Branding bukan sekadar tentang logo, warna, atau tampilan visual sebuah lembaga. Lebih dari itu, branding menjadi cara sebuah organisasi memperkenalkan nilai, membangun kepercayaan, dan membuat masyarakat memahami siapa mereka serta apa yang mereka perjuangkan.
Pemahaman tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas dalam kegiatan “How Your Brand Communicates Without Saying a Word” yang diselenggarakan oleh 24Slides bekerja sama dengan Forum LKSA Kota Malang di 24slides Indonesia, pada 8 Agustus 2026. Kegiatan dimulai pukul 09.00 dan diikuti oleh perwakilan lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) yang ingin mengembangkan kemampuan branding dan komunikasi lembaganya.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Manajer CSR 24slides, Bayu. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa 24 Academy merupakan bagian dari upaya 24slides dalam mengembangkan kemampuan dan talenta karyawannya melalui people development.

mas bayu: CSR 24Slide
Namun, pengembangan tersebut tidak berhenti di lingkungan internal perusahaan. 24slides juga ingin memberikan dampak positif kepada masyarakat dan komunitas yang relevan serta membutuhkan pengembangan keterampilan personal.
Salah satu bentuknya adalah melalui berbagai kelas dan program pembelajaran. Sebelumnya, 24 Academy sempat mengembangkan course secara daring. Namun, model tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar karena materi yang disampaikan cukup panjang. Karena itu, kegiatan tatap muka seperti ini menjadi salah satu cara untuk mewadahi komunitas yang relevan dan memiliki kebutuhan pengembangan keterampilan.
Dalam konteks LKSA, branding dinilai penting karena lembaga tidak hanya perlu memberikan pelayanan yang baik, tetapi juga perlu mengkomunikasikan keberadaan, nilai, dan dampak dari pelayanan tersebut kepada masyarakat luas.
Harapannya, pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan ini dapat diterapkan oleh masing-masing LKSA untuk memperkuat cara mereka mengomunikasikan misi dan kegiatan lembaga. Pemanfaatan media digital juga diharapkan dapat membantu LKSA memperluas jangkauan komunikasi sehingga semakin banyak masyarakat yang mengenal dan memahami keberadaan lembaga.
Daftar Isi
Branding Membantu LKSA Membangun Kepercayaan
Sebagai Tim Media Sosial di Harum Family Center saya merasa beruntung bisa menjadi salah satu peserta dalam kegiatan ini. Sebenarnya saya hadir bersama Mbak Laura, salah satu kakak pendamping di Harum. Tetapi kami tidak satu meja dan malahan saya bisa punya kenalan baru dari SLB Yayasan Putra Pancasila.

Bapak Wahyu Widodo
Perwakilan Forum LKSA Kota Malang, Wahyudi Widodo, menyampaikan bahwa branding memiliki peran penting bagi lembaga kesejahteraan sosial.
Sebagai lembaga yang hadir di tengah masyarakat, LKSA perlu dapat dikenal dan diidentifikasi dengan jelas. Membangun citra positif menjadi bagian penting agar masyarakat memahami karakter, pelayanan, serta kontribusi masing-masing lembaga.
Upaya memajukan lembaga tentu dimulai dari dalam, salah satunya melalui peningkatan kualitas layanan, akreditasi, dan sertifikasi. Namun, pelayanan yang baik saja belum cukup apabila masyarakat tidak mengetahui keberadaan dan kualitas lembaga tersebut.
Di sinilah branding memiliki peran. Branding membantu lembaga menyampaikan kepada masyarakat siapa mereka, apa yang dilakukan, dan nilai apa yang ingin dibawa.
Kepercayaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan LKSA. Ketika masyarakat mengenal dan percaya kepada sebuah lembaga, peluang untuk mendapatkan dukungan, termasuk dari para donatur, juga semakin terbuka.
Dengan demikian, branding bukan sekadar upaya membuat lembaga terlihat menarik, tetapi menjadi bagian dari strategi membangun kepercayaan dan memperluas dampak lembaga.
Semua Hal Memiliki Brand

Mas Bryan
Materi utama disampaikan oleh tim People Development 24slides, salah satunya Bryan Indrakusuma yang telah memiliki pengalaman selama 17 tahun sebagai desainer. Dalam perannya sebagai bagian dari people development, Bryan juga bertugas membantu anggota tim untuk terus berkembang dan belajar melalui berbagai kegiatan pembelajaran.
24slides sendiri memiliki jaringan kantor di Indonesia, Peru, dan Ukraina, dengan kantor pusat di Denmark. Di Malang, perusahaan ini memiliki sekitar 200 karyawan.
Melalui materi “How Great Brands Communicate Without Saying a Word”, peserta diajak melihat branding dari perspektif yang lebih luas.
Branding tidak hanya dimiliki oleh perusahaan besar. Lembaga, organisasi, bahkan individu juga memiliki brand. Brand menjadi gambaran yang muncul dalam benak seseorang ketika mereka berinteraksi dengan sebuah organisasi.
Karena itu, brand memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan.
Sebuah lembaga tentu ingin masyarakat mengenal apa yang mereka lakukan, mengingatnya, kemudian percaya dan akhirnya memilih untuk mendukung atau terlibat di dalamnya.
Sederhananya, proses tersebut dapat digambarkan sebagai:
Kenal → Ingat → Percaya → Memilih.
Ketika seseorang tidak mengenal dan tidak percaya kepada sebuah lembaga, akan lebih sulit bagi lembaga tersebut untuk mendapatkan perhatian maupun dukungan.
Branding Bukan Sekadar Logo
Salah satu pemahaman penting yang dibagikan dalam kegiatan ini adalah bahwa branding tidak berhenti pada aspek visual.
Brand dapat terbentuk dari berbagai pengalaman yang diterima masyarakat, seperti pelayanan, nilai, kualitas, reputasi, dan pengalaman ketika berinteraksi dengan lembaga.
Visual memang menjadi salah satu bagian penting karena menjadi sesuatu yang pertama kali dilihat. Namun, visual seharusnya menjadi bagian dari sebuah sistem yang lebih besar dan konsisten.
Dalam membangun identitas visual, terdapat beberapa elemen utama yang perlu diperhatikan, antara lain logo, warna, tipografi, fotografi, serta ikon atau ilustrasi.
Elemen-elemen tersebut perlu diterjemahkan secara konsisten agar masyarakat lebih mudah mengenali sebuah lembaga dibandingkan dengan lembaga lainnya.
Branding pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana sebuah lembaga terlihat, tetapi juga bagaimana lembaga tersebut ingin dikenali dan dirasakan oleh masyarakat.
Menentukan Kepribadian Sebuah Brand
Peserta juga diajak memahami konsep brand personality, yaitu bagaimana sebuah brand ingin terlihat dan perasaan apa yang ingin muncul ketika seseorang melihat atau berinteraksi dengannya.
Misalnya, sebuah LKSA ingin dikenal sebagai lembaga yang hangat, terbuka, profesional, atau dekat dengan keluarga. Karakter tersebut perlu diterjemahkan secara konsisten ke dalam komunikasi visual maupun cara lembaga berkomunikasi.
Namun, brand personality tidak bisa dibuat tanpa mempertimbangkan siapa yang akan melihat dan berinteraksi dengan brand tersebut.
Karena itu, peserta diajak untuk memahami audiens melalui beberapa pertanyaan sederhana:
- Siapa yang akan melihat konten media sosial kita?
- Kepada siapa kita melakukan presentasi?
- Apa yang mereka cari dari lembaga kita?
- Apa yang ingin mereka lakukan setelah berkomunikasi dengan kita?
- Di mana komunikasi tersebut dilakukan?
- Mengapa mereka harus memilih atau mendukung lembaga kita?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu lembaga menentukan cara berkomunikasi yang lebih tepat dan relevan.
Warna dan Tipografi Juga Berkomunikasi
Warna tidak hanya berfungsi sebagai pemanis visual. Warna juga dapat membantu menyampaikan karakter dan suasana sebuah brand.
Pemilihan warna perlu mempertimbangkan pesan yang ingin disampaikan serta bagaimana warna tersebut diterima oleh audiens.
Selain warna, tipografi juga menjadi elemen penting dalam komunikasi visual.
Dalam sesi mengenai typography, peserta dikenalkan pada perbedaan antara typography, typeface, dan font. Typeface memiliki karakteristik tertentu dan dapat menghadirkan mood yang berbeda dalam sebuah desain.
Beberapa kategori typeface yang umum digunakan antara lain serif, sans serif, display, dan script.
Pemilihan jenis tulisan perlu disesuaikan dengan karakter brand sekaligus mempertimbangkan keterbacaan. Ukuran tulisan, kontras warna, serta latar belakang menjadi beberapa hal yang harus diperhatikan agar pesan tetap mudah dibaca.
Untuk membantu mengecek kontras warna tulisan dan latar belakang, peserta juga diperkenalkan dengan tools seperti Coolors Contrast Checker.
Mengarahkan Mata Audiens
Desain yang baik bukan hanya membuat informasi terlihat menarik, tetapi juga membantu audiens memahami informasi sesuai urutan yang diinginkan.
Konsep ini berkaitan dengan visual hierarchy atau hierarki visual.
Dalam desain, elemen tertentu dapat dibuat lebih menonjol untuk menarik perhatian terlebih dahulu. Ukuran, posisi, jarak, kontras, dan penekanan dapat digunakan untuk mengarahkan pandangan audiens.
Prinsip “lead the eye” membantu desainer maupun pengelola media sosial menentukan bagaimana mata audiens bergerak ketika melihat sebuah desain.
Hal ini menjadi penting bagi LKSA yang menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi. Informasi mengenai program, ajakan berdonasi, kegiatan anak, maupun pesan kampanye perlu disusun sedemikian rupa sehingga pesan utama dapat segera dipahami.
Konsistensi Membuat Brand Lebih Mudah Diingat
Salah satu pesan penting dari kegiatan ini adalah pentingnya menjaga konsistensi.
Brand yang kuat tidak hanya terlihat konsisten pada logo dan warna, tetapi juga dalam berbagai titik interaksi dengan masyarakat, mulai dari kantor, pelayanan, media sosial, hingga berbagai materi komunikasi.
Konsistensi dapat dibangun melalui penggunaan tagline, gaya bahasa, musik atau suara, filter foto, warna, serta elemen visual yang seragam.
Dengan konsistensi tersebut, masyarakat akan lebih mudah mengenali sebuah lembaga bahkan sebelum membaca nama atau logonya.
Bekerja dengan Desainer: Jangan Hanya Kirim Brief “Bikin Bagus”
Ketika bekerja sama dengan desainer, lembaga juga perlu mampu memberikan informasi yang jelas.
Beberapa hal yang perlu disampaikan antara lain target audience, tujuan, pesan utama, media yang digunakan, deadline, referensi, dan CTA atau ajakan yang diharapkan dilakukan audiens.
Brief yang jelas akan membantu desainer memahami kebutuhan komunikasi, bukan sekadar membuat sebuah desain terlihat menarik.
Peserta juga mendapatkan tips mengenai penggunaan tulisan di atas foto. Ketika teks diletakkan di atas foto, keterbacaan harus tetap menjadi prioritas. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah memberikan shape atau elemen pendukung yang sesuai sehingga tulisan tetap terbaca tanpa menghilangkan fungsi foto sebagai bagian dari cerita visual.
Dari Tampilan Menjadi Dampak
Kegiatan “How Your Brand Communicates Without Saying a Word” memberikan perspektif bahwa branding bagi LKSA bukan sekadar persoalan mempercantik tampilan media sosial.
Branding merupakan bagian dari bagaimana lembaga memperkenalkan dirinya kepada masyarakat, menyampaikan nilai, membangun reputasi, dan menumbuhkan kepercayaan.
Bagi LKSA, kemampuan mengkomunikasikan program secara tepat menjadi semakin penting di tengah perkembangan media digital. Program yang baik perlu disampaikan dengan cara yang dapat dipahami oleh masyarakat agar dampaknya tidak berhenti di dalam lembaga.
Melalui kolaborasi antara 24 Academy dan Forum LKSA Kota Malang, kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi para peserta untuk melihat kembali bagaimana lembaga mereka berkomunikasi selama ini.
Harapannya, pengetahuan mengenai branding tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari lembaga—mulai dari cara menyusun media sosial, membuat materi publikasi, membangun pelayanan, hingga memperkenalkan misi lembaga kepada masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, brand bukan hanya tentang apa yang kita katakan tentang lembaga kita. Brand adalah tentang apa yang orang rasakan, ingat, dan percayai setelah berinteraksi dengan kita.
