
“Saya tuh belum berasa makan kalau belum makan nasi”
Hayo… siapa yang berpikiran seperti itu? Kebiasaan makan nasi (beras putih) ini rasanya sudah tertanam di masyarakat kita. Apalagi nasi mudah di dapat dan harganya terjangkau. Padahal kan sebenarnya banyak sumber pangan lokal yang juga sumber karbohidrat dan lebih sehat tentunya.
Data dari pertanian.go.id menyebutkan bahwa beras putih atau nasi masih mendominasi porsi menu konsumsi masyarakat di Indonesia. Saya sih percaya dengan data tersebut karena di keluarga saya pun masih suka makan nasi putih.
Cuma yang saya heran tuh, kata nenek buyut saya zaman dulu makanan pokoknya bukan nasi melainkan tiwul, singkong, ubi jalar, tepung sagu, dan sejenisnya. Pantesan ya orang dulu tuh sehat-sehat malah katanya jarang gitu yang sakit stroke dan diabetes. Itu kata nenek saya loh ya yang pernah merawat ibunya (nenek buyut saya) hingga usianya 100 tahun lebih.
Kira-kira sejak kapan sih orang Indonesia ini menjadikan nasi putih sebagai makanan sehari-hari?
Menurut kelaspintar.id tentang sejarah perkembangan beras di Indonesia, masyarakat mulai menjadikan nasi sebagai makanan pokok pada zaman kemerdekaan. Hingga muncullah Repelita I dengan program swasembada beras meskipun pada tahun 1969-1974 tersebut masyarakat lebih akrab dengan makanan pengganti nasi yang sudah saya sebutkan.
Saya juga ingat, ketika masih SD sekitar tahun 1998 guru saya sering menyebut Pak Soeharto yang mendapat penghargaan dari FAO atau Badan Pangan Dunia karena berhasil mencapai swasembada beras . Repelita I-V sering disuarakan sebagai keberhasilan pemerintah dalam membangun infrastruktur untuk meningkatkan produktivitas di sektor pertanian.

Keberhasilan strategi pemerintah dalam bidang pertanian inilah yang kemudian membuat masyarakat Indonesia ketergantungan pada beras. Hingga muncullah istilah ‘belum berasa makan kalau belum makan nasi’ sebagai ciri khas orang Indonesia.
One Day No Rice, Dukung Diversifikasi Pangan sebagai Kunci Ketahanan Pangan
Nasi adalah makanan pokok di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Sumber karbohidrat ini mengandung vitamin B1, B2 B3, dan B6 tapi sangat minim serat dan lebih banyak mengandung gula dan pati. Oleh karenanya mengonsumsi nasi berlebih tidak dianjurkan karena bisa mengakibatkan peningkatan jumlah lemak tidak sehat.
Dalam tahap kritis, nasi dapat menyebabkan diabetes, stroke, dan penyakit jantung.
Itulah mengapa penderita diabetes dianjurkan untuk mengurangi nasi atau mengonsumsi makanan pengganti nasi yang lebih sehat. Seperti nasi ubi jalar, kentang, talas, jagung, tiwul, oat, gandum, dan masih banyak lagi.
Nah, ketika pandemi melanda dan banyak orang yang mengeluhkan tentang perekonomian. Banyak usaha yang gulung tikar karena bisnis lesu. Pemasukan keuangan berkurang tapi kebutuhan sehati-hari harus tetap terpenuhi.
Sebagai orang yang tinggal di desa, saya pun sangat bersyukur karena banyak alternative untuk memenuhi kebutuhan pangan. Seperti ada ladang untuk menanam sayur dan harga bahan makanan juga tidak terlalu tinggi karena dekat dengan petani. Lain halnya jika tinggal di kota besar, ya kan?
Meskipun begitu, saya tidak boleh jemawa karena mudahnya akses bahan makanan, seperti bisa menanam sayur dan memanen beras dari sawah (yang ini milik bapak mertua, hehehe). Saya merasa tetap harus mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi selama masa pandemi.
Misalnya dengan menerapkan one day no rice seminggu sekali di keluarga saya. Kalau saya sih sebenarnya sudah mulai mengurangi nasi karena obesitas yang saya alami. Tapi keluarga saya (anak-anak dan suami) masih menjadikan nasi sebagai makanan pokok.
Lalu, kalau sehari tidak makan nasi kami menggantinya dengan apa?
Banyak loh makanan pengganti nasi, seperti yang telah saya sebutkan. Nah, kami lebih memilih bahan makanan yang mudah didapatkan di sekitar. Misalnya singkong, nasi tiwul (beras singkong), jagung, talas, dan ubi jalar.
Pada awalnya anak-anak kurang suka dengan pengganti nasi ini tapi lama-lama mereka doyan juga. Favorit mereka adalah tiwul manis dan jagung rebus.
Singkong saya pann langsung dari kebun, kalaupun beli di pasar harganya sangat murah. Hanya Rp.3000 per kilo. Kalau jagung perkilo sekitar Rp.5000 – Rp.7000, talas dan ubi jalar hanya Rp.4000 per kilo. Murah banget kan? Iya, karena memang dekat dengan petaninya.
Sekalian lah ya menjelaskan kepada anak-anak bahwa kegiatan kami ini disebut dengan diversifikasi pangan yaitu upaya untuk memvariasikan makanan pokok yang dikonsumsi sehingga tidak terfokus pada satu jenis saja.
Diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Ketika menyediakan pangan alternatif secara otomatis kita bisa menurunkan ketergantungan pada beras putih. Harapannya sih bisa menggerakkan ekonomi dan mewujudkan generasi sehat.
Selain bisa mengurangi konsumsi nasi, One Day No Rice juga memiliki manfaat yang lain yaitu mengenalkan beras yang terbuat dari jagung dan umbi-umbian kepada anak-anak. Saat ini banyak beredar makanan kekinian seperti mie dengan level kepedasan tertentu, minuman kekinian yang manis, pizza, dan aneka roti.
