Wednesday, October 11, 2017

Drama yang Mewarnai Perjalanan Menuju Festival Bonorowo Menulis

Membaca adalah lentera bangsa
Membaca adalah lentera dunia
Membaca membuka cakrawala
Membaca untuk Indonesia
Dengan membaca kita berbudaya
Dengan membaca kita berdaya guna
Dengan membaca kita menjadi bisa
Dengan membaca kita berkarya

Lagu mars literasi menyambut kedatangan saya dan anak-anak (murid saya) di Sanggar Pena Ananda. Udara panas membuat kami menghabiskan segelas teh hangat yang disajikan, setelah hampir tiga jam menunggu jemputan dari panitia di stasiun Tulungagung.Yap, Kamis (6/10) lalu kami datang ke Desa Bangoan, Tulungagung untuk menghadiri Festival Bonorowo Menulis II yang diadakan oleh Pena Ananda. Perjalanan ke Tulungagung kami lalui dengan banyak drama 😝

Drama1: Penantian di Stasiun  

sebelum berangkat mendapat pengarahan dari Kepala Madrasah

Sebenarnya tak hanya ketika tiba di stasiun Tulungagung saja kami harus menunggu berjam-jam, pada saat berangkat pun kami harus menunggu kereta tiba sekitar satu setengah jam 😎 Pasalnya saya mengajak anak-anak berangkat lebih awal karena takut macet dan ketinggalan kereta. Saya masih trauma karena pernah terlambat datang ke stasiun saat hendak pulang selepas menghadiri Kopdar Cipoer bareng Gus Ipul di Surabaya, dan saya nggak mau hal itu terulang kembali karena keberuntungan belum tentu datang dua kali kan? 😊 Menunggu lama di stasiun itu... ternyata membosankan, apalagi jika bersebelahan dengan Roti Boy (Stasiun Tulungagung) yang harumnya membuat cacing di perut ikut berdansa. Belum lagi anak-anak yang pakai drama merengek segala, membuat hati saya luluh, akhirnya saya pun mengajak mereka selfi 😁.

Baca juga: Sudahkah Anak Kita Berliterasi Kritis?


Kamis, 5 Oktober 2017 kami bertolak dari wajak dengan menyewa angkot hijau jurusan Wajak-Malang, kenapa harus menyewa? Karena menyewa lebih murah daripada harus naik angkot secara ecer πŸ˜‰ Nah, meskipun saya tahu Kereta Penataran akan datang jam 10.20 di Stasiun Kota Lama Malang, saya tetap berangkat pukul 7.30 dari Wajak. Padahal perjalanan hanya satu setengah jam πŸ˜”. Ealah, ternyata saat itu jalanan tidak terlalu padat dan pukul 09.00 kami sudah sampai di Stasiun Kota Lama. Ulala.. itu berarti kami harus menunggu 😏. Drama lagi deh 😡
Selfi untuk sedikit mengusir kebosanan
Sekitar pukul 13.00 kami tiba di Stasiun Tulungagung, saya segera menghubungi Mbak Rini salah satu panitia yang telah berkomunikasi dengan saya sejak saya ingin hadir di Festival Bonorowo Menulis πŸ˜€. Namun, balasan WA dari Mbak Rini membuat wajah anak-anak tak secerah saat mereka datang, karena ternyata kami harus menunggu hingga pukul 15.30 πŸ˜…. Untuk mengurangi kebosanan kami sholat dhuhur di mushola stasiun, makan siang nasi bekal, dan berfoto ria. Oiya, anak-anak sempat dimarahi petugas karena selfi dan wefie di dekat rel kereta (ya iyalah, lha wong sudah ada garis kuningnya, artinya gak boleh masuk, masih aja menerobos 😩dasar anak-anak). Saya sebagai pendamping agak malu juga sih tapi tak saya hiraukan. Untung saya bisa cuek bebek menghadapi segala permasalahan. Udah kebal sama hal begituan (red: malu dengan tingkah anak-anak) 😈.

tingkah polah anak-anak saat bosan menunggu di stasiun Tulungagung

Lelah kami berangsur-angsur hilang hingga datanglah petugas stasiun yang menegur kami dan bertanya, "Ibu baru datang ya?" dan saya jawab dengan jujur, "sebenarnya sudah tadi pak, tapi maaf bolehkah kami menunggu hingga pukul 15.30 di musholla?" Namun bapak petugas berwajah ramah itu mengarahkan kami ke ruang tunggu stasiun yang ada di depan dan alhamdulillah ruang tunggu sedang sepi dan kami bisa duduk dan mencharge smartphone dengan bebas πŸ˜€πŸ˜πŸ˜ƒ.

Drama2: Tak Ada Homestay, Sanggar pun jadi 😍

Tetiba di Sanggar Pena Ananda kami disambut gembira oleh Bunda Tjut Zakiya yang saat itu sedang melatih anak-anak menyanyikan mars literasi. Katanya sih saat itu akan ada tamu dari Kementrian Kesehatan (acara FBM bersamaan dengan pencanangan desa sehat) yang juga meminta anak-anak tampil. Tapi ternyata tamu "istimewa" tersebut datang Ba'da Maghrib, itu pun cuma sebentar karena anak-anak yang rencananya akan tampil sudah pulang semua 😎. Semacam interview singkat gitu deh, bahkan saya nggak sempat menanyakan nama beliau 😝.

tamu dari Kementrian Kesehatan yang hadir Ba'da Isya

Drama kedua pun dimulai, Anak-anak terus bertanya, "kami akan tinggal dimana?" Karena hingga adzan maghrib terdengar, kami masih belum bisa memastikan diri akan tinggal dimana. Sedangkan Bunda Tjut mengatakan boleh tinggal di sanggar jika memang belum ada kabar tentang homestay dari kepala desa 😑 Keluh kesah anak-anak membuat saya iba, belum lagi keluhan mereka tentang udara yang panas sekali. Mirip Surabaya deh pokoknya. Tapi alhamdulillah keramahan Bunda Tjut dan seluruh makhluk yang berada di sana membuat anak-anak kemudian enggan meninggalkan tempat itu πŸ˜„πŸ˜ Terima kasih Bunda Tjut, Mbak Nikita, Mas Zaki (anak laki-laki Bunda, semoga tidak salah nama πŸ˜‰).

Drama3: Bertemu Kakak Cantik hingga Berbagi Cerita

Pembukaan FBM yang dibuka dengan nyanyian dan tarian mars literasi dari adik-adik SD dan SMP

Pemukulan gong tanda dibukanya FBM 2017

Jum'at, 7 Oktober 2017 kami menghadiri pembukaan Festival Bonorowo Menulis yang rencananya akan dihadiri oleh Kemendibud tapi ternyata beliau berhalangan hadir dan diwakili oleh Drs. Abdul Khak, M.Hum, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur. Setelah pembukaan saya mengantar anak-anak mengikuti workshop di sekolah dasar yang tak jauh dari sanggar tempat kami tinggal. Workshop pertama yang diikuti anak-anak adalah membuat puisi dan membuat naskah drama. Setiap workshop membayar kontribusi sebesar Rp. 15.000 dengan fasilitas snack dan sertifikat.
Anak-anak saat mengikuti workshop
Malam harinya, kami nggak tahu kalau ternyata ada panggung hiburan. Untung saja kami nggak bisa berdiam diri di sanggar dan jalan-jalan ke lapangan Bangoan. Surprise banget pas tahu ada pagelaran musik kontemporer dari pelajar Tulungagung. Kami terkesima dengan macam-macam alat musik tradisional yang mereka mainkan, dan yang paling membuat kami terpesona adalah mereka masih berstatus pelajar tapi lihai memainkan gamelan, angklung, drum, dan tabuh. Vokalisnya juga cantik dan suaranya aduhai, lihai menyanyikan tembang jawa πŸ˜‰.

Sabtu pagi, saya mendampingi anak-anak bermain tebak novel bersama kakak-kakak cantik dari Revolt (Reading Volunteer Indonesia). Pada kesempatan ini anak-anak belajar berbicara di depan umum sembari mengarang sebuah cerita, seolah-olah mereka hendak membuat sebuah novel yang kemudian dikomentari oleh teman-teman yang lain. Setelah dhuhur, anak-anak menghadiri workshop pembuatan scrapbook di tempat yang sama sedangkan saya menghadiri talkshow parenting di Lapangan Bangoan (panggung utama). Apa dan bagaimana isi talkshownya? Nanti deh saya tulis dalam postingan tersendiri. Pokoknya talkshownya bagus dan menarik deh, saya betah dan nggak terasa melaluinya hingga tiga jam.

kegiatan kami selain workshop, happy... happy πŸ˜πŸ˜‹

Malam Minggu, kami bersama tim Revolt bermain game tentang book sharing. Siapa sih Revolt ini? Hehehe, nanti juga saya tulis pada postingan terpisah yes πŸ˜ƒ. Atau googling aja Revolt Indonesia pasti deh ada. Jadi malam itu Tim Revolt mengajarkan kepada kami pentingnya berbagi ilmu, termasuk apa yang telah kita baca. Berbagi tidak harus dengan materi, buku yang telah kita baca juga bisa kita bagikan isinya kepada orang lain. Setelah saya dan anak-anak mempraktikkannya, ternyata book sharing itu sungguh luar biasa manfaatnya. Anak-anak yang berbagi cerita kepada adik-adik di sekitar panggung merasa senang dan ketagihan. Sedangkan saya yang bisa berbagi cerita isi buku kepada penjual jus juga merasa senang luar biasa, selain itu saya jadi punya teman baru 😁😍.

Drama4: Berpamitan dan Kehilangan Sepatu πŸ˜₯

Minggu pagi kami harus kembali pulang ke Kota Malang tercinta. Seperti biasa sebelum pergi pastinya kami berpamitan kepada orang-orang yang pernah kami temui, terutama pemilik rumah. Siapa lagi kalau bukan Bundo tercintah, Bunda Tjut Zakiyah yang imut dan luar biasa. Tangisan bombay pun terjadi saat satu per satu dari kami memeluk Bunda untuk berpamitan. Sampai ada satu anak saya (Nayla) yang nangis gak bisa berhenti πŸ˜₯. Meskipun hanya tiga hari tapi Bunda memperlakukan kami seperti anak sendiri. Meskipun sibuk menghandle acara tapi Bunda masih sempat mengingatkan kami untuk makan. Sekali lagi terima kasih ya Bunda 😍

Take a pict dulu dengan Bunda Tjut sebelum berpisah, sayangnya waktu tangisan bombay gak kefoto, sibuk nangis 😎

Tak hanya itu, kami juga berpamitan dengan Pak Tosa pemilik Sembilan Mutiara Publishing dari Trenggalek. Beliau juga pejuang literasi yang semangat juangnya luar biasa. Alhamdulillah banyak ilmu yang dishare oleh Pak Tosa, mulai dari pendirian taman bacaan hingga komunitas penulisan yang beliau gawangi dan juga penerbit Sembilan Mutiara yang Pak Tosa kelola. Kami juga mendapatkan buku dari Pak Tosa. Terima kasih Pak, jasamu tiada taraaa (*pakai lagu himne guru*) 

Setelah berpamitan, kami pergi ke stasiun diantarkan oleh adik ipar Bunda Tjut. Alhamdulillah kami tidak perlu menunggu lama untuk kereta yang satu ini. Kami pun tiba dengan selamat di Malang pada jam yang tepat. Tapi sayang, sepatu Anggi (salah satu siswa saya) tertinggal di kereta karena terjatuh di kolong kursi 😐. Semoga Anggi segera mendapat pengganti ya. Oiya, jam tangan Niroh juga hilang saat menginap di sanggar. Sebenarnya ada seorang anak yang mengaku membawa jam itu, dikira punya temannya. Tapi ternyata nggak dibalikin. Huft. Kasihan Niroh, semoga dia juga segera mendapatkan ganti yang lebih baik. Amiin.
Keseruan di perjalanan 😏

Begitulah kira-kira kisah perjalanan kami mengikuti Festival Bonorowo Menulis 2017 di Desa Bangoan, Tulungagung. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca. Semoga bermanfaat bagi kalian semua. Amiin. Eh, kalau bermanfaat boleh lho dishare. 😍

17 comments :

  1. Waah perjalanan ke Festival Bonorowo Menulisnya seruy , meskipun banyak drama yg terjadi, pastinya tetep seneng ya.

    Moga barang2 yang hilang, insyaallah dapet penggantinya kelak.

    ReplyDelete
  2. Acaranya bagus ya, Mbak. Penting lagi. Meski ada drama-drama yang penting berakhir bahagia dan berjalan lancar.

    ReplyDelete
  3. Gam2 sama Revolt unik bgt ya, paling suka yg tebak novel. Pengetehuan literasinya harus luas nih. kalo ikutan main pasti gk bakalan bs jawab :D

    ReplyDelete
  4. Meskipun banyak dramanya tapi berkesan ya, Mbak :)

    ReplyDelete
  5. Banyak bener drama yang dilalui ya mbak. Tapi jangan khawatir, pasti itu bakal jadi pelajaran berharga banget di kemudian hari. Nginap di sanggar? Wihh kapan lagi!

    ReplyDelete
  6. Yaa ampun...kebayang hebohnya bawa anak2 abg trus banyak dramanya

    ReplyDelete
  7. wah pengalaman yang gak bisa dilupakan tp dapat ilmu ya

    ReplyDelete
  8. Justru dengan drama yang terjadi, bikin perjalanan ini jadi tak hanya bermakna, tapi semakin indah untuk dikenang ya, Mba. :)

    ReplyDelete
  9. Waaaa acaranya seru ya mbak.. Ilmu yang didapat dari acara ini juga pasti bermanfaat banget nih... ^^

    ReplyDelete
  10. acaranya pasti seru banget ya mbaaak... udah lama enggak ikutan acara beginian

    ReplyDelete
  11. Seru, sedih juga udah bawa anak2 tapi nggak ada kepastian menginap di mana untung ada sanggar bu tjut yaa

    ReplyDelete
  12. gak apa2 mbak, belajar bersabar saat traveling.. nanti kalau udah pada dewasa dan traveling sendirian berguna kok..

    ReplyDelete
  13. Banyaaak amat dramanya. Jalan bareng anak sekolah gini harus sabar yaa menghadapi keluh kesah. Btw bagus deh ada workshop menulis untuk siswa supaya mereka bisa jadi blogger cilik *eh

    ReplyDelete
  14. Terima kasih partisipasinya, Bu Eni... 😁😁😁

    ReplyDelete