Thursday, November 15, 2018

Sepenting Apa Strategy Branding dalam Pengelolaan Bank Sampah?


strategy-branding-dalam-pengelolaan-bank-sampah
"Lebih baik hidup dari sampah, daripada hidup sebagai sampah."
Menarik sekali ya kalimat tersebut? Apakah teman-teman juga setuju? Tapi jangan dulu membayangkan sampah kotor yang dikerubutin lalat ya. Jijik donk ya, tapi bayangkan sampah-sampah plastic bekas makanan yang ternyata bisa berguna dan bahkan dapat menghidupi kita.

Gimana caranya?


Ubah dulu mindset teman-teman tentang sampah yang kotor, bau, dan dapat dibuang begitu saja. Tanamkan di benak jika sampah dapat dimanfaatkan sehingga bisa menunjang perekonomian keluarga. Jika diolah dengan telaten sampah juga bisa menghasilkan pundi-pundi uang karena potensinya.

Terlebih untuk kaum perempuan atau ibu-ibu nih, dimana perannya besar sekali dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Akan jadi apa sampah di rumah kita, hampir semua tergantung pada ibu-ibu. Oleh karenanya Ibu Rumah Tangga perlu mendapatkan edukasi terkait pengelolaan sampah.
Seperti dalam acara  bertajuk Advokasi Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Melalui Pelatihan Daur Ulang Sampah di Kota Malang yang saya hadiri pada Selasa (13/11) lalu.


strategy-branding-dalam-pengelolaan-bank-sampah
peserta sedang mendengarkan materi
Berlangsung di Hotel Santika Premiere Malang, acara ini dihadiri oleh beberapa komunitas Bank Sampah Malang. Kebetulan sekali jika mayoritas anggota Bank Sampah adalah ibu-ibu. Jadi bisa dikatakan jika peran ibu rumah tangga dalam menjaga kebersihan lingkungan sangatlah penting.
Pertama-tama nih pola pikir ibu rumah tangga perlu diubah agar dapat mengelola sampah dengan baik. Soalnya meskipun di kegiatan PKK sudah ada kegiatan belajar mendaur ulang sampah anorganik menjadi barang bermanfaat, masih banyak ibu-ibu yang belum jika sampah juga memiliki dampak negative yang besar jika disepelakan.

Baca juga: Istri Resik Keluarga Harmonis

Pas sekali jika Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerja sama dengan IWITA (Indonesia Women Information Technology Awareness) tentang pengelolaan sampah ya.
Ada dua materi yang disampaikan dalam kegiatan ini yaitu pengelolaan bank sampah dan strategi branding. Baiklah, intip yuk sedikit cerita saya tentang kegiatan yang luar biasa ini.

Pengelolaan Sampah


Seperti yang disampaikan oleh Bapak Rahmat Hidayat, Pengawas Bank Sampah Malang, faktanya di lapangan bahwa sebagian besar orang masih menganggap sampah sebagai sumber masalah, dan pekerjaan yang berhubungan dengan sampah adalah pekerjaan hina. Oleh karenanya masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan. Padahal pengelolaan sampah telah memiliki dasar hukum, seperti UU No. 18 Tahun 2018 tentang pengelolaan sampah, PP No. 81  Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Lebih lanjut lagi Bapak Rahmat Hidayat mengatakan tentang implementasi pengelolaan sampah bahwa di Kota Malang tahun 2018-2025 sampah akan berkurang melalui pengelolaan berbasis masyarakat (30%) dan berbasis institusi (70%). Pengelolaan sampah berbasis masyarakat misalnya dengan pembatasan timbulan sampah, pendaur ulang sampah, memanfaatkan kembali sampah untuk barang bermanfaat.


Sedangkan pengelolaan berbasis intitusi bisa dilakukan dengan cara meningkatkan dan mengembangkan TPS di Kota Malang, mengembangkan rumah daur ulang, dan lainnya.
Nah, saya sebagai masyarakat awam yang belum pernah ikut bank sampah, salut sekali dengan upaya yang dilakukan pemerintah. Meskipun setiap harinya masih ada 15.1 ton sampah yang belum terkelola. Bank sampah sangat membantu sekali masyarakat dalam mengelola sampah selain juga membantu perekonomian keluarga. Ibu rumah tangga pasti senang donk dapat masukan tambahan.

Bank Sampah adalah tempat pengolahan sampah an-organik dan menabung sampah yang sudah dikonversikan dengan rupiah, dimana masyarakat yang menjadi nasabah bank sampah wajib untuk melakukan pemilahan karena tiap jenis sampah mempunyai harga berbeda. Menarik sekali, bukan?

Masyarakat tingga memilah sampah dan membawanya ke bank sampah di daerahnya. Untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi, masyarakat bisa menabungkan uangnya. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mengambilnya dalam bentuk cash (harga lebih rendah daripada ditabung).

Cara menjadi nasabah bank sampah juga sangat mudah lho!

  1. Secara perorangan datang langsung ke BSM dengan membawa sampah yang terpilah dan foto copy KTP.
  2. Bank sampah juga bersedia mengambil sampah di lokasi nasabah dengan berat minimal 50 kg, syaratnya adalah:
  • Masyarakat : Membentuk Pengurus (Ketua, Sekretaris dan Bendahara) dengan anggota minimal 20 orang/KK.
  • Sekolah : Melibatkan Guru dan Osis atau Organisasi Sekolah serta Petugas Kebersihan, Minimal 5 Kelas atau 40 Siswa.
  • Instansi/Perkantoran/Hotel/Perdagangan/Pasar : Menunjuk Koordinator dan Petugas Kebersihan.
Harapannya, melalui bank sampah akan menjadi langkah strategis untuk mengurangi sampah plastik, sekaligus mengatasi penyebab pemanasan global. Saat ini konsep pengelolaan sampah non organik melalui bank sampah ini telah mendapat apresiasi dari para kepala daerah, bahkan cara ini diminati dan sudah berjalan di beberapa daerah.

Pada kesempatan ini ada juga Bapak Rahmat Bhayangkara dari Jakarta yang berbagi pengetahuan tentang aplikasi pengelolaan bank sampah pusat. Menurutnya, penggunaan aplikasi akan memudahkan bank sampah dalam manajemen. Pak Rahmat juga mencontohkan penggunaan E-Bank Sampah, yaitu aplikasi penginputan data bank sampah Provinsi DKI Jakarta.


strategy-branding-dalam-pengelolaan-bank-sampah
Add caption

Saat ini adalah era digital, masak iya pegelolaan masih menggunakan metode manual yang pastinya sedikit banyak dapat menghambat kelancaran transaksi bank sampah. Dengan proses pencatatan yang lambat, pelaporan ke dinas kebersihan juga menjadi lambat karena harus dikerjakan dua kali dengan memindahkan data dari buku ke komputer.

Melalui sharing ini, menurut Bapak Rahmat, DKI Jakarta adalah salah satu contoh pemerintah daerah yang berinovasi melalui Sistem Informasi Bank Sampah (SiBAS) dalam rangka menunjang salah satu implementasi smart card untuk smart city. SiBAS dikembangkan agar dapat meningkatkan efisiensi serta efektivitas dalam pengelolaan bank sampah serta pelaporan aktivitas bank sampah kepada pemerintah daerah dengan media smart card dan berbasis komputasi awan (cloud).

Nah, saat buka play store untuk mengintip E-Bank Sampah milik DKI Jakarta, saya jadi tahu jika salah satu bank sampah yang ada di Malang juga sudah ada yang menggunakan aplikasi lho. Misalnya saja Bank Sampah Eltari Malang, yaitu bank sampah yang ada di daerah Cemorokandang Malang. Aplikasi milik Bank Sampah Eltari juga memberikan informasi tentang tabungan nasabahnya.

Seberapa Penting Branding dan Packaging Produk?


Teman-teman pasti sudah tahu ya kalau pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan jurus 5R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mengolah kembali), Replace (menggantikan), dan Rethink (memikirkan kembali). Nah, nasabah bank sampah kayaknya udah paham sehingga mereka udah pada pinter bikin kerajinan dari bahan bekas.

Teruus… setelah barang bekas diolah kembali, lantas langkah selanjutnya apa?

Bisa dipakai sendiri atau dijual. Lha kalau dipakai sendiri sih oke-oke saja, tapi kalau dijual apa laku? Untuk itulah Ibu Martha Simanjutak hadir, beliau adalah pendiri IWITA (Indonesian Women Information Technology Awareness) yaitu organisasi berbadan hukum yang bertujuan mencerdaskan perempuan Indonesia.




strategy-branding-dalam-pengelolaan-bank-sampah
Ibu Martha Simanjutak sedang memaparkan materi

Ibu Martha ingin sharing tentang pentingnya sebuah brand yang melekat pada produk. Benar saja, ada peserta yang paham dan ada juga yang belum tahu makna brand. Tapi ketika Bu Martha menunjukkan sebuah gambar, hampir semua peserta yang hadir bisa menyebutkan gambar merk produk tersebut. Itulah branding! Tanpa diberi keterangan pun orang akan tahu nama sebuah merek terkenal.

Oleh karenanya agar dikenal lebih baik di pasaran, setiap usaha membutuhkan strategy branding. Ada beberapa komponen penting yang harus diperhatikan untuk membuat strategy branding, yaitu tujuan, konsistensi, emosi, fleksibilitas, keterlibatan karyawan, loyalitas, dan kesadaran akan kompetisi.

Apakah kalau belum punya merek atau branding, kita nggak bisa bikin sebuah produk? Alamaak…. Jangan putus asa gitu donk, terus bikin aja. Apalagi jika bahannya daur ulang, ya sekalian melestarikan lingkungan lah.

Kalau kata Bu Martha sih
“Jangan menunggu untuk sempurna baru memulai, dengan memulailah Anda bisa membuatnya sempurna.”

Sebelum acara berakhir, Bu Martha memfasilitasi peserta untuk mengadakan diskusi dan presentasi. Lalu, acara diakhiri dengan makan siang dan foto bersama. Semoga acara ini tidak berhenti sampai disini saja ya. Alangkah baiknya jika bisa dilaksanakan di Kabupaten Malang juga.
So, yuk berubah. Jadikan rumah minim sampah dan lestarikan lingkungan. Masak sih anak-anak akan menjadi korban kejorokan kita, hehehe. Yuk, dimulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal kecil, dan dimulai sekarang juga. Salam 5R!

5 comments :

  1. Ih, jangan sampai jadi sampah. Harusnya emang sampah bisa jadi rupiah. Wokey, saatnya merubah mindset Mbakyu.

    ReplyDelete
  2. Ih, jangan sampai jadi sampah. Harusnya emang sampah bisa jadi rupiah. Wokey, saatnya merubah mindset Mbakyu.

    ReplyDelete
  3. Sampah yang dikelola dengan baik hasilnya jg akan baik ya Mbak?

    Salam 5R 😊

    ReplyDelete
  4. Ilmu yg sangat bermanfaat mbak Eni ikut acara ini, karena sekarang kita bisa memahami apa artinya pemisahan sampah organik, sampah non organik dan sampah bawah.
    Selain itu kita dapat motivasi baru dengan kata mutiara yg bagus banget dari ibu martha

    ReplyDelete
  5. Senang bisa ikut juga di pelatihan ini. Saatnya beraksi nyata ya, Mbak. Sekecil apapun, lakukan saja. Kebayang Kalo harus saling tunggu, sampahnya keburu numpuk terus.
    Setuju, berharap pelatihan spt ini diadakan Di Kabupaten Malang juga :)

    ReplyDelete