Kamis, Mei 18, 2017

Seminar Literasi Potret Relawan Indonesia, Investasi Masa Depan

Jika ada yang mengatakan bahwa saya adalah pejuang literasi, rasanya gimanaaa gitu. Masih belum lah... Masih banyak orang yang lebih sesuai menerima sebutan itu. Saya hanyalah emak-emak yang suka menulis dan berbagi melalui tulisan, itu saja. Dan rasanya masih belum pantas dibandingkan tiga orang yang telah saya temui di Seminar Literasi,Sabtu (6/5) di Gedung Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.

Ya, tanpa babibu saya langsung tertarik membaca informasi seminar literasi yang tiba-tiba nongol di IG. Rencana jalan-jalan bersama duo dzakiyyah saya batalkan seketika. Saya hubungi kontak yang ada, menanyakan apakah masih bisa hadir karena belum daftar. Eh, alhamdulillah boleh, rejeki dong ya. Entah kenapa, kata "literasi" seakan menjadi magnet tersendiri buat saya.

Baca juga: Sudahkah Anak Kita Berliterasi Kritis?

Selain itu, yang membuat saya ingin hadir adalah salah satu pembicaranya, Eko Cahyono (owner TBM Anak Bangsa, Jabung Malang).Tapi ternyata, ketiga pembicara yang lain meninggalkan kesan yang mendalam juga. Gak nyesel deh hadir, udah bayarnya murah (just 15K) dapat ilmu yang bermanfaat. Salut deh sama panitia, mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) regional Malang.

Menebar Ilmu Menjadi Inspirasi di Kepulauan Natuna

Keren deh jargon yang dikumandangkan, bikin merinding. Sudahkah Anda menebar ilmu menjadi inspirasi? Jangan-jangan ilmu yang dimiliki masih disimpan sendiri? Hehehe

Relawan pertama yang mengisi seminar literasi ini adalah Ines Faradina, perempuan tangguh yang pernah menjadi relawan pendidikan di Kepulauan Natuna. Ines adalah lulusan Sastra dan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra di UM, yang tidak tertarik untuk menjadi guru tapi ingin menebar ilmu menjadi inspirasi. Motivasi hidupnya adalah ingin membuat orang disekitar selalu tersenyum. Dan benar saja, selama pemaparan kisahnya saat berada di Kepulauan Natuna, Ines selalu tersenyum dan membuat audience tertawa.


Menurut saya dia low profile banget, setiap kata yang dia ucapkan jauh dari rasa sombong karena pernah bergabung di Gerakan Indonesia Mengajar. Ines pendidik yang humoris, dapat menyampaikan informasi dengan sangat menarik kepada audience yang rata-rata mahasiswa. Mungkin karena dia punya pengalaman dibidang MC dan public speaking ya?

Baca juga: SD hingga PT mana yang paling berkesan?


Tinggal di Kepulauan Natuna, tempat yang hanya dialiri listrik dari jam 6 - 10 malam, membuat Ines mendapatkan banyak sekali pengalaman hidup, berjejaring dengan banyak kalangan, dan mencoba hal baru. Kegiatan sehari-hari yang dia lakukan adalah mengajar di pagi hari dan senam bersama warga di sorenya. Meskipun jauh dari ibukota, Kepulauan Natuna tidak terlalu terpencil dan terbelakang lho. Buktinya mereka punya tab, handphone, televisi, dan mengenal internet.


Ternyata di Kepulauan Natuna tidak mengenal istilah belajar kelompok (mereka belajar individu), tidak pernah belajar di luar kelas, dan sangat antusias saat melihat media belajar yang baru. Beruntung sekali Ines dapat membagikan pengalamannya kepada anak-anak di Kepulauan Natuna.
Anak-anak adalah investasi masa depan dan Ines adalah potret relawan yang mengabdi untuk anak-anak di Kepulauan Natuna.


Kepedulian yang Melahirkan Asa




Relawan kedua adalah M. Andi Pratama, koordinator Malang Bebas Sampah. Motivasinya menjadi relawan adalah ingin hidupnya bermanfaat bagi orang lain. Andi ingin masyarakat memiliki kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Februari lalu Andi bersama komunitas yang lain melakukan gebrakan Malang Bebas Sampah dalam rangka mendukung Gerakan Indonesia Bebas Sampah.

Baca juga: Sudahkah Kita Membaca Bersama Anak Kita?

Melalui kegiatan bersih sungai dan workshop daur ulang sampah, Andi adalah potret relawan lingkungan yang berharap masyarakat mendapatkan edukasi secara langsung tentang pentingnya bebas sampah dan melakukan Gerakan Malang Bebas Sampah.

Bukan Minat Baca yang Kurang, Tapi Fasilitas yang Minim

Saya ingin mendirikan perpustakaan di daerah tempat tinggal saya, itulah mengapa ketika tahu saat Eko Cahyono, pemilik Perpustakaan Anak Bangsa, menjadi pembicara dalam Seminar Literasi di UM, tidak pikir panjang lagi saya langsung daftar dan hadir. Lalu ketika ditanya mengapa saya ingin mendirikan perpustakaan? Saya jawab, karena kurangnya minat baca warga.

Eko Cahyono menyangkal hal itu, katanya bukanlah minat baca masyarakat yang kurang tapi minimnya fasilitas baca. Buktinya saat Eko Cahyono mendirikan Perpustakaan Anak Bangsa tidak ada warga yang tidak ingin hadir, setiap hari ada saja pengunjung. Saat ini koleksi buku yang dimiliki Perpustakaan Anak Bangsa telah mencapai puluhan ribu.

Bahkan Eko senang sekali saat ada yang ingin mendirikan perpustakaan didaerah masing-masing, dengan senang hati Perpustakaan Anak Bangsa akan meminjamkan koleksinya. Apa gak takut hilang atau tidak kembali? Jawaban Eko sungguh diluar dugaan. "Jika buku tidak kembali berarti buku itu telah menemukan pembacanya" Wow banget ya...

Eko Cahyono adalah potret relawan Indonesia yang ingin menjak orang di sekitarnya mau membaca. Karena membaca adalah kunci dalam membuka jendela dunia, yaitu buku.

Ah, gak rugi deh pokoknya ikutan seminar literasi kali ini. Udah gitu bayarnya cuman 15K dan dapat sertifikat. Keren deh panitianya bisa menghadirkan relawan yang sangat kompatible di bidangnya.






10 komentar :

  1. Bener banget tuh mbaaak. Memang kadang akses terhadap buku yang susah juga bisa jadi faktor mengapa akhirnya di daerah terpencil banyak yg tidak terbiasa membaca.

    BalasHapus
  2. kayaknya serruuu ya mbak ikut seminar ini...jadi pengen ikutan seminarnya ...info yang menarik mbak...makasih mbak eny

    BalasHapus
  3. Semoga usai acara ini bisa jadi relawan ya Bu, hehehe

    BalasHapus
  4. Salut buat relawan2 indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas... mereka tangguh banget

      Hapus
  5. Wah seru ya mba Ines jadi relawan di bidang literasi. Memang betul di daerah terpencil yang jauh dari pusat kota minim fasilitas. Tapi kalau di daerah kota minat baca buku masih kurang itu sangat disayangkan.

    Btw salam kenal ya Mba, mampir di blog ku (rupanya theme blog kita sama,hehehe)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... langsung meluncur deh

      Hapus