
Di tengah derap modernisasi dunia kesehatan, ada satu kisah yang tumbuh dari keprihatinan dan rasa kemanusiaan. Sosok itu adalah Ahmad Hasyim Wibisono, perawat dan pendiri Pedis Care Wound Clinic, sebuah klinik perawatan luka di Malang yang kini menjadi rujukan banyak pasien diabetes dari berbagai daerah.
Melalui klinik ini, ratusan pasien berhasil terhindar dari amputasi, dan ribuan lainnya mendapatkan harapan baru untuk hidup yang lebih bermakna.
Daftar Isi
Awal yang Digerakkan oleh Keprihatinan
Perjalanan Hasyim bermula pada 2014. Saat itu ia sering mendapati pasien penderita diabetes yang mengalami luka membusuk hingga berujung amputasi.
“Setiap hari saya melihat kaki-kaki yang bisa diselamatkan, tapi akhirnya dipotong karena tidak tertangani dengan baik,” kenangnya.
Dari rasa iba itu tumbuh tekad kuat bahwa ia ingin menghadirkan tempat perawatan luka yang berfokus pada penyelamatan, bukan amputasi.
Dengan latar belakang sebagai perawat tersertifikasi di bidang perawatan luka, Hasyim membangun Pedis Care dari nol.
Butuh waktu satu tahun untuk melengkapi izin praktik, prosedur visitasi dari Dinas Kesehatan, hingga akhirnya resmi beroperasi pada 2015.
“Visi kami sederhana: menyelamatkan kaki, berarti menyelamatkan masa depan,” ujarnya.
Awal Mula Pedis Care, dari Rumah Sederhana ke Klinik Terpadu

sumber: google
Awalnya Pedis Care menempati tempat sewa kecil di Jalan Maijen Panjaitan, Malang. Modalnya terbatas, pasiennya pun hanya beberapa orang.
Namun seiring waktu, kabar tentang keberhasilan Pedis Care menyebar dari mulut ke mulut. Banyak pasien yang telah divonis amputasi justru sembuh tanpa harus kehilangan anggota tubuhnya.
Saat ini, Pedis Care telah berkembang menjadi klinik perawatan luka modern dengan lebih dari 60 tenaga perawat profesional, baik yang bekerja di klinik maupun melakukan kunjungan rumah.
Mereka menangani berbagai jenis luka, mulai dari luka diabetes, luka kanker, luka tekanan, hingga luka operasi yang tidak kunjung sembuh.
Metode yang digunakan berbasis perawatan luka modern yakni perban khusus yang menjaga kelembapan optimal sehingga proses penyembuhan lebih cepat dan tidak perlu diganti setiap hari.

“Biasanya pasien cukup dirawat setiap tiga hari sekali. Selain lebih hemat, proses regenerasi jaringan juga lebih baik,” jelas Hasyim. (sumber gambar: instagram pediscare) )
Perawatan yang Menyentuh Semua Kalangan
Kabar baiknya, Pedis Care bukan hanya untuk mereka yang mampu. Hasyim menyadari bahwa biaya perawatan luka diabetes bisa cukup tinggi, berkisar antara Rp100.000–Rp400.000 per sesi tergantung tingkat keparahan luka. Namun ia tidak ingin kemiskinan menjadi penghalang bagi pasien untuk sembuh.
Melalui program donasi dan webinar amal, Pedis Care rutin menggalang dana bagi pasien kurang mampu. Laporan donasi dan hasilnya pun dipublikasikan secara transparan melalui media sosial mereka.

sumber: instagram pediscare
Dampak SATU Indonesia Awards

sumber: dokumen pribadi
Tonggak penting bagi perjalanan Hasyim terjadi pada 2019, ketika ia menerima Apresiasi SATU Indonesia Awards dari PT Astra International Tbk.
Ia terpilih sebagai penerima kategori Kesehatan berkat kiprahnya yang nyata menyelamatkan banyak pasien dari amputasi.
Namun lebih dari sekadar apresiasi, penghargaan ini menjadi pintu pembuka bagi Pedis Care untuk berkembang. Dukungan dari Astra melalui jaringan media, komunikasi korporat, dan branding menjadikan Pedis Care semakin dikenal masyarakat luas.
“Setelah ikut program Astra, banyak pihak yang akhirnya ingin bekerja sama. Kami dapat bantuan dana untuk pengembangan klinik baru dan pendampingan dalam membangun sistem bisnis yang berkelanjutan,” tambahnya.
Kini, Pedis Care telah memiliki cabang di Gondanglegi dan Sidoarjo, serta tengah bersiap ekspansi ke Kupang dan Mataram.
Bahkan, pada tahun 2022 mereka menjalin kolaborasi dengan SMK Mutu Gondanglegi, membuka kesempatan bagi siswa keperawatan untuk belajar langsung tentang perawatan luka profesional.
Karya yang Tidak Berhenti di Klinik

sumber: https://pediscare.com/
Dedikasi Hasyim tidak berhenti di ruang praktik. Bersama timnya, ia rutin menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi perawatan luka baik secara offline maupun hybrid. Pelatihan ini diikuti oleh perawat, bidan, dan bahkan dokter dari seluruh Indonesia.
“Kami ingin ilmu ini menyebar. Semakin banyak tenaga kesehatan yang paham perawatan luka modern, semakin banyak kaki yang bisa diselamatkan,” tutur Rizkha selaku marketing Pedis Care.
Menurut Rizkha selaku tim marketing pediscare, Hasyim juga menggagas inovasi sandal khusus untuk pasien diabetes. Saat itu di Pediscare ada pasien yang berprofesi sebagai petani.
Terinspirasi dari kebiasaan petani yang sering berjalan tanpa alas kaki, ia menciptakan alas kaki dengan insole empuk yang mampu mengurangi tekanan dan mencegah luka baru.

“Kadang hal sederhana seperti sandal bisa menyelamatkan seseorang dari luka yang berujung amputasi,” Rizkha menjelaskan. (sumber: dokumen pribadi)
Menumbuhkan Harapan, Membangun Ekosistem Kesehatan
Lebih dari sekadar klinik, Pedis Care kini telah berkembang menjadi ekosistem kesehatan yang terintegrasi. Menggabungkan layanan medis, edukasi masyarakat, inovasi produk kesehatan, dan pemberdayaan sosial.
Mereka memiliki sistem konsultasi online, pelatihan berkala, hingga monitoring pasien jarak jauh agar proses penyembuhan tetap terpantau.
Keberlanjutan menjadi prinsip utama. Pedis Care tidak ingin sekadar membantu sesaat, tapi menciptakan rantai manfaat jangka panjang.
“Kami ingin setiap pasien yang sembuh bisa menjadi inspirasi bagi yang lain. Bahwa luka bukan akhir segalanya,” ujar Hasyim.
Dari Harapan Menuju Gerakan
Apa yang dilakukan Hasyim sejalan dengan semangat “Satukan Gerak, Terus Berdampak” tema yang diusung Astra dalam SATU Indonesia Awards. Baginya, kolaborasi adalah kunci perubahan berkelanjutan.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Ada pasien, keluarga, tenaga medis, relawan, hingga lembaga sosial yang bergerak bersama. Itulah kekuatan sebenarnya,” katanya.
Dalam tujuh tahun perjalanan, Pedis Care telah menangani ribuan pasien, mengadakan puluhan sesi pelatihan nasional, dan membentuk jejaring perawat luka modern di berbagai kota.
Semua itu lahir dari niat sederhana untuk mencegah amputasi, namun kini berkembang menjadi gerakan besar yang menyelamatkan manusia.
Menatap Masa Depan dengan Keyakinan
Kini, Hasyim tengah menyiapkan langkah berikutnya yaitu digitalisasi layanan Pedis Care. Ia berencana mengembangkan platform aplikasi untuk memantau perkembangan luka pasien secara real time, sekaligus menghubungkan pasien dengan tenaga perawat di daerah masing-masing. Dengan begitu, harapan bisa menjangkau lebih luas.
“Teknologi bukan untuk menggantikan sentuhan manusia, tapi memperluas jangkauannya,” ujarnya mantap.
Mimpi Hasyim sederhana namun besar agar Indonesia menjadi negara yang lebih peduli pada kualitas hidup pasien kronis. Baginya, setiap luka yang sembuh adalah bukti bahwa kasih sayang dan ilmu bisa bersatu menjadi kekuatan penyembuhan.
#APA2025-PLM #SatukanGerakTerusBerdampak #KitaSATUIndonesia
1. Hasil wawancara dengan Ns. Ahmad Hasyim W, M.Kep, MNg, Sp.KMB selaku C.E.O Pedis Care Center

1 Komentar. Leave new
wah keren ini perjuangannya