Bagi wanita, menjadi ibu rumah tangga saja atau sekaligus berkarir merupakan pilihan. Kedua-duanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bahkan, menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa asisten rumah tangga (ART) dialami kedua profesi tersebut.
Sejak menikah saya tidak pernah menggunakan tenaga ART untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Selain tidak mampu jika harus membayar ART, alhamdulillah suami saya bisa diajak kerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan domestik.
Ribet? Riweuh? Iya banget. Apalagi sebelum saya resign dan masih harus bekerja di lembaga pendidikan. Bangun pagi sebelum subuh, lanjut masak, membersihkan rumah, dan merawat anak. Bisa dibayangkan betapa serunya suasana rumah saya setiap pagi.
Lalu, apakah pekerjaan rumah bisa selesai sesuai dengan yang saya harapkan?
Oh, tentu saja meskipun tidak seratus persen karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, hehehe.
Daftar Isi
Tips Menyelesaikan Pekerjaan Rumah Tanpa ART
ART memang terkadang sangat dibutuhkan oleh sebuah rumah tangga. Namun, mencari ART sesuai kriteria bukanlah hal yang mudah. Padahal, untuk ibu bekerja ini menjadi hal penting.
Belum lagi kalau ada drama ART, mulai dari pulang kampung gak balik-balik, kurang bisa mengikuti petunjuk pekerjaan, suka mengadu domba, suka ngerumpi, sering main hape, dan masih banyak lagi.
Jika Bunda sudah beberapa kali mengalami pergantian ART dan masih trauma untuk mencari yang baru, menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri adalah solusi terbaik.
Khusus Bunda yang bekerja, beberapa tips di bawah ini dapat digunakan.
Mengatur Waktu dengan Baik
Sebagai ibu atau wanita yang mempunyai peran ganda, pengaturan waktu dengan baik harus diutamakan. Tidak dapat dipungkiri, Bunda harus sedikit bekerja ekstra dibandingkan orang lain. Namun, jika ingin sukes, memang harus begitu, bukan?
Pengaturan waktu yang dimaksud di sini harus konsiten hingga kondisi stabil. Selain untuk menyelesaikan semua pekerjaan di rumah, agar Bunda tetap mempunyai me time, waktu dengan keluarga, dan istirahat.
Menentukan Prioritas Pekerjaan
Kebanyakan wanita memang lebih suka melakukan pekerjaan sendiri. Namun, jika Bunda adalah IRT sekaligus wanita karir, harus merelakan beberapa hal untuk diurus orang lain.
Misalnya, cuci dan menyetrika diserahkan kepada laundry kiloan. Usaha ini sangat membantu sekali. Selanjutnya, memasak tidak perlu setiap hari jika tidak memungkinkan.
Meminta Bantuan Suami
Pasangan alias suami memang kepala keluarga. Namun, bukan berarti dia tidak boleh menyelesaikan tugas rumah tangga. Mintalah bantuan dan kerjasamanya untuk beberapa hal, seperti membangunkan anak-anak di pagi hari dan menyapu rumah.
Saya dan suami sudah saling membantu sejak awal menikah. Saya bersyukur memiliki suami yang bisa diajak kerjasama menyelesaikan pekerjaan domestik. Biasanya setiap pagi saya memasak dan suami mencuci pakaian dengan mesin cuci.
Mengajak Anak Bekerja Sama
Selain suami, ajak anak-anak bekerja sama. Dengan keluarga memang harus dibangun komunikasi yang baik.
Mintalah anak mencuci piringnya sendiri selesai digunakan dan merapikan kamar. Hal ini juga akan melatih kemandirian dan tanggung jawab anak.
Menurunkan Standar Pekerjaan Rumah
Sebagai ibu, Bunda mungkin tidak puas jika suami menyapu dan anak-anak mencuci piring. Jangan khawatir, mereka akan terbiasa dan hasilnya akan lebih baik dari pertama kali melakukannya. Bunda dapat merapikan rumah di saat senggang atau hari libur, yang penting jangan terlalu memaksakan diri.
Jika lima hal tersebut dilaksanakan, dapat dikatakan kita sudah tidak lagi memerlukan ART. Dua sampai tiga minggu pertama akan sulit dan melelahkan. Namun, setelah itu Bunda akan terbiasa dan pada akhirnya sudah tidak lagi bergantung pada orang lain untuk urusan pekerjaan rumah.

12 Komentar. Leave new
Ah iya
Emang butuh tips yang tepat agar pekerjaan rumah bisa cepat selesai ya mbak
Dan emang akupun juga melakukan yg mbak tulis itu
Paling penting tuh, emang menurunkan ekspektasi ya mbak
Terima kasih sudah mampir membaca
kalau aku yang pasti menurunkan standar pekerjaan rumah. hehe. kadang aku beres-beres seadanya aja. untungnya rumahku terbilang kecil jadi nggak banyak yang harus diberesin
Terima kasih sudah mampir membaca
Poinnya kok bener semua sih mbak. kebetulan aku juga ibu rumah tangga yang tanpa ART. menurunkan standar kebersihan rumah dan kerapihan rumah adalah kunci agar tidak stress sendiri. apalagi kalau punya anak kecil.
Kadang kok kesannya kejam banget ya kalau dilihat orang lain, nyuruh2 anak ngepel atau buang sampah. Tapi itu adalah bagian dari teamwork dan melatih kemandirian anak. plus meringankan tugas mamaknya agar bisa cepet2 me time nonton drakor. hehehe..
Terima kasih sudah mampir membaca
betul sekali mbak, 6 tahun punya balita kalau ngarepin rumah always rapih tanpa art duh bisa stress sendiri. Akhirnya aku pun menurunkan standar dan urusan setrika ke laundry, lauk pun lebih sering beli. hehe
Terima kasih sudah mampir membaca
Alhamdulillah
Ibu selalu kuat melakukan rentetan tanggungjawab rumah tangga setiap hari. Dan senang sekali, aku pun merasakan hal yang sama saat anak-anak sudah bisa dilatih kemandirian sejak dini.
Sehingga paling engga, mereka sadar dengan apa yang dibutuhkan dan bagaimana memenuhinya. Kalau usianya semakin besar, sudah bisa diajak bekerjasama dalam menyelesaikan urusan rumah tangga seperti gamifikasi.
Sehingga semua merasakan susah senang bersama.
Terima kasih sudah mampir membaca
Meskipuun saya lelaki, namun di rumah, saya berbagi tugas dengan istri dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Disatu sisi sebagai efektivitas kerja, juga agar tenaga dan waktu lebih efisien jika dilakukan bersama. Biasanya unntuk urusan memasak dan menyetrika itu bagian istri, sedangkan saya biasanya mendapatkan tugas untuk mencuci baju, mencuci piring kotor, menanak nasi, belanja sayur dsb. Kuncinya adalah komunikasi dan berbagi tugas satu sama lain
Terima kasih sudah mampir membaca