Thursday, May 04, 2017

SD hingga PT, Mana yang Paling Berkesan?

 Selamat Hari Pendidikan Nasional! (Eh, udah telat ya?)

Setiap kali memperingati hari pendidikan nasional, saya selalu teringat kala masih SD. Mengapa? Entahlah, mungkin karena Sekolah Dasar adalah tempat mengenyam pendidikan paling lama. Meskipun samar karena sudah puluhan tahun lamanya. Kalau ketemu teman SD saya suka lupa namanya, meskipun wajahnya teringat di benak. Kadang sampai malu karena disapa tapi mau balas menyapa gak hafal namanya, hahaha.



Jenjang Pendidikan di Indonesia

Seperti kebanyakan negara, jenjang pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan dasar, lanjutan, dan perguruan tinggi. Namun, jenjang pendidikan di Indonesia dibagi berdasarkan kelompok usia untuk memudahkan pengelompokan dan pencapaian target yang telah ditentukan dalam sebuah kebijakan. Setahu saya sih, jenjang pendidikan formal yang wajib ditempuh oleh setiap anak di Indonesia adalah pendidikan dasar dan menengah selama 9 tahun, atau biasa disebut wajib belajar 9 tahun.

Terdiri dari pendidikan dasar selama 6 tahun (SD) dan pendidikan menengah selama 3 tahun (SMP). Tapi rasanya kalau belum sekolah sampai SMA kok belum afdol ya? Lha sekarang hampir semua pekerjaan membutuhkan ijasah SMA (yang butuh ijasah lho). Sampai ada yang nyeletuk, "ijasah SD mau kerja apa? Paling jadi kuli." Kecuali kalau mau berwirausaha, banyak wisausahawan yang tidak lulus SD tapi bisa jadi jutawan. Semua kembali kepada pribadi masing-masing.

Kembali pada pembahasan, jenjang pendidikan memang sama dengan negara lain. Tapiii... sistemnya yang berbeda. Hampir di tiap negara punya sistem yang berbeda, misalnya di Finlandia dan Jepang, memiliki jenjang pendidikan sama dengan Indonesia namun tidak ada sistem ujian. Jadi siswa yang telah menyelesaikan proses belajar secara otomatis naik ke tingkat selanjutnya. Ini yang saya suka, tidak ada sistem ujian. Seandainya di Indonesia bisa seperti ini... *berkhayalmodeON

Yang paling berkesaan ...

Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengenyam semua jenjang pendidikan formal di Indonesia, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Bagi saya, masing-masing jenjag pendidikan memiliki kesannya masing-masing. Tapi pastinya ada dong yang paling berkesan, entah itu kesan buruk atau kesan menyenangkan.

Sekolah Dasar, Saat Berbagi Kebahagiaan Masa Kecil
Masa SD adalah masa-masa masih cupu, lugu, dan rasa malu bagaikan utopia (antara ada dan tiada, hihihi). Jujur waktu SD saya itu culun banget, malu rasanya mengingat masa-masa SD. Bercanda tanpa batas dengan teman-teman, mulai dari duduk di lantai tanpa takut kotor/najis, makan bakso bersama sampai keluar ingus (iih, kalau sekarang malu kali ya, wkwkwkw).

Foto Saat masih SD
Namun, saat SD adalah masa dimana saya punya banyak teman. Belum mengenal genk/kelompok, gak kayak sekarang ada genk motor, genk kekinian, genk tukan makan, genk berprestasi, dan masih banyak lagi genk yang lain. Wuuaahh... kalau jaman saya dulu semua berteman, cowok-cewek sama tidak ada batasan. Belum mengenal cinta (mungkin karena belum ada sinetron), kalaupun jatuh cinta saat SD paling cuman kirim-kiriman surat, mau ketemu aja malu. Hahaha

Sekolah Menengah Pertama, Pertama Kali Kumengenal Lelaki Ganteng
Iya, beneran lho. Saat SD kayaknya semua cowok wajahnya rata-rata (bagi saya), gak ada yang cakep. Nah, setelah SMP barulah saya melihat banyak anak yang kinclong, ganteng, kinyis-kinyis. Hehehe... Tapi tetep, saya tidak berani menyukai seseorang. Bukan karena takut jatuh (karena cinta), bukaaan, tapi saya tidak PD, saya kuper, dan cuek (sampai-sampai moto hidup saya "cuex is the best", astaghfirullah...).

Bagi saya berbicara dengan orang lain adalah kemustahilan. Mungkin karena saya harus berpisah dengan teman-teman SD. Jenjang SMP adalah saat yang tidak memiliki kesan kecuali saya pernah meraih juara 3 saat kelas 3 SMP (itu saja). Rasanya mengalir bagaikan air dan PLASSHH!!! Hilang begitu saja. Namun ada satu yang selalu teringat di benak, saat teman sebangku saya (kelas tujuh, cowok, ganteng pula) menyapa dengan suara lantang ketika saya beranjak meninggalkan angkot yang kami tumpangi dengan memanggil "ENIIII" dan melambaikan tangan. Whuaaaa... hati saya berbunga-bunga seketika (bukan karena CINTA). Hahahaha... NORAKnya saya.

Sekolah Menengah Atas, Tiada Kisah Kasih di Sekolah
Masih ingat kan sinetron yang diperankan oleh Marshanda berjudul Kisah kasih di Sekolah. Hampir semua orang percaya bahwa SMA adalah masa-masa paling indah, ada kisah kasihnya (bukan kisahnya "Kasih" lho ya!!). Tapi tidak dengan saya yang tidak pernah percaya hal itu. Meskipun dengan mata kepala sendiri saya melihat banyak cowok nembak cewek di jenjang SMA.

Kenapa? Karena saya merasa tidak cantik sehingga tidak mungkin ada yang mau pacaran dengan saya. Huhuhuuuu... Klise! #Plaak. Merasa tertampar deh jika bicara masa SMA. Soal prestasi? masih sama seperti SD dan SMP, biasa saja. Tidak terlalu pintar tapi juga gak terlalu o-on, sedang-sedang saja. Persahabatan? Nah, ini yang membuatku berkesan. Punya teman yang baik, meskipun sekarang udah pada bubar. Teman yang mau menerimaku apa adanya, tidak pilih kasih, dan yang terpenting bersama-sama merasakan suka dan duka. Ceileee...

Bersama mereka saya bisa tertawa lepas, saling mengucapkan "met ultah", dan yang terpenting JOMBLO bareng. Wkwkwkwk.... Entah kenapa kami tidak ingin pacaran. Kami lebih suka membahas buku Harry Potter yang saat itu sedang booming, atau nonton film Mohabattein dan nangis bombay bersama. Seru deh pokoknya #inginterulangkembali.

Kuliah, Bagaikan Kepompong, dari Ulat Menjadi Kupu-kupu
 Entah bagaimana awalnya, saya berubah drastis saat kuliah. Saya yang introvert menjadi ekstrovert, jadi lebih suka buka-bukaan. Saya yang ogah ikutan lomba jadi antusias memperebutkan juara. Saya yang lebih suka mengurung diri di kamar jadi suka nge-mall (just window shopping ya, wkwkwk). Saya yang tidak suka berbicara dengan cowok, mendadak punya banyak teman lelaki.

Saat KKL ke Jakarta (Saya sebagai sekretaris, lhoo!! #bangga)
Rasanya saya baru saja keluar dari kempompong dan berubah menjadi kupu-kupu, terbang bebas. Saya suka mengikuti lomba-lomba menulis di fakultas dan universitas. Saya keranjingan mengikuti training (apalagi gratis) dan mengumpulkan berbagai sertifikat/piagam. Pokoknya teman lama yang menemui saya pasti bilang "Kau Bukan yang Dulu Lagi", hahaha kayak judul lagu.

Jadi jika ditanya, SD hingga PT, mana yang paling berkesan, jawaban saya adalah tiap jenjang punya kesan masing-masing. 😂😂. Kalau kamu? Mana yang paling berkesan?






8 comments :

  1. Kalau aku paling berkesan ya pas tk. Soale ga ada ulangan. Bwahahahahha

    ReplyDelete
  2. Aku gak sempat kuliah, pdhl dulu kerja ke Hong Kong niatnya nabung buat kuliah. Tapi berbakti sama ortu lbh kuat ketimbang ambisi kuliah, jd gaji kerja buat bantu ortu dn bayarin sekolah adik.
    Jenjang pendidikan yg berkesan ? Semuanya punya kesan tersendiri :D
    Sekarang ijasah msh jd patokan buat lowongan kerja selain skill. Ijasah kuliah pun dilihat dlu lulusan universitas apa dn akreditasinya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sayang sekali ya mbak gak bisa kuliah, tapi mulia sekali mbak bisa menyekolahkan adik. Iy,ijazah masih jd yang pertama

      Delete
  3. saat SMA duh serud an suka usilin temen, seru karena muridnya cewek semua jadi mau ngapain saja gak malu

    ReplyDelete
  4. wkwkwkw SD nya gitu amat ya mbak :D sama aja sih, aku juga SD ingusan. biasanya sih gitu.. pas SD sampe SMA culun, eeeh... pas udah kuliah jadi berubah drastis, dari makin cantik, makin bisa membawa diri, ga pemalu lagi :)
    salam kenal ya mbak.. ^^

    ReplyDelete
  5. kalau aku pas SMA ...
    karena bisa main sepuasnya, wkwkwkwk

    ReplyDelete
  6. Kalau aku jelas waktu SD. Banyak gak bisa dijelasin kenapa, tapi intinya itu masa polos2nya dan paling berkesan.

    ReplyDelete