Coba tanya kepada anak-anak usia sekolah dasar, apakah mereka tahu kearifan lokal di daerahnya masing-masing? Kalaupun ada yang tahu mungkin bisa dihitung jari karena zamannya sudah berbeda dengan saat saya masih kecil dulu.
Saat ini era teknologi seperti sudah menguasai anak-anak sehingga sejak balita mereka telah mengenal gadget. Sayangnya, anak-anak kurang bisa menguasai teknologi tersebut dengan tepat guna.
Hasilnya? Gadget masih sebatas alat hiburan untuk bermain game dan sosmed.
Padahal jika bisa dimanfaatkan dengan baik dan tepat, gadget bisa menggantikan buku menjadi jendela ilmu yang lebih luas.
Kembali bicara tentang kearifan lokal, saat saya tanya kepada anak saya apakah mereka tahu budaya apa yang ada di sekitarnya?
Gelengan kepala mereka membuat saya sedikit kecewa dan hal tersebut adalah pekerjaan rumah yang tidak ringan untuk saya.
Tikar Mendong, Kearifan Lokal Desa Wajak

Saya adalah pendatang di Desa Wajak karena ikut suami yang asli desa ini. Saat awal-awal tinggal di Desa Wajak saya baru tahu tikar mendong yang biasa dijual di pasar. Tanaman mendong pun saya tahunya ya di desa ini.
Desa Blayu, Kecamatan Wajak adalah daerah penghasil mendong terbesar di Indonesia. Warga memilih untuk menanam mendong karena menurut mereka perawatannya lebih mudah.
Mendong adalah tanaman sejenis rumput semu atau alang-alang yang panjangnya rata-rata 100 cm. Kalau dilihat sepintas, tanaman ini mirip batang padi namun warnanya lebih hijau dan lebih kokoh berdiri.

Tanaman Mendong (sumber: malangkab.go.id)
Mendong ditanam di tempat berlumpur atau rawa. Kalau di daerah saya ditanam di sawah dengan air yang cukup atau biasanya berlumpur. Setelah sekitar 3-5 bulan, mendong sudah bisa dipanen.
Setelah dipanen, mendong dijemur sampai kering dengan terik matahari langsung. Inilah mengapa biasanya panen mendong dilakukan saat cuaca sedang cerah dan panas.
Tikar mendong di desa Wajak pernah mencapai kejayaannya sekitar tahun 1990 an. Meski sekarang sudah tidak banyak lagi pengusaha tikar mendong di desa Wajak, tetapi masih ada pengrajin setia.
Tikar mendong adalah salah satu kearifan lokal desa Wajak yang patut dilestarikan. Letak geografis yang mendukung menjadi salah satu alasan pengrajin tikar mendong masih ada.
IndiHome, Membantu Mempertahankan Kearifan Lokal Daerah di Indonesia
Tidak bisa kita pungkiri bahwa kemajuan jaman bisa menggerus kearifan lokal daerah jika tidak dilestarikan. Mungkinkah tikar mendong yang pernah hits di jamannya bakal menjadi kenangan?
Seperti yang kita tahu, saat ini tikar plastik sudah membumi. Berbagai bentuk dan model tikar plastik sudah dikenal masyarakat sehingga mengasingkan tikar mendong.
Coba kalau di kota, apa ada anak-anak maupun remaja yang mengenal tikar mendong?
Untung aja ya masih ada IndiHome, Internetnya Indonesia yang sudah masuk ke desa-desa. Saya adalah salah satu pelanggan setia IndiHome yang merasakan manfaat Indonesia Digital Home ini.
Salah satu manfaatnya adalah mengenalkan kearifan lokal kepada anak-anak melalui dunia digital. Anak-anak paling senang nonton youtube jadi ya melalui channel youtube saya mengenalkan anak-anak kearifan lokal di desa Wajak yaitu kerajinan tikar mendong.
IndiHome adalah salah satu layanan dari Telkom Group yaitu paket layanan informasi data berupa internet, tayangan TV berbayar, dan saluran telepon.
Selama pandemi IndiHome sangat membantu saya dan mungkin juga banyak masyarakat Indonesia dalam hal menyediakan layanan internet. Saya butuh internet yang koneksinya cepat untuk memasarkan produk dagangan saya.
Ternyata hal ini pun dimanfaatkan oleh masyarakat di Wajak untuk bisa menjual tikar mendong hingga keluar kota. Internetnya Indonesia ini sangat bermanfaat dan membantu warga desa Wajak dalam melestarikan kearifan lokal.
Terima kasih IndiHome ^_^

22 Komentar. Leave new
oooh aku baru tahu kalau itu namanya Tikar Mendong
Kalau pengrajin tikar mendong pandai mempromosikan di media sosial, pasti laris banget. apalagi memanfaatkan digital marketing. Bisa diulas sisi uniknya dan manfaatnya. Pasti laku!
Iya yah, kearifan lokal banyak yang termakan moderenisasi dengan teknologi yang kian canggih. Saat.y back to nature, nggak harus pake tikar sitetis lagi. Mungkin begitu
Baru tahu soal mendong. Tikarnya kayak akrab banget, ya. Mungkin karena aku besar di era 90-an.
Saya kenal tikar mendong, Mbak. Saya bisa membuatnya. Tapi di kampung kami mendong tumbuh liar. Ada juga yang menanam, tapi sekarang hampir tak terlidat lagi. Tergusur oleh tikar plastik. Padahal, tikar plastik tak bisa tahan lama. Belum 2 tahun sudah jadi serbuk.
Kalau tidak ada yang melestarikan tikar mendong, bisa punah ya. Makanya wajib dikenalkan ke anak-anak.
Kearifan lokal yg cihuuyyyy bgt
Mantab jiwa
Mendong juga bagus kalau dibuat tas. Jadi khas dan punya daya tarik tersendiri
Dengan teknologi kita bisa tahu apa yang menjadi tren jaman dulu ya, Mbak. Teknologi disertai jaringan internet yang mumpuni jadi betah untuk belajar agar tahu lebih dalam tentang tikar mendong
Emang sekranag banyak kearifan lolal yang termakan moderenisasi dan teknologi yang kian canggih
Mendong ini sama dengan enceng gondok bukan mbak? Tikar ini tuh adem ya. Mengenalkan budaya loka ke anak-anak zaman sekarang memang penting ya mbak, agar mereka tidak lupa asal usulnya. Indihome memberikan solusi bagi masyarakat di pedesaan untuk dapat mengakses internet dengan lebih mudah. Jadi bisa memberikan pelajaran kepada anak, meskipun tinggal di daerah.
Waah aku tau tikar ini. Pernah dibawain oleh babysitterku pas kecil dulu mba. Dan memang tikar begini aweeeet banget, dan enak buat alas duduk, teutama kalo piknik.
Tau ga sih selama ini aku pikir nya itu dari daun kelapa 🤣. Atau bambu. Ternyata ada tanamannya sendiri yaaa. Itulah manfaat dari internet. Kita sebenernya bisa banyaaak dpt informasi apapun. Tergantung dari cara kita memakainya.
Aku pun di rumah pake indihome mba . Udah lama banget, sejak awal nikah. Ga kepengen ganti lain sih. So far udah puas banget dengan jaringannya Indihome
Senangnya ya mbak, Indihome membantu kita dalam mewariskan kearifan lokal yang ada
Biar g punah ditelan zaman
Internet penting banget ya, biar tetep terkoneksi meski berada di pelosok sekalipun
Suka banget dengan tikar ini, baunya wangi khas banget Mbak, ala di desa gitu. Melestarikan kearifan budaya lokal pas banget ya disandingkan dengan bantuan Indihome yang keren.
saya suka kagum melihat orang-orang lokal yang bisa bikin karya sekeren ini. bayangin tikar itu lebar banget lho, mereka bikinnya dianyam satu-satu. sabar banget ya. semoga banyak generasi penerusnya ya.
saya baru tahu sekarang tentang tikar mendong dan ini berkat adanya jaringan internet dari IndiHome pastinya, dan semoga kearifan lokal produk ini terus terjaga
Sepertinya saya pernah melihat tikar mendong ini di Makassar, Mbak .. tapi sudah lama sekali, mungkin era 80-90-an. Sekarang sudah tidak pernah melihat lagi.
Aku baru tahu ada tikar mendong, yang merupakan kearifan lokal desa Wajak.
Kalau ada internet yang lancar, tanpa lagging begini kan bisa mengakses informasi dan mungkin bisa menjadi jalan usaha dan belajar banyak orang.
Para pemilik bisnis kerajinan lokal harus senantiasa meng upgrade pemasaran ya…agar produk kaya tikar mendong ini tidak tinggal kenangang untung ada indi home
Tikar-tikar seperti ini malah lebih nyaman dipakai. Sayangnya sudah mulai tergerus zaman dan tergantikan tikar-tikar modern ya. Hingga akhirnya produk-produk lokal berkualitas pun banyak yang tidak diketahui. Untung ada internet, jadi kita bisa mengenal tikar Mendong ini.
Zaman dulu ortuku punya tikar mendong mbak. Bagus, awet. Sekarang udah jarang lihat memang. Semoga bukan hanya jadi kenangan ya mbak
Salut nih dengan kontribusi IndiHome yang turut melestarikan kearifan lokal seperti ini. Dengan memanfaatkan jaringan internet, kita bisa turut ya menjaga kelestarian budaya karena tidak bisa dimungkiri juga anak2 zaman sekarang lebih akrab dengan dunia maya