokoh utamanya menjadi idaman para pedoman wanita. Tema lain yang saya suka dari drama korea tentang kedokteran. Banyak drama korea tentang dokter yang shooting di rumah sakit ternama, hingga melakukan adegan medis mirip dengan aslinya (#eh, mirip gak ya? Meyakinkan gitu deh, saya bukan dokter sih).

Beberapa drakor  tema kedokteran yang pernah saya tonton, misalnya Blood, Doctor, Yong Pal, Good Doctor, Angel Eyes (yang ini banyak romansanya), Dae Jang Geum (dokter klasik ini, mah), Descendant Of The Sun (ini juga gak terlalu fokus kedokterannya).

Saat melihat drama kedokteran, salut deh, habis berapa duit bisa setting lokasi mirip rumah sakit? Yang bikin saya suka adalah adegannya itu lho, seakan-akan bedah perut beneran terus saya jadi tahu isi perut itu seperti apa. Kalau beneran, saya gak berani lihat. Nah, drama korea telah memberi saya pengetahuan baru di bidang kedokteran. Meskipun gak hafal, minimal tahu lah biar nggak kudet amat.

Kebanyakan drama korea yang telah saya tonton, menampilkan kejadian di UGD. Saya pernah masuk UGD lantaran DB (Demam Berdarah). Lantas saya sedikit membandingkan, kok gak sama kayak di drama korea? Hahaha… Saya pun kecewa sodara-sodara T_T. Menurut saya, berikut ini perbedaan UGD di drama korea dengan UGD nyata (versi saya lho ya, cateet!!).


Dokternya Ganteng dan Cantik

Dokter Cantik Di Drama Korea
Sumber: Huntnews.id

Emang bener, ganteng/cantik itu relatif, kalau yang suka nonton drama korea sih, pasti mengamini kalau pemeran dokter di drama korea ganteng dan cantik, bahkan dokter magangnya. Namanya juga artis, pastinya dipoles biar kece, ya gak? Adapun yang tampang standar tuh pasiennya, biar beda dengan dokter dan susternya.

The Real is…
Jangan pernah mikir, “kok dokternya gak kece? Kok susternya gak sebaik suster di drakor?”
Hadeeh… buang jauh-jauh pikiran itu ya teman. Kalau saya sih sudah untung ada yang menangani. Boro-boro nanya dokter ganteng atau suster cantik, ngerasain sakit aja udah luar biasa, hehehe
So, bagi teman-teman penggemar drama korea, jangan pernah berpikir ketemu dokter ganteng/cantik atau suster imut-imut. Kalaupun ketemu, anggap aja sedang beruntung. Daebak!!

Pelayanan Secepat Kilat

Pelayanan Dokter di Drama Korea
Sumber: ardinanr.blogspot.co.id

UGD adalah tempat yang memberikan pertolongan pertama bagi pasien yang datang dan menghindari berbagai resiko, seperti kematian. Saat melihat drama korea, yang kebanyakan adegan di UGD, serasa gak takut sakit deh. Seolah jadi tersugesti, kalau sakit masuk UGD aja, pasti langsung ditangani dan terbebas dari maut. Ceileee…

Gimana enggak? Di drama korea tuh jika ada pasien masuk UGD langsung aja perawat berlarian menyambutnya dan beberapa detik kemudian datanglah dokter keren. Tsaaahh…

Tapi setelah tanya “mbah google”, ternyata di korea emang gitu ya, penanganannya cepet, pakai teknologi canggih siih. Tapi ada yang aneh di drama korea, kadang gak daftarin dulu ke loket, langsung diperiksa aja dan kalau parah di rontgen atau CTScan, wuiiih… tampak keren deh pokoknya saking cepetnya penanganan pasien.

The Real Is…
Harus daftar dulu ya ke loket, bayar administrasi awal juga. Saya pernah punya pengalaman mengantar nenek yang mengeluh sakit perut (sakiiiit banget katanya), ke UGD sebuah rumah sakit swasta. Nah, nenek langsung dinaikin ranjang dibawa ke tempat penanganan. Saya disetop suruh ke loket mengurus administrasi.

Setelah selesai, saya tengok nenek masih menegeluh kesakitan tanpa ada dokter yang menangani. Ada sih perawat yang cuma cek tekanan darah aja. Kala itu saya kezel banget, liat nenek yang beraduh ria, eh dokter gak ada yang nongol. Beda jauh pokoknya dengan drakor. Huft…

Pengalaman saya sendiri masuk UGD pas DB. Sama, gak secepat penanganan rumah sakit di drama korea. Saya yang merasa setengah sadar karena badan udah lemez gak bisa ngapa-ngapain masih harus menunggu hasil tes darah setengah jam. Udah minta diinfus, eh, no reken. Pengen marah, gak kuat, hiks.

Giliran hasil tes darah udah nongol, minta ngamar, suster bilang UGD penuh. Ya ampuun… lagi-lagi inget drakor yang UGDnya selalu siap untuk siapapun. Akhirnya saya pindah ke RS lain dan masuk UGD juga, saya bawa hasil tes dari rumah sakit pertama. Eh, masih di tes darah lagi dan nunggu sejaman sampai akhirnya dipasang infus.

Dokter magang dan perawat juga gak cekatan kayak di drama korea. Bandingin lagi deh akhirnya… Heuuu…

So, kalau lagi sakit dan dirawat di UGD yang sabar ya, karena the real emergency room gak secepat penanganan di drama korea. Coba bayangin kalau di drakor tuh pasien harus prosedural kayak UGD beneran, bisa berapa jam tuh mainnya? Wkwkwkwk

Langsung Operasi Tanpa Babibu

Saat Shooting Adegan Operasi
Sumber: dialogdramakorea.blogspot.co.id

Ini yang paling saya suka dari RS di drama korea, tanpa babibu langsung operasi, tentunya setelah diperiksa. Maksudnya gak pakai prosedur yang ribet hingga nyawa pasien dapat tertolong. Bahkan ada juga adegan dimana sang pasien di operasi saat itu juga ditempat terbuka demi menyelamatkan nyawanya. Keren gak tuh? Bangeet. Tapi kenyataannya ada gak yang kayak gitu? Gak tahu. hehehe.

Meskipun ada juga sih adegan yang menunjukkan pasien harus menunggu beberapa hari untuk operasi. Udah gitu dokternya terampil sekali mengoperasi, dokternya terampil, beuh, cakep deh…
Jadi kalau udah nonton drakor kedokteran nih saya jadi mikir “wuih, keren banget nih dokter operasinya” pasien langsung tertolong deh tanpa babibu. Hahaha

The real is…
Kalau kenyataannya saya gak begitu tahu sih ya, soalnya gak pernah operasi. Eh pernah ding sekali, sesar anak kedua. Karena sering lihat operasi di drama korea, saya gak terlalu takut (untung pernah lihat operasi, meski di teve), saya jadi punya gambaran kalau operasi itu gak serem-serem amat. Hehehe

Daaaan… beda jauuuh… kalau yang saya tahu di drama korea tuh pasien diinfus dan gak sadar saat operasi, lha saya yang dibius setengah badan ke bawah aja. Fiuh, grogi-grogi gimanaaa gitu, akhirnya pasrah deh sama yang diatas (Allah Swt, maksudnya).

So, untuk operasi pasien itu ada beberapa prosedur yang harus dilakukan, tidak babibu. Misalnya harus menunggu persetujuan wali, persiapan alat dan pasien juga harus persiapan. Setiap operasi juga nggak sama, tergantung operasi apa dulu?

Sembuhnya Kilat

Terakhir yang bikin ilfill kalau ingat-ingat drama korea, semua pasien yang masuk UGD bisa sembuh secepat kilat. Yaelah, namanya juga drama, ya pasti disingkat laah waktunya. Hehehe

Apalagi pasien yang habis dioperasi langsung bebas dari malaikat maut, di drama korea, masuk UGD serasa tempat untuk menghindari kematian. Wkwkwkwk.

The real is …
Kalau masalah sembuh enggak itu juga tergantung amal kita masing-masing, #eh, hahaha, bercanda. Tergantung penyakit dan pengobatannya ya. Selain itu juga depend on semangat pasien untuk sembuh.

Coba lihat, pasien yang semangat hidupnya tinggi akan cepat pulih daripada pasien yang sering mengeluhkan penyakitnya. Kenapa demikian? Karena mengeluh itu memunculkan energi negatif yang dapat memperparah penyakit kita.

Terus, apa hubungannya dengan drama korea?

Gak ada, hanya saja, kenyataannya adalah kalau ingin sembuh ya harus punya semangat tinggi. Jangan bandingkan dengan drama korea yang sekali berobat langsung sembuh, namanya juga drama. Fighting!!

Nah, itulah empat perbedaan UGD di drama korea dengan UGD nyata yang saya rasakan. Semoga bermanfaat bagi pembaca, pesan saya

Jangan terlalu membandingkan drama (khususnya korea) dengan kehidupan nyata, meskipun drama di teve sebagian besar juga ada dalam kehidupan nyata. Ada baiknya tetap rasional dan realistis.


Jangan lupa coment jika informasi ini bermanfaat buat teman-teman, dan follow blog saya ya. Pasti saya folback. Terima kasih

Kamis, Maret 02, 2017

Menikmati Nandhi Murni, Menikmati Kebaikan Susu Pasteurisasi


Kota Batu, Jawa Timur, tidak hanya terkenal apelnya, tapi juga sapi perah. Bahkan saat ini tidak hanya wisata petik apel yang hits, tapi juga wisata sapi perah yang juga viral. Peternakan sapi di Kota Batu mampu menghasilkan susu yang kemudian dipasok ke KUD dan perusahaan susu instan di Indonesia, seperti Nestle. Wah, sudah mirip Swis aja ya? Bahkan ada depot susu yang konon telah beropeasi sejak tahun 1986 di Kota Batu yang menjual susu pasteurisasi bermerek Nandhi Murni.

Penasaran dengan postingan beberapa teman di media sosial dan blog tentang Nandhi Murni, membuat saya ingin membuktikan sendiri kebenarannya. Saya, suami, dan kedua putri kami datang ke Kota Batu dan langsung menuju depot susu Ganesha yang katanya selalu ramai pengunjung itu. Eh, bener saja, masih jam 10.00 pagi antrian sudah panjang. Wait! Lagi antri apaan sih? Saya tengok dari jendela kaca depotnya, ternyata mereka sedang antri Nandhi Murni. Wow, saya pun excited. Akhirnya ikut antri dan membeli dua botol kecil susu rasa strawberry dan coklat, dan sebotol yogurt rasa strawberry.

Penampakan Depot Susu Ganesha-Kota Batu
Sumber: huntingkuliner.com (waktu itu belum sempat ambil foto)

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Mas Tofa, selaku operator produksi dan distribusi,
Nandhi Murni terbuat dari susu kualitas terbaik, 100% susu sapi, dan diolah dengan proses pasteurisasi untuk menjaga kealamiannya, dan homogeniser untuk membuat susu sapi semakin gurih. Diolah menggunakan teknologi dan keahlian untuk menjaga kualitasnya. Minum Nandhi Murni, ibarat minum susu langsung dari sapinya.
Kebayang gak minum susu langsung dari sapinya? Hahaha. Jangan ngeres ah, maksudnya saking aslinya tuh susu dan tanpa campuran, getoooo!!! Satu lagi nih, pabrik susu Nandhi Murni benar-benar higienis lho. Fasilitas yang digunakan benar-benar steril, begitu juga karyawannya.

Selasa, Februari 28, 2017

Goblin Kim Shin, Tokoh Idaman Wanita

foto: www.allkpop.com
Scene yang paling saya suka: Hujan deras saat Goblin sedih T_T

Pas buka twitter, baca kicauan Oppa Yoyok tentang Goblin, tepatnya ulasan film tersebut. Gak nyangka cowok yang tiba-tiba kecanduan sama drama korea "Goblin" ini bisa menulis apa yang saya pikirkan. Hah, kecanduan? Padahal saat berbincang di grup Malang Citizen, siapa saja yang suka drama korea, tidak ada lelaki yang angkat bicara. Hingga pada suatu hari Oppa Yoyok penasaran dan tak dapat berhenti untuk menontonnya. #Ehem.

Kicauannya tentang Ji Eun Tak, pemeran utama dalam film tersebut sangat mendalam. Saat melihat Goblin saya juga merasa banyak hal yang bisa dipelajari dari karakter Ji Eun Tak. Mulai dari betapa gigihnya dia ingin mendapatkan beasiswa sampai menabung dari hasil kerja lepasnya. Eun Tak adalah gadis periang, tidak mudah putus asa, mandiri, dan ringan tangan. Dari sifatnya ini, yoyok melalui lamannya aduhembohkah.com (nama yang unik dan bikin ngakak, wkwkwkwk) mengajak kaum muda untuk belajar melalui Ji Eun Tak, pengantin goblin.

Tamatnya drama ini membuat saya bisa tidur nyenyak karena tak lagi harus begadang, menuntaskan rasa penasaran dengan akhir cerita goblin. Drama yang menurut saya paling lucu, exited, dan membuat saya menontonnya sampai akhir. Sebenarnya saya juga suka drakor yang berbau medis gitu, tentang doktor ganteng dan cantik, itu juga selalu saya khatamkan. Tapi Goblin beda dari yang lain, idenya unik dan berbeda. Hehehe

Drama dengan judul Guardian: The Lonely anda Great God atau Goblin ini memang sama sekali tidak membosankan, sang penulis sangat mahir mengolah plot dan dialog. Alur ceritanya sangat menarik. Karakter tokoh dan pesan yang disampaikan juga sangat kuat. Fantasinya luar biasa, ciamik deh pokoknya. Apalagi tiga cowok ganteng yang semua penuh cinta (awalnya bingung, akhirnya milih Kim Shin).

Sumber: www.hipwee.com
Ketiga Cowok Idaman

Yang paling saya suka adalah si Goblin alias Kim Shin. Ahjussi yang diperankan ole Gong Yoo sangat menarik perhatian cewek manapun. Gak ganteng juga sih, karismatik kalau menurut saya. Banyak teman yang bilang, "ah, aku gak suka Goblin karena yang main ahjussi ahjussi, udah tua", hehehe. Berbeda dengan Dong Wook yang tampak blink blink, cakep banget katanya. Eh, tapi namanya selera tiap orang bisa berbeda kan ya. Saya gak terlalu suka yang blink blink gitu, saya suka yang kharismatik. Tsaaahhhh....

Kim Shin, menurut saya adalah tokoh yang kece. Mana ada coba Goblin yang keren? Dimana-mana Goblin tuh peri kerdil dengan telinganya yang panjang. Itu sih goblin dalam dongeng. Dan Kim Eun Sook, penulis drama Goblin dan juga Descendant Of The Sun, telah membuat gebrakan yang luar biasa dengan menciptakan goblin yang kece meskipun menyedihkan.

Senin, Februari 27, 2017

Sudahkah Anak Kita Berliterasi Kritis?


Pada postingan saya berjudul “Sudahkah Kita Membaca Bersama Anak Kita?”, hasil dari sharing di grup whats app yang diadakan oleh Mommys Stories, bahwa literasi atau kemampuan membaca dan menulis pada setiap anak, dapat dengan mudah kita budayakan melalui hal-hal yang simple.

Kemampuan literasi pada anak dapat dengan mudah dikembangkan oleh orang tua, ayah dan ibu melalui kegiatan sehari-hari. Berbincang-bincang, misalnya. Peran orang tua sangat diperlukan untuk meningkatkan literasi pada anak.

Lalu, apakah literasi saja sudah cukup?  Ternyata tidak.  Kita membutuhkan kemampuan literasi kritis. Literasi kritis adalah kemampuan membaca teks secara aktif dan reflektif dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang lingkungan sosial di sekitar kita. Orang yg memiliki kemampuan literasi kritis akan dapat melihat melalui sudut pandang (perspektif) yang beragam. Bukan cuma patuh pada apa yang mereka baca, tonton, lihat, atau dengar. Teks dalam literasi kritis bisa berupa media apa saja ya...  Buku, artikel, iklan, lagu, film, de el el.     
                
Anak harus tahu bahwa sebuah teks punya banyak makna. Untuk dapat menganalisis makna tersurat dan tersirat, ya harus aktif membaca. Paling tidak tahu tujuan penulis. Namun sayangnya, kita dan juga anak-anak, sering dikondisikan untuk menerima mentah mentah informasi yang tersaji.  
                     
Adakah yg pernah merasa aneh dengan cerita Jack and the beanstalk?  
                   
Sejak saya SD nih ya, emang guru di kelas lebih sering menanyakan tentang fakta dalam bacaan, bukan pendapat atau refleksinya tentang bacaan itu. Lebih banyak apa, siapa, di mana, dan kapan daripada mengapa demikian, atau bagaimana pendapatmu. Waktu itu saya juga belum paham, jadi ngikutin aja ^_^

Memiliki ketrampilan literasi kritis membuat orang tak mudah dimanipulasi dan lebih tidak mudah percaya hoax (tahu kan? jaman sekarang hoax merajalela T_T). Contohnya:  ketika bermain barbie,  anak bisa saja menerima mentah-mentah stereotype tentang perempuan, misalnya menganggap penampilan itu paling penting. Hal ini  bisa bermakna berbeda kalau keluarga mendorong literasi kritis pada anak. 

Bagaimana strategi menumbuhkan kemampuan literasi kritis?                       
Selain memulai dari hal yg menarik minat dan berhubungan dengan hal yang ditemui anak sehari-hari,  faktor penting lainnya adalah interaksi antara anak dan orang tua. Bacakan buku untuk anak, usahakan juga bertanya sehingga anak terdorong untuk bertanya. Misalnya, mengapa cerita ini berakhir begitu? Kalau bisa, apa yg ingin kamu ubah?                
 
Literasi kritis memang terbangun dari percakapan dan diskusi. Rekan bicara anak, yaitu orang tua, juga harus memposisikan diri setara sehingga berpikir kritis bisa terjadi. Umumnya, literasi kritis memang diajarkan pada remaja. Tapi ada juga guru yg mulai mengajarkan ini pada anak TK.  Misalnya dengan mengkritisi paket happy meal dari sebuah restoran fastfood.  
                     
Pada usia berapa seharusnya anak belajar membaca?
Orang tua dapat menstimulasi kemampuan pra membaca dan pra menulis anak di bawah usia tujuh tahun. Mendengarkan orang tua membacakan buku, mendongeng, bernyanyi adalah tahap yang dilalui anak saat stimulasi pra membaca. Dengan begitu anak sadar akan irama, sajak, rima, bunyi, dan kosa katanya luas.  
                     
Oh iya, pernahkan Anda berpikir jika anak juga harus kenal arah atas, bawah, depan, belakan, kiri, dan kanan dulu sebelum belajar membaca dan menulis? Sama, saya juga tidak pernah memikirkannya, apa hubungannya, coba? Eh, baru saya tahu, ternyata hal itu adalah bekal untuk mengenal huruf dan bunyi sebelum nanti belajar membaca.       
                
Tidak ada keharusan masuk SD sudah bisa membaca, bahkan pemerintah sudah melarang tes baca tulis untuk masuk SD. Di usia 5 tahun kita fokus pada stimulasi seperti itu,  sehingga anak mulai berminat membaca dan belajar membaca dengan senang. PP NO 17 thn 2010 adalah larangan tes calistung untuk anak masuk SD. *catet ya PPnya, bisa buat senjata saat masukin anak ke SD, hehehe.    
                 
Apa tantangan yang harus dihadapi anak di era digital?
Di era digital, seperti saat ini, anak-anak akan lebih sadar media, dan lebih peka pada bagaimana informasi bergerak. Jelas sekali bahwa tantangan mereka nanti adalah banyak informasi membanjiri dan banyak tugas paralel hadir bersamaan. Istilah kerennya multitasking.

Kita sebagai orang tua, perlu lebih banyak berdiskusi dengan anak, belajar mengkritisi informasi bersama anak. Belajar bertanya dan belajar menyelidik bersama. Menjadi pembuat konten digital juga akan jadi pengalaman yg bermakna untuk membuat anak semakin melek media.   
                    
Selain itu, mengajarkan anak untuk pandai mengatur waktu, terutama melatih kemampuan literasi kritis diri sendiri. Misalnya, seandainya waktu kita bersosmed selama setahun dikumpulkan,  cukup untuk membaca 200 buku lho.  Banyak bukan? Belum lagi maraknya aneka berita di media sosial yang membutuhkan literasi kritis untuk menyikapinya, karena berita tersebut belum tentu benar 100%.

Kesimpulannya adalah, kemampuan literasi saja tidak cukup untuk bekal hidup anak di masyarakat namun juga diperlukan literasi kritis sehingga anak dapat membendung arus informasi yang sangat deras, menyaringnya dengan kritis dan tidak terbawa arus. Pastinya membaca secara tuntas segala informasi yang didapat sebelum mengomentari sebuah bacaan, juga perlu kita tanamkan kepada anak.

Keputusan ada di tangan kita sebagai orang tua. Sudahkah kita membaca buku bersama anak? Membersamai anak dalam membaca dan berpikir kritis?

Saya? Masih proses.

Terima kasih telah membaca postingan saya sampai tuntas, saya tunggu komentarnya ya.