Sunday, December 31, 2017

Untuk Wanita yang Ingin Berhenti Bekerja Suatu Hari Nanti


Hai pembaca setia Catatan Bunda, kali ini saya ingin curhat tentang resign dari pekerjaan seperti yang telah saya tuliskan pada posting sebelumnya. Udah baca belum? Resolusiku 2018, Menjadi Mompreneur yang Visioner. Yup, aku akan resign dan menjadi mompreneur saja di rumah. Bekerja di rumah seperti kebanyakan perempuan zaman now yang bisa bekerja sambil mengurus anak dan pekerjaan domestik.

Tapi ternyata resign tidaklah semudah mengangkat kedua tangan ke udara (hihihi, membalikkan telapak tangan mah udah biasa), anak kecil juga bisa. Resign ternyata juga melibatkan hati dan pikiran, semacam memilih pasangan hidup diantara beberapa calon. Iya lho, saya harus memikirkannya selama satu semester alias enam bulan untuk benar-benar memutuskan resign.

By the way, pasti kalian bertanya-tanya apa sih pekerjaan saya kok mau resign aja heboh banget gini? πŸ˜‚, mungkin bagi sebagian orang pekerjaan saya remeh tapi lembaga sekolah membutuhkan tenaga seperti saya, Tata Usaha. Pekerjaan yang saya senangi karena memang saya kuliah di bidang itu.

Namun ternyata setelah kenal menulis online, setelah punya blog dan tahu jika blog bisa menghasilkan, saya menemukan sebuah kenyamanan yang tidak bisa diganggu gugat. Saya jadi membanding-bandingkan pekerjaan tata usaha dengan menulis online. Ya, menulis online menghasilkan pemasukan lebih daripada tata usaha.

Biarlah orang berkata saya mata duitan. Nyatanya hidup memang butuh duit, apalagi anak-anak yang tumbuh besar dan kebutuhan bertambah. Suami saya seorang petani jamur dan butuh bantuan saya agar dapur tetap ngebul. Meskipun tetap tugas suami yang harus menghidupi anak istri, tak ada salahnya jika saya juga membantu. Bukankah menikah itu susah senang ditanggung bersama. Asoy…

Alasan Utama Resign

Saat hendak resign saya pernah survey kecil-kecilan di grup Blogger Kekinian tentang alasan resign beberapa anggota. Nanti ya saya posting sendiri hasil surveynya, yang jelas hasil surveynya membuat saya semakin yakin untuk resign.

Alasan utama saya resign sudah saya sebutkan sebelumnya, yaitu ingin bekerja sesuai passion. Menulis adalah passion saya. Kok saya bisa yakin? Iya donk, saya lebih nyaman saat menulis, tidak pernah bosan, mampu berjam-jam menulis bahkan hingga begadang.πŸ˜ƒ

Apa karena alasan itu saja saya mengikrarkan “menulis” sebagai passion? Ehm, sebenarnya sih saya pernah membandingkannya dengan pekerjaan saya sebagai tata usaha. Bagi saya bekerja sebagai pegawai tata usaha membosankan, yang dilakukan ya itu-itu saja. Memasukkan data siswa, mengisi rapor, membuat daftar hadir, seputar itu. Karena bosan saya otak-atik rumus excel, mencoba membuat daftar gaji dengan aplikasi excel. Alhamdulillah, lancar dan setelah itu daftar gaji tidak ditulis manual.

Lantas apakah membuat daftar gaji (secara otomatis) dapat menghilangkan kebosanan saya? BELUM

Kembali ke alasan utama resign yaitu menulis. Setelah bisa menulis di beberapa media online dan offline, saya pun nekat mengajak beberapa siswa (yang mau) untuk ikut kegiatan jurnalistik. Saya ingin menularkan kemampuan menulis saya kepada siswa-siswa yang tertarik. Namun, hasrat menulis saya belum juga terpuaskan.

Semangat menulis yang menggebu-gebu membuat saya semakin semangat mencoba hal-hal baru. Seperti training menuli online, challenge menulis, dan menjadi kontributor dalam media online. Semangat saya terlalu berkobar sehingga sulit dipadamkan. Selain pengalaman menulis yang saya dapatkan, juga penghasilan tambahan yang ternyata membuat saya ketagihan.


Alasan Lainnya, Apa?

Alasan lainnya adalah ingin semakin dekat dengan anak-anak. Meskipun sebenarnya saya sudah dekat sih dengan mereka. Sudah baca postingan saya tentang Tiga Kata Ajaib yang Bisa Membuat Dekat dengan Anak?

Semakin dekat maksudnya saya bisa lebih sering bermain bersama mereka. Saya nggak ingin menyesal karena kekurangan waktu untuk membersamai tumbuh kembangnya. Terutama anak kedua yang saat ini benar-benar membutuhkan kasih sayang ibunya. Berbeda dengan kakaknya, si adik lebih nempel sama ayah. Apa-apa ayah, bobok minta gendong ayah, kemanapun ayah pergi dia ikut.

Saya nggak ingin putri kedua saya tumbuh sebagai gadis yang kekurangan kasih sayang ibunya. Meskipun saya pernah membaca jika anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan nggak “nakal”, tetap saja saya lebih percaya jika kasih sayang ibu tiada duanya.

Intinya, saya ingin membesarkan anak berdua dengan suami. Saya ingin, tidak hanya kepada ayahnya, anak-anak “kemanthil”, tapi juga kepada saya. Saya tidak ingin anak-anak menganggap saya hanya sibuk mencari uang dan akhirnya mereka mencari perhatian (caper) kepada orang di luar rumah, bahaya kan?

Itulah mengapa lebih baik saya bekerja dirumah saja menjadi mompreneur yang siap dengan segala resiko dan tantangannya.

Resign Itu Rasanya…

Susah dijelaskan dengan kata-kata. Berat tapi tak ada pilihan lain selain saya harus resign. Teman-teman kerja saya sudah seperti saudara, sulit sebenarnya meninggalkan mereka. Untuk itulah saya nggak akan langsung menghilang dari peredaran tapi sesekali datang ke madrasah (ex.kantor saya). Dengan begitu, saya nggak langsung putus hubungan dengan teman-teman yang sudah saya anggap seperti kakak dan adik sendiri.

Tak hanya khawatir akan berpisah dengan teman-teman. Kekhawatiran saya yang lain adalah bisakah saya hidup tanpa gaji bulanan? Setelah saya tanya teman-teman yang pernah resign ternyata itu lumrah dialami oleh pekerja pada awal resign. Jika biasanya saya bisa mengandalkan gaji bulanan, setelah resign saya belum tentu mendapatkan uang tiap bulan.

Hush, jangan negative thinking donk! Kalau mikir gitu berarti nggak percaya sama yang kasih rezeki ya?

Bukan begitu, bukan saya nggak percaya jika rezeki sudah ada yang ngatur. Saya sangat percaya hal itu, bahkan porsi rezeki sudah ada yang menentukan. Tapi keluar dari zona nyaman memang tidak mudah, jika biasanya berada dikantor saat pagi hingga siang, setelah resign saya harus berada di rumah setiap saat dan setiap hari.πŸ™ˆ

Untung ada Komunitas

Bingung? Tentu saja. Takut? Sedikit.πŸ˜“. Lantas apakah saya tetap akan resign? Pasti. Saya juga sudah membuat surat pengunduran diri dan mulai berhenti bekerja pada tanggal 8 Januari 2017. Lalu bagaimana cara saya memantapkan hati dan niat?

Seperti biasa, saya curhat ke komunitas blogger dan mendapatkan berbagai macam solusi yang saya rangkum sebagai berikut.

1. Persiapkan Diri Jauh-jauh Hari

Alhamdulillah, saya memang telah mempersiapkan resign sekitar satu semester. Awalnya memang maju mundur cantik, tapi sekarang saya sudah mantap tap tap. Saya juga telah melakukan analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, dan threats). Mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk resign sangat bermanfaat agar tidak merugikan kedua belah pihak, saya (sebagai pekerja) dan sekolah (tempat saya bekerja). Saya bisa persiapkan diri dan sekolah bisa segera mencari pengganti.

2. Sisihkan Dana minimal 5x Gaji

Setelah resign, sudah pasti tak akan ada gaji rutin tiap bulan sehingga saya harus mempersiapkan dana untuk hidup setelah resign. Jadi sebelum resign saya menyisihkan uang untuk dana talangan meskipun saya yakin nggak akan kekurangan, kan suami saya gajian tiap hari (jualan sayur). Dana yang saya sisihkan untuk keperluan penting jika saya sudah resign.

3. Pamit Secara Baik-baik

Apapun alasan yang saya kemukakan saat akan resign, etika dan tata cara yang baik juga saya gunakan. Meskipun insyaalah saya ingin bermitra dengan suami untuk menjadi wirausaha, saya ingin memberikan kesan yang positif kepada teman-teman kerja. Saya mengenal mereka dan datang untuk bekerja secara baik-baik, tentu saja saat keluar dari pekerjaan dengan cara yang baik pula.

4. Pastikan Kegiatan Setelah Resign

Tentu saja saya sudah mempersiapkan kegiatan yang akan saya lakukan setelah resign. Ada toko alat tulis yang telah saya bangun sejak tiga tiga tahun yang lalu, meskipun belum berkembang tapi lumayanlaah. Lalu, kemampuan menulis artikel secara online baik menulis di blog, media offline atau online yang sedang saya asah dan akan terus saya latih. Juga jaringan menulis online atau komunitas blogger yang telah saya ikuti selama satu tahun belakang. Berharap dengan kegiatan tersebut saya tidak nganggur setelah resign dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Amiin.

5. Mengubah Gaya Hidup

Mengubah gaya hidup adalah rencana pertama yang mampir di otak saat saya memutuskan resign. Mengapa? Karena setelah resign otomatis pengeluaran harus ditekan biar nggak kebablasan, hehehe. Saat masih bekerja saya biasa mengandalkan gaji bulanan, bisa membuat list barang-barang belanjaan setelah terima gaji.


Setelah resign saya tidak bisa seenaknya membuat list belanjaan setiap bulan, saya harus lebih selektif dan bijaks saat belanja. Begitu juga dengan traveling dan kuliner yang nggak bisa se “enak udel” (baca: sembarangan) harus lebih selektif dan yang pasti NABUNG dulu. Hihihi. Iya, kan setelah resign pendapatan belum pasti seperti saat bekerja di sekolah. Meskipun insyaallah akan ada pemasukan jika mau berusaha (nulis, misalnya, dan dikirim ke media).

Itu dia lima solusi yang saya dapatkan setelah saya curhat di komunitas blogger perihal rencana resign saya. Beruntung sekali bergabung dengan komunitas blogger yang dengan senang hati memberikan solusi dan inspirasi bagi setiap permasalahan anggotanya. πŸ˜„. Makasih saya ucapkan untuk teman-teman di Blogger Kekinian dan Malang Citizen, You are my best friend forever after (ih,kayak judul movie,hihihi)

31 comments :

  1. NOMOR 3 itu sesuatu banged. Pengalaman sih. Pamit harus baik baik. Datang melamar dengan cara yang baik maka resign atau pun berhenti dari kantor juga pamit dengan santun. Jangan meninggalkan masalah hutang di kantor. Sudah banyak kejadian seperti ini. Sang pegawai resign namun hutangua di mana mana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar banget mas apalagi jika sudah dekat dengan teman kantor ya

      Delete
  2. Selamat mbak sekrng sudah bisa jd mandiri, saya belum berani untuk resign krn kerjaan saya bisa disambi banget. Ngak harus day dikantor dan ringan kerjanya.

    ReplyDelete
  3. Dan memang resign itu bikin maju mundur cantik. Akupun salah satu alasannya juga pengen banyak waktu sama anak. Apalagi masih masa usia emas. Dan september awal aku meninggalkan semua haha. Termasuk meninggalkan gaji.
    Bye gaji. Selamat datang dikehidupan emak emak stay at home mom yang bahagia :D

    ReplyDelete
  4. Moga sukses ya, mba. Dulu aku berhenti kerja sempet sindrom kangen rutinitas kerja, sharing kerjaan, target, dll. Sekarang lebih nyaman sibuk nukis saja

    ReplyDelete
  5. Awalnya berat resign dari kerja ya mbak, tapi tetap semangat ya mbak. Rejeki sudah ada yang ngatur.

    ReplyDelete
  6. sayang sekali ya mba harus resign. padahal kan selain dapat penghasilan dari menulis, juga bisa dapat gaji tetap gitu kan ya mba? apapun keputusan mba, ganbatte ^ ^

    ReplyDelete
  7. Saya selalu salut dengan orang yang berani meninggalkan 'zona nyamannya'. Semoga suatu saat nanti saya bisa, he.
    Sukses terus ya Emak ...

    ReplyDelete
  8. di 2018 ini semoga lebih baik mbak...

    ReplyDelete
  9. Selamat sudah jadi bos dan manager sendiri :)

    ReplyDelete
  10. Pastikan kegiatan setelah resign ini penting supaya ga hanya bengong di rumah. Kalau ga ada kegiatan bakal bikin stres. Semangat menjalani profesi baru :)

    ReplyDelete
  11. Yang kupikirkan, meski ada niatan utk resign nnti, kluar dri zona nyaman 😰😩
    Smoga sukses dan dilancarkan rizkinya stlh ambil resign ya Mbak πŸ™ŒπŸ™‹πŸ‘ΌπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  12. Huhuhu... terharu campur ngacungin jempolll gitu buat mbak Eni. Semangat dan kayakinannya luar biasa. Semoga semua rencana setelah resign nanti berjalan lancar dan sukses ya, Mbak.. jadi ikut nunggu cerita (hidup mb Eni) selanjutnya :)

    ReplyDelete
  13. Sejak awal saya kerjanya di rumah, asal ada koneksi internet aja. Kadang terpikir juga bagaimana sih rasanya kerja kantoran gitu heheheh..

    ReplyDelete
  14. Point yang nyisain dana 5x gaji itu saya baru tau mba :) Selama ini saya kalo resin ngga pernah matok simpanan harus berapa. Sekarang sudah ada informasi baru nih. Makasih yah mba :)

    ReplyDelete
  15. Kalau resign, apalagi saat udah berkeluarga kudu mempoersiapkan banyak hal emang ya mbak. Beda dengan yang masih blm ada tanggungan keluarga. Meski demikian emang sebaiknya dipikirin betul2 TFS

    ReplyDelete
  16. Tips dr tmn ku jg gitu klo mau resign, malah lbh besar utk bagian sisihkan dana. Dia netaoin minimal 6x gaji :D

    ReplyDelete
  17. Pernah baca (atau lihat talkshow ya, lupa), persiapkan dana at least 2th setelah resign. Tapi kalo udah ada cadangan kerjaan lain pasca resign, lain lagi kali ya mbak. Dulu saya asal resign aja, gak kepikiran beginian, hiks.. Thanks sharingnya.

    ReplyDelete
  18. Impianku banget. Tapi blm bisa2 ampe skr. Hahaha.. Masih blm punya keberanian utk bisa lepas dari gaji bulanan dan segala benefit kantor mba -_- . Tp ttp kok, ini bakal jd bucket list ku yg pertama :D.

    ReplyDelete
  19. Aku baru ngerasain resign 3 bulan ini mba.. Dan iya sama mba, rasanya berat ninggalin temen kantor yang sudah kayak sodara.. :)

    ReplyDelete
  20. saya ngk nyangka ternyata isi curhatan mbak " Tekad Risgn ". dan lebih menegangkan lg waktu keluarnya tinggal beberapa hari lg.Kok saya jd deg - deg-an padahal mbak yg mau risgn.


    Ohy mbak nulis online berbayarnya sdh coba dimana saja ?


    Semoga sukses ya mba jadi mompreuner. :)

    tulisannya mengalir dng indah mbak, mungkin dibuat dng tulus. ya..

    ReplyDelete
  21. alhamdullillah saya sudah resign, dan kini menikmati rutinitas di rumah saja :-)

    ReplyDelete
  22. Selamat berjuang Bunda..

    Bukan keputusan yang mudah walau sudah dilakukan analisa sedetail itu, rasanya masih akan terasa goncangannya, apalagi karena terbiasa pulang pergi ke kantor, pasti tetap ada rasa "kehilangan" yang sangat.

    Butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme dan kegiatan di rumah.

    Setidaknya itu yang dialami istri setelah bertahun-tahun terbiasa bekerja dan kemudian harus menjadi ibu rumah tangga.

    Tetapi, jempol buat keputusannya.

    Btw, tulisannya bagus dan keren lo 😊

    ReplyDelete
  23. Selamat ya mbak semoga terwujud resolusinya dan bisa fokus sama menulis

    ReplyDelete
  24. Wah bunda, jadi mengimgatkan saya waktu dulu saya resign dari sekolah. Padahal waktu itu saya harus membiayai kuliah saya sendiri, membantu keluarga dan membiayai hidup saya. Wkt resgn itu rasanya nano2. Sulit diungkapkan. Tetapi, allhamdulillah Allah memberikan gantinya yang jauh lebih baik. Asal ttp brusaha dan berdoa. Semangat selalu utk bunda dan dilapangkan rezekinya ��

    ReplyDelete
  25. Ada kalanya mungkin aku nggak kerja di kantor tapi tetap harus ada yang dikerjakan di rumah dan itu menghasilkan. Cuma masih harus banyak dipikir dan dipersiapkan. :) Thanks sharingnya mbak. Aku jadi punya hal lain yang harus dipertimbangkan...

    ReplyDelete
  26. Saya ingin berniat untuk keluar dari pekerjaannya, namun masih ragu karena biaya hidup saat ini.

    Semoga dengan tulisan ini niat saya bisa semakin kuat

    ReplyDelete