Sabtu, Februari 25, 2017

5 Salah Kaprah Guru dalam Merdeka Belajar



Guru merdeka belajar? Maksudnya apa sih?

Teman-teman pernah mendengar “Kampus Guru Cikal?” kalau belum silahkan tanya “mbah google” dulu karena saya tidak akan membahasnya disini. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa istilah merdeka belajar berasal dari Kampus Guru Cikal.

Menurut Guru Najelaa Shihab, guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki tujuan dan visi yang jelas akan masa depan anak didiknya, akan diapakan potensi anak didiknya. Guru merdeka belajar itu bisa melihat dan menerima kekurangan pembelajarannya, sehingga bisa menerima kritikan dan saran. Ini susah banget nih, jarang banget guru mau dikritik karena masih ada yang kurang dalam pembelejarannya. Tapi bener deh, kalau udah jadi guru kadang tidak bisa melihat kekurangan kecuali ada yang ngasih tahu.

Misalnya nih, ada siswa bolos saat pelajarannya, atau siswa ngobrol sendiri tidak memperhatikan, bahkan ada yang tidur saat pelajaran, jarang ada guru yang menunjuk dirinya lebih dahulu sebelum menyalahkan orang laih/siswanya. Fiuh… ternyata guru merdeka belajar itu tidak semudah yang kubayangkan, dan saya masih belum ada secuilnya.

Ternyata guru merdeka belajar itu bisa dikembangkan lho, melalui sertifikasi misalnya. Tapi ada salah kaprah tentang proses guru belajar. Menurut komunitas guru belajar, ada lima salah kaprah guru dalam merdeka belajar.

1. Karena Insentif
Alasan klasik nih, siapa sih yang gak suka duit? Hehehe. Jika insentif yang dipikirkan, maka guru tidak bisa merdeka dalam belajar. Ilmu yang diperoleh dalam pengembangan belajar, seperti pelatihan, tidak akan bertahan lama. Misalnya aja guru mau belajar jika diberi uang transport dan dapat sertifikat. Padahal guru yang merdeka belajar akan merasa membutuhkan solusi tentang masalah yang dihadapi di kelas.

Ini tantangan bagi guru yang ingin merdeka belajar. Banyak guru yang sulit untuk diajak belajar, karena yang ditanyakan adalah insentif dan sertifikat, bukan ilmu apa yang akan mereka peroleh saat belajar bersama pendidik yang lain.

Meskipun tidak semua guru yang begitu ya, contohnya saya, hehehe #sambilnunjukhidung
Saya paling suka belajar, secara online ataupun offline, berbayar maupun gratis. Asalkan waktu dan tempatnya sesuai alias bisa dijangkau saya akan datang dengan senang hati. Maaf, bukannya sombong tapi saya memang suka berburu ilmu asalkan sesuai dengan kemampuan saya.


2. Hanya Belajar dari Pakar
Sejatinya guru tidak hanya bisa belajar dari ahli pendidikan. Kalau ada seminar yang pematerinya pakar pendidikan, guru berbondong-bondong ikut. Giliran ada workshop dari ahli pembuat tikar, sepi pendaftar. Nah??

Pakar waktunya terbatas, banyak sibuknya, kalau ikut seminar biasanya cuma 2-3 jam saja. Padahal dalam pengalaman sehari hari, guru malah bisa belajar dari sesama guru yang lain. Bukankah justru lebih ahli di dalam kelas? Lebih punya pengalaman dan tips cara mengajar
Sepertinya lebih efektif jika guru belajar melalui kolaborasi dengan guru lain, contohnya lebih nyata.

3. Guru Hanya Sebagai Tukang (Pelaksana)
Pemahaman tentang “why” adalah ciri utama seorang guru professional, bukan cuma menekankan kepada “how to”. Jika tidak maka guru tidak ada bedanya dengan tukang bangunan yang hanya tahu cara melakukan sesuatu tanpa tahu alasannya.

Penting sekali bagi guru untuk tahu filosofisnya, kenapa harus melakukan sesuatu. Harapannya guru dapat  secara konsiten menjalankan. Jika perlu lakukan diagnosa, sebetulnya apa kebutuhan masing masing anak didik dan kelas pada periode tertentu, kalau cuma “how to” maka guru hanya melakukan hal yang standard dan sama.

Baca Juga: Tingkatkan Minat Baca Siswa Melalui Mading

4. Prosesnya Dikejar Waktu
Banyak guru yang miskin pemahaman dan keterampilan, hal ini terjadi karena beban jam mengajar yang besar sehingga guru terburu-buru saat harus berinovasi. Padahal guru butuh waktu untuk merancang aksinya setelah melakukan perencanaan, termasuk menentukan strategi saat menghadapi masalah. Namun, apa daya jika prosedur administrative dan birokratif membuat guru kehabisan waktu bahkan untuk melakukan self assasment dan memberikan umpan balik.

Proses guru belajar diburu waktu, sehingga tidak bisa merencanakan kurikulum dan berinovasi dengan baik. Sedangkan inovasi tidak mungkin direplikasi begitu saja, inovasi harus dimiliki guru, dan butuh waktu.

5. Kompetensi Guru Diidentikan Kompetensi Perindividu
Sadar gak sih kalau kompetensi guru bukanlah kompetensi individu? Uji kompetensi haruslah merupakan gambaran yang utuh. Sabagus apapun potensi guru untuk melakukan sebuah inovasi, untuk mengajar dengan luar biasa, kalau tidak didukung oleh lingkungan (pengawas, kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah) hanya akan menjadi potensi individu dan tidak pernah menjadi potensi bersama sama.

Padahal pengaru kolektif dari lingkungan sangat mendukung guru untuk mengurangi rasa takut, saling berempati akan kebutuhan yang berbeda, dan menghormati pemecahan masalah secara bersama-sama.



2 komentar :