
Musim hujan telah tiba, banjir terjadi dimana-mana, ada tanah longsor dan bencara alam lainnya tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Lebih tepatnya saat ini di seluruh dunia sedang terjadi krisis iklim yang diakibatkan oleh manusia.
Kok manusia yang disalahin?
Sebagai manusia saya pun bertanya-tanya, apa iya bencana yang terjadi adalah ulah manusia? Kalau begitu saya ikut andil dong? Oh noooo …
Lha siapa lagi? Apa iya mau nyalahin ayam yang kotorannya menimbulkan efek rumah kaca. Ya tapi kan yang pelihara ayam tuh manusia. Udah nggak bisa disangkal lagi deh kalau krisis iklim yang terjadi karena kegiatan manusia yang berlebihan. Mulai dari penggunaan transportasi, proses industry, pembuangan sampah, penggundulan hutan, dan yang lain.
Kegiatan tersebut dapat memicu perubahan iklim yang terkait dengan peningkatan suhu bumi sehingga menyebabkan bencana alam.
Sistem pangan pun bisa menyebabkan krisis iklim loh. Kenapa? Karena sistem pangan saat ini menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan menyebabkan sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca.
Padahal kan makanan adalah kebutuhan setiap manusia karena sumber kehidupan dan sumber energi. Jadi, menyikapi krisis bisa juga ditinjau dari sisi makanan.
Makanan ramah iklim bisa jadi solusi dan menarik juga jika banyak yang tahu ya. Oleh karenanya Omar Niode Foundation menggelar webinar untuk mengenalkan makanan ramah iklim.

Dipandu oleh presenter acara kuliner Noni Zara, acara ini bertujuan meluncurkan e-book berjudul Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo karya Amanda Katili Niode dari Climate Reality Indonesia bersama Ahli Teknologi Pangan, Zahra Khan pada Minggu (14/02).
Hadir juga William Wongso (Pakar Kuliner), Zahra Khan (penyusun resep), Nicky Ria (Sobat Budaya), dan Amanda Katili dari Climate Reality Indonesia.
Beruntung sekali saya bisa menghadiri webinar yang bertujuan untuk mengenalkan ragam kuliner Gorontalo yang ramah iklim ini.
Daftar Isi
Tentang Omar Niode Foundation
Omar Niode Foundation merupakan sebuah organisasi nirlaba kecil yang turut berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, citra budaya, dan kuliner Nusantara, khususnya Gorontalo, di Indonesia dan mancanegara.
Omar Niode Foundation telah menerbitkan 15 buku, di antaranya Trailing the Taste of Gorontalo yang meraih Gourmand World Cookbook Award, Best of the Best 1995-2020 kategori Food Heritage dan menjadi kontributor Bab Indonesia pada buku At the Table. Food and Family around the World, yang juga memperoleh Gourmand Award.
Dalam melaksanakan berbagai kegiatannya, Omar Niode Foundation bekerja sama dengan individu maupun organisasi di dalam dan di luar negeri. Omar Niode Foundation aktif dalam organisasi food bloggers nasional maupun internasional, juga di Future Food Institute, Indonesia Bergizi, Jamie Oliver Food Revolution Day, Slow Food International, dan World Food Travel Association.
Apa Itu Makanan Ramah Iklim?
Tentunya kita ingin terus tinggal di Bumi kan? Mau kan masa depan yang sehat?
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi krisis iklim agar tidak terjadi banyak bencana?
Menurut Ibu Amanda, kita bisa menyikapinya sebagai individu ataupun organisasi. Misalnya nih kita bisa memulainya dari diri sendiri loh seperti mematikan lampu di siang hari. Atau menggunakan lampu Bardi seperti yang saya lakukan di rumah.
Lampu Bardi bisa disetting sesuai kebutuhan. Misalnya saat tidur tapi takut gelap ya cahaya bisa diredupkan. Bisa juga disetting untuk mati dan menyala pada waktu yang telah ditentukan sehingga enggak ada tuh drama lupa mematikan lampu.

Tidak hanya itu, kita juga bisa menghemat air meski bisa bayar. Pun ketika rumah kita dekat sumber air yang gratis, stop menggunakannya secara berlebihan. Boleh juga menampung air hujan untuk membersihkan kamar mandi. Sebisa mungkin hemat air lah pokoknya dalam kehidupan sehari-hari.
Nah, sudah saatnya juga kita pilih-pilih makanan yang lebih ramah iklim ya, teman-teman. Meskipun menjadi tantangan yang berat paling tidak kita bisa mengubah pola pikir untuk melestarikan lingkungan.

“Makanan ini pasti disukai semua orang dan juga sumber kehidupan. Karenanya menyikapi krisis ini kalau ditinjau dari sisi makanan pasti bisa diterima oleh banyak orang.” Begitu kata Ibu Amanda Katili dari Climate Change Reality.
Pola makan cerdas iklim memperbanyak konsumsi biji-bijian, buah-buahan dan sayuran dan mengurangi daging, sehingga emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan lebih sedikit.
Cara lain adalah membeli lebih banyak produk lokal dengan transportasi yang tidak terlalu jauh. Mengurangi limbah makanan juga berarti tidak melipatgandakan emisi GRK yang diambil untuk menghasilkan makanan yang benar-benar dikonsumsi.
Juga penting mengetahui apakah makanan diproduksi dengan menggunakan teknik pertanian cerdas iklim, yaitu strategi pertanian untuk mengamankan ketahanan pangan berkelanjutan dalam kondisi perubahan iklim.
– Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo-
Perlu dicatat nih teman-teman, kurangi daging ya bukan stop makan daging agar tidak sampai kekurangan gizi. Kebetulan saya pribadi kurang suka daging tapi juga bukan yang anti sama sekali. Saya percaya kita masih membutuhkan beberapa protein yang bersumber dari daging.
Habiskan Makananmu

Melalui acara yang digelar melalui zoom meeting ini, Ibu Amanda juga mengajak kita untuk tidak membuang-buang makanan.
Saya jadi teringat pada almarhum kakek …
Almarhum kakek saya punya kebiasaan menghabiskan makanan di piringnya sampai tandas. Kakek juga selalu mengingatkan ibu untuk menghabiskan makanan di piringnya saat makan. Pokoknya tidak boleh ada makanan tersisa. Kata kakek tidak boleh membuang-buang makanan walau sebulir nasi karena bisa jadi dalam satu bulir tersebut terdapat rezeki yang juga dinantikan orang lain.
Meskipun dulu kakek memelihara ayam sehingga makanan sisa bisa diberikan pada ayam, tapi kakek tetap punya prinsip untuk menghabiskan makanannya. Ayamnya dikasih makanan lain aja deh, jangan sisa-sisa makanan, kira-kira begitu maksud kakek.
Kebiasaan kakek saya ternyata menjadi salah satu kebiasaan positif dalam melestarikan lingkungan. Tidak hanya itu, kakek juga turut serta mengurangi penyebab pemanasan global.
Membuang makanan sama dengan membuang uang, tenaga, dan sumber daya seperti energi, lahan dan air yang digunakan untuk menghasilkan makanan. Membuang makanan juga meningkatkan emisi gas rumah kaca pemicu krisis iklim.
–Amanda Katili-
Makanan yang dibuang akan berujung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lalu saat makanan mulai mengurai atau membusuk, gas penyebab krisis iklim akan terlepas.
Bagaimana jika ditimbun?
Sisa makanan yang ditimbun bisa jadi kompos sih asalkan tidak dekat dengan air tanah. Limbah makanan yang membusuk dapat mencemari air tanah karena bakteri pembusuknya bisa menjadi pathogen.
Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan beberapa cara untuk mengurangi limbah makanan, antara lain:
- Tidak mengambil porsi makanan terlalu banyak,
- memanfaatkan sisa makanan, atau bagian tanaman yang biasa dibuang,
- berbelanja yang dibutuhkan saja termasuk sayur atau buah yang tidak sempurna bentuknya,
- menyimpan makanan dengan baik agar tidak mudah busuk,
- berbagi makanan dengan yang membutuhkan,
- menerapkan pembuatan kompos.
Perhatikan Juga Sampah Lainnya
Sebenarnya ada banyak faktor penyebab krisis iklim. Jika dilihat dari sisi makanan berarti ya mulai dari proses hingga makanan tersebut sampai ke meja makan untuk dikonsumsi.
Penting juga ya menghindari penggunaan plastik sekali pakai sebisa mungkin. Saya pun masih terus berusaha untuk bisa menerapkan 3R, Reuse, Reduce, Recicle.
Tapi saat ini banyak banget orang jual makanan secara online. Bahkan ada yang mengaku jika pendapatan meningkat saat pandemi karena banyak yang pesan makanan melalui aplikasi.
Nah, gimana tuh plastik pembungkusnya? Bahkan berlapis-lapis loh penggunaan plastik untuk membungkus makanan.
Peraturan dari pusat juga kurang deh kayaknya. Seperti pembayaran plastik kemasan di swalayan Rp.200. Memang angkanya terbilang kecil hanya dua ratus rupiah, tapi kan kalau dikumpulkan bisa banyak.
Coba kalau di Bali ya. Mereka sudah tidak mengunakan kantong plastik dan sedotan. Tapi itu terjadi hanya di kalangan masyarakat menengah ke atas. Mengapa? Ya karena karena sedotannya tuh harus diganti dengan yang ramah lingkungan.
Untuk masalah plastik ini saya pun sedang berjuang untuk menguranginya juga. Misalnya dengan membawa sendiri wadah saat berbelanja dan mengurangi penggunaan sedotan plastik.
Indonesia Memiliki 30ribu Jenis Kuliner, Benarkah?
Pada acara ini hadir juga Nicky Ria, ketua sobat budaya, yaitu sebuah komunitas non-profit yang berupaya melestarikan budaya tradisional Indonesia melalui Gerakan Sejuta Data Budaya (GSDB).
Bersama Sobat Budaya, Nicky melakukan pemetaan untuk mengetahui ketersedaan kuliner. Nah, Indonesia memiliki kurang lebih 30.000 jenis kuliner.
Sejak tahun 2007, Sobat Budaya berhasil mengumpulkan 70.000 –an, budaya dan masih bisa terus bertambah. Teman-teman bisa melihatnya juga di https://budaya-indonesia.org/

Hasil pencarian di Web Budaya Indonesia
Nicky juga mengatakan bahwa kuliner di Indonesia akan terus berkembang dan kita harus selalu punya cara untuk mendokumentasikannya. Ada sih hal yang belum diangkat yaitu penggunaan pembungkus.
“Mungkin kita harus melirik kembali ke belakang bahwa sebenarnya ada solusi dari jaman dulu,” kata Nicky.
Saya jadi ingat saat masih kecil diajak ke rumah nenek di Blitar. Saat beli pecel dibungkus dengan daun jati. Ada juga makanan lainnya dibungkus dengan daun pisang. Belum ada tas plastik atau kresek karena belanja ya pakai tas bambu atau digendong dengan selendang.
Ya, zaman dulu memang masyarakat masih belum mengenal aneka pembungkus makanan seperti saat ini.
Masakan Gorontalo yang Ramah Iklim

Berbicara tentang bungkus makanan, ada yang unik nih di Gorontalo. Menurut Zahra, penulis buku Memilih Makanan Ramah Iklim, di Gorontalo ada Pasar Seni Warga dimana masyarakatnya harus membawa botol minum, tempat makan, dan tas belanja sendiri. Unik ya … sekalian melestarikan lingkungan.
Oleh karena masih pandemi, warga juga menerapkan protokol kesehatan saat berkunjung ke pasar yang mirip dengan pasar papringan di Jogja ini. Selain itu belanjanya juga pakai tempurung kelapa sebagai pengganti uang.
Pas sekali ya karena uang tunai adalah salah satu media penyebar virus, tempurung kelapa adalah solusi pengganti uang. Selain juga membuat penjual tidak sibuk dengan uang kembalian.
Melalui Pasar Seni Warga ini, Zahra menegaskan bahwa masyarakat bisa mempromosikan hasil pertanian dan kuliner lokasl kepada pengunjung. Makanan khas Gorontalo pun dijual di Pasar Seni Warga seperti binte biluhuta, popolulu, diniyohu, ilabulo.

Banyak cara bisa digunakan untuk mengenalkan kearifan lokal ya. Selain melalui Pasar Seni Warga bisa juga melalui e-book resep. Seperti yang ditulis oleh Amanda Katili dan Zahra Khan ini.
Memang, tidak semua masakan Gorontalo itu ramah iklim. Tapi mayoritas sih tidak pakai minyak dan biasanya dibakar atau direbus sebentar. Kalau pun ada yang digoreng ya dengan minyak kelapa.
Hal ini saya ketahui dari adik ipar saya yang berdomisili di Gorontalo selama 7 tahun. Setelah menikah dengan orang Gorontalo adik saya pun menetap di sana.
Menurut dia, ada bumbu-bumbu yang biasanya kita rasa hanya di masakan tertentu. Misalnya jinten, kalau di Jawa kan untuk dendeng. Lha di Gorontalo, jinten dipakai hampir di semua masakan. Misalnya sayur nangka, ayam rica-rica itu juga pakai jinten. Lama kelamaan karena sudah terbiasa rasanya jadi makin sedap dan spicy.

salah satu makanan yang menggunakan jinten
Melalui e-book yang saya dapatkan setelah webinar ini, saya jadi tahu kalau ciri khas makanan Gorontalo itu kebanyakan berbasis ikan dan sedikit sayur. Ada sih tapi tidak terlalu beragam, kayak jantung pisang dan bunga papaya aja deh.
Adik ipar saya memang pernah bilang kalau di sana tuh kalau makan ya harus ada ikan. Kalau belum ada ikan ya rasanya belum makan gitu, hehehe. Jadi, ponakan saya (anaknya adik ipar) semua doyan ikan dan lagi disana tuh sayuran mahal, bisa 2-3 kali lipat harganya dari Pulau Jawa.
Buku ini benar-benar bisa mengenalkan makanan khas Gorontalo yang ramah iklim dan menegaskan bahwa makanan sehat itu tidak harus mahal.
Melalui buku tersebut Omar Niode Foundation ingin mengajak masyarakat memilih makanan ramah iklim. Menurut Sekretaris Omar Niode Foundation, Terzian Ayuba Niode sistem pangan berkontribusi besar terhadap krisis iklim yang sedang berlangsung di bumi. Sistem pangan saat ini menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan menyebabkan sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim.
Mengangkat Citra Kuliner Nusantara Melalui Pengenalan Budaya

Bapak William Wongso, Pakar Kuliner
Materi yang paling berkesan dan membuat saya antusias adalah dari Pak William Wongso, pakar kuliner, karena banyak menyajikan cerita dan gambar kuliner nusantara. Beliau ini mendukung upaya-upaya pelestarian budaya kuliner nusantara seperti yang dilakukan Omar Niode Foundation.
Menurut Pak William, memperkenalkan kuliner nusantara itu bukan hanya sekedar rasa, tapi harus disertai dengan pengenalan budaya sehingga bisa menarik.
“Di era sosial media dan internet seperti saat ini, satu hal yang tidak dapat kita lakukan adalah meng googling rasa, experience itu harus dicoba langsung. Tapi kita dapat menginformasikan budaya kuliner bangsa Indonesia yang beragam ini lewat internet, dan menarik orang untuk mencoba,” imbuhnya.
Misalnya saja sajian untuk VVIP yang pastinya berbeda dengan situasi penyajian di tempat lainnya. Harus terpacu pada penyajian cita rasa, jika tidak layak disajikan ya bubar. Oleh karenanya Pak William selalu mengambil makna cita rasa Indonesia yang disajikan dengan bahan lokal dengan kualitas terbaik.

Ikan goreng tepung dengan saus dari sup kenikir yang aromanya khas sekali

Sajian lengkap: Tornado Nusantara yang dilengkapi dnegan daging tenderloin yang baik, saus rendang, kremesan tempe, sayur, nasi kuning, udang koktail asinan Jakarta. Sausnya arsik batak disajikan dengan lobster
Setelah menyaksikan aneka kuliner yang disampaikan Pak William, saya auto mupeng nyicipin masakan Gorontalo.
Saya putuskan untuk mencoba resep yang ada di e-book deh, nanti saya cari yang bahannya mudah didapat.
Sebenarnya pengin banget nyobain menu Olamita Ikan Bakar Gorontalo yang juga dipresentasikan di webinar sore itu oleh Ihsan Averroes. Ya, pengusaha muda ini membuka restoran khusus menu Gorontalo di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.
Sayangnya di Kota Malang belum ada ya sehingga saya masih harus bersabar dengan mencoba sendiri mengolah makanan khas Gorontalo bersumber dari e-book resep yang telah saya dapatkan.
Untuk sementara yang masih sering saya masak adalah dabu dabu sagela atau sambel roa khas gorontalo. Adik ipar saya beberapa kali pernah mengirimi saya ikan roa dan pernah mengajari saya bikin sambal roa. Rasanya nikmat dan mantap.
Kesimpulan
Menjaga kelestarian lingkungan adalah tugas kita semua yang masih ingin hidup di bumi. Banyak cara yang bisa kita terapkan untuk mencegah krisis iklim agar tidak berdampak lebih pada kehidupan. Salah satunya dengan mengubah pola makan menjadi ramah iklim.
Sekedar berubah saja tidak cukup, kita butuh berubah lebih baik, dan lebih baik.
